Menu
Sign in
@ Contact
Search

Tiongkok Tersandung, Tapi Tidak akan Jatuh

Rabu, 10 Juni 2015 | 09:44 WIB
Oleh Iwan Subarkah dan Happy Amanda Amalia (redaksi@investor.id)

JAKARTA – Tiongkok dipercaya tidak akan lagi mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit sebagaimana terjadi selama tiga dekade pada era 1990-an hingga 2010. Tapi, kecil kemungkinan perlambatan saat ini berlangsung permanen. Tiongkok diibaratkan sedang tersandung, tapi tidak akan jatuh tersungkur.

Negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia dan motor pertumbuhan global ini masih memiliki ruang sangat luas untuk terus tumbuh. Namun, karena statusnya itu pula seluruh dunia khawatir perlambatan akan berimbas ke negara masing-masing. Pada 2014, Tiongkok mencatat laju pertumbuhan ekonomi 7,4%, di bawah target resmi sekitar 7,5% dan merupakan laju paling lambat dalam 24 tahun.

Hingga menjelang pertengahan tahun ini, perekonomian Tiongkok tidak banyak menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) melambat jadi 7,0% pada Januari-Maret 2015 atau merupakan hasil kuartalan terburuk dalam enam tahun.

Target pertumbuhan tahun ini pun dipangkas menjadi 7%. Bila tercapai, itu akan menandakan ekspansi terendah selama lebih dari dua dekade. Data-data terbaru mengindikasikan target tersebut susah dicapai.

Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) pada Selasa (9/6) mengumumkan, laju inflasi pada Mei 2015 turun menjadi 1,2%. Indeks harga konsumen (IHK) turun dari 1,5% pada April. Laju inflasi ini juga tidak mencapai perkiraan rata-rata ekonom sebesar 1,3%, berdasarkan hasil survey Bloomberg News. Laju inflasi di Tiongkok lemah karena pertumbuhan melambat dan harga-harga komoditas merosot. Ini mendorong sejumlah ekonom membuat perkiraan bahwa Negeri Tirai Bambu bisa tergelincir ke dalam siklus deflasi.

 

Kekhawatiran terjadinya deflasi telah berkembang sejak Januari, ketika IHK menyentuh titik terendah sejak akhir 2009. Kemudian muncul seruan kepada pihak berwenang untuk mengambil tindakan pencegahan tren penurunan harga barang, yang bisa menghambat belanja konsumen dan pertumbuhan. Angka-angka inflasi itu keluar sehari setelah data menunjukkan penurunan impor selama tujuh bulan berturut-turut pada Mei 2015.

 

Begitu juga dengan ekspor yang ikut merosot. Badan Kepabeanan Umum Tiongkok melaporkan, impor merosot 17,6% dibandingkan Mei tahun sebelumnya menjadi US$ 131,26 miliar. Penurunan impor itu lebih tajam dibandingkan perkiraan rata-rata kalangan ekonom sebesar 10%. Kemerosotan impor pada Mei itu menyusul penurunan 16,2% pada April.

 

Badan itu menambahkan, ekspor turun tiga bulan berturut-turut, yakni 2,5% menjadi US$ 190,75 miliar pada Mei. Tapi, hasil ekspor masih lebih baik dari estimasi rata-rata ekonom yang memperkirakan penurunan sebesar 4%.

 

Dengan terjadinya penurunan impor secara tajam, surplus perdagangan Tiongkok melebar menjadi 65,6% secara tahunan menjadi US$ 59,49 miliar. Dari sisi yuan, impor turun 18,1%, ekspor turun 2,8%, dan surplus perdagangan naik 65,0%. “Data perdagangan Mei menunjukkan permintaan eksternal maupun domestik tetap lemah,” kata Julian Evans-Pritchard, analis perusahaan riset Capital Economics.

 

Pelemahan diperkirakan berlanjut pada kuartal saat ini meskipun pemerintah mengintensifkan langkah-langkah stimulus. Para ekonom Nomura menyebutkan, melemahnya inflasi IHK mencerminkan masih lemahnya permintaan dan menyisakan ruang bagi pelonggaran kebijakan lebih lanjut. Pemerintah Tiongkok sedang mengubah model pertumbuhan dari berbasis ekspansi menjadi berbasis belanja konsumen, dengan harapan laju pertumbuhan lebih berkelanjutan.

 

NBS mengungkapkan, indeks harga produsen (IHP) anjlok 4,6% pada Mei. Penurunan ini sama seperti pada April dan merupakan penurunan ke-39 berturut-turut. Para ekonom Nomura memperkirakan dua penurunan suku bunga dan dua kali lagi pemangkasan giro wajib minimum (GWM) perbankan sepanjang sisa tahun ini. Langkah berikutnya kemungkinan besar terjadi pada Juli 2015.

 

Bank Sentral Tiongkok atau People’s Bank of China (PBoC) sudah tiga kali menurunkan suku bunga sejak November 2014 dan berusaha meningkatkan arus pinjaman dengan dua kali menurunkan GWM. Kepala ekonom JP Morgan Tiongkok Zhu Haibin mengatakan, penurunan suku bunga lebih lanjut kemungkinan tergantung data utama Mei, yakni produksi industri, penjualan ritel, dan investasi aset tetap, yang akan dirilis pada Kamis (11/6).

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/international/perlambatan-ekonomi-tiongkok-sumber-kekhawatiran-global/118653

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com