Menu
Sign in
@ Contact
Search

Perlambatan Ekonomi Tiongkok Sumber Kekhawatiran Global

Rabu, 10 Juni 2015 | 09:38 WIB
Oleh Iwan Subarkah dan Happy Amanda Amalia (redaksi@investor.id)

Sesungguhnya perlambatan ekonomi Tiongkok bukan hal yang harus ditakutkan. Dengan tingkat pertumbuhan saat ini saja masih membuat iri sebagian besar negara di dunia. Pada laju tercepatnya pun, perekonomian AS hanya bisa tumbuh 5%.

 

Itu terjadi hanya pada satu kuartal selama satu dekade terakhir. Tapi, perlambatan itu tetap menjadi sumber kekhawatiran global. Soalnya, perlambatan ekonomi Tiongkok lebih buruk dibandingkan perkiraan. Sampai 2012, Dana Moneter Internasional (IMF) dan lembaga-lembaga lain memproyeksikan pertumbuhan tahunannya di atas 8% hingga 2017.

 

Tapi, dalam proyeksi terbarunya, IMF memangkas target pertumbuhan ekonomi Tiongkok menjadi 6,8% untuk 2015 dan 6,3% untuk 2016. Deselerasi pertumbuhan Tiongkok itu menjadi salah satu penyebab aksi jual besar-besaran komoditas global selama dua tahun terakhir, dari bijih besi hingga batubara. Ada kekhawatiran kondisi itu akan bergerak lebih liar.

 

Secara sederhana, tidak bisa dibantah bahwa laju pertumbuhan rata-rata 10% sepanjang tiga dekade itu pada akhirnya akan turun. Hukum angka-angka besar – meski secara finansial, bukan statistik-- berlaku terhadap Negara dan korporasi. Hukum ini menyatakan, semakin besar perekonomian, semakin sulit untuk mempertahankan laju pertumbuhan yang pesat.

 

Pertumbuhan ekonomi 7% tahun ini bagi Tiongkok akan menghasilkan tambahan produksi dibandingkan pertumbuhan 14% pada 2007. Secara struktur, perekonomian negara ini dihadapkan pada sejumlah tantangan. Dalam jangka panjang, pertumbuhan adalah fungsi dari perubahanperubahan dalam ketenagakerjaan, modal, dan produktivitas.


Ketika ketiganya meningkat, sebagaimana terjadi di Tiongkok selama itu, tingkat pertumbuhan menjadi superlatif. Tapi, ketiganya sekarang melambat. Populasi penduduk usia produktif Tiongkok mencapai puncaknya pada 2012. Investasi juga sudah mencapai puncaknya, yakni 49% dari PDB, dan ini angka yang hanya bisa dicapai segelintir negara di dunia.

 

Terakhir, ketimpangan teknologi Tiongkok dengan negara-negara kaya makin sempit. Artinya, tingkat produktivitas juga menjadi turun. Tren-tren belakangan ini juga menjelaskan perlambatan tajam ekonomi Tiongkok. Yang terbesar adalah lonjakan utang. Total utang – termasuk utang pemerintah, rumah tangga, dan swasta – melonjak menjadi sekitar 250% terhadap PDB dan utang ini sudah naik 100 poin persentase sejak 2008. Utang tersebut memang pernah membantu perekonomian Tiongkok melewati krisis finansial global 2008. Tapi, beban pelunasannya juga menjadi sangat berat.

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/international/sebagian-besar-kredit-ke-sektor-properti/118650

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com