Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivis Wai Moe Naing (tengah) berjalan dengan pengunjuk rasa lain dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Monywa, wilayah Sagaing, pada 28 Maret 2021. ( Foto: Handout / FACEBOOK / AFP )

Aktivis Wai Moe Naing (tengah) berjalan dengan pengunjuk rasa lain dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Monywa, wilayah Sagaing, pada 28 Maret 2021. ( Foto: Handout / FACEBOOK / AFP )

12 Menhan Ramai-ramai Kecam Pertumpahan Darah di Myanmar

Senin, 29 Maret 2021 | 06:12 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

YANGON, investor.id – Para menteri pertahanan dari 12 negara – termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, dan Australia – pada Minggu (28/3) ramai-ramai mengecam pertumpahan darah yang kembali terjadi dalam kudeta Myanmar, Sabtu (27/3). Mereka mengutuk penggunakan kekuatan mematikan yang dilakukan militer Myanmar terhadap warga negara sipil.

“Seorang militer profesional mengikuti standar perilaku internasional dan bertanggung jawab untuk melindungi – bukan merugikan – masyarakat yang dilayaninya. Kami mendesak Angkatan Bersenjata Myanmar menghentikan kekerasan, dan bekerja untuk memulihkan rasa hormat dan kredibilitas dengan rakyat Myanmar yang telah hilang akibat tindakannya,” demikian bunyi pernyataan bersama yang dikeluarkan 12 menhan, yang dikutip AFP.

Seperti diberitakan sebelumnya, Myanmar sedang berada dalam kekacauan sejak para jenderal menggulingkan, dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi yang berujung pada aksi protes massa menuntut kembalinya demokrasi.

Di sisi lain, Junta juga sempat memperingati Hari Ulang Tahun Angkatan Bersenjata pada Sabtu, di saat jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi sedikitnya 423 jiwa sejak kudeta dimulai 1 Februari. Demikian disampaikan kelompo pemantau global.

Sedikitnya 90 orang – termasuk beberapa anak – pun dilaporkan tewas setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa anti-kudeta.

Sejumlah prosesi pemakaman tampak digelar pada Minggu untuk beberapa korban, menyusul peristiwa berdarah yang dimulai saat terjadi kudeta.

Di Mandalay, keluarga Aye Ko – ayah empat anak – tengah berduka saat menjalani misa setelah sang kepala keluarga tewas dibunuh semalam.

“Kami diberitahu oleh para tetangga, bahwa Aye Ko ditembak dan di lempar ke dalam api. Dia satu-satunya pencari nafkah keluarga, kehilangan dia adalah kerugian besar bagi keluarga,” ujar salah seorang kerabatnya kepada AFP.

Meski ada bahaya yang mengintai, para pengunjuk rasa tetap turun kembali ke jalan-jalan di beberapa wilayah Yangon, termasuk Hlaing, dan di kota Dawei, Bago dan Monywa.

“Seorang gadis ditembak di kepala dan meninggal di rumah sakit. Sementara dua pria ditembak mati di tempat,” ungkap seorang petugas penyelamat dari Monywa kepada AFP.

Sedangkan di Hlaing, seorang anak laki-laki berusia 16 tahun kehilangan tangan karena terkena ledakan granat saat mencoba melemparkan ke pasukan keamanan yang memukuli pengunjuk rasa. Demikian ditambahkan oleh petugas penyelamat.

Tidak Berperikemanusiaan

Menurut kelompok pemantau lokal Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik atau Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), sehari sebelumnya, aksi kekerasan meletus di seluruh negeri karena pihak militer menggunakan peluru tajam di sembilan wilayah, termasuk kota terbesar Yangon. Bahkan saat matahari terbenam, AAPP menyebutkan sedikitnya 90 orang telah tewas.

Namun, media lokal melaporkan bahwa jumlah korban yang tewas lebih tinggi, yakni 114 jiwa.

“Pasukan Junta menembakkan senapan mesin ke daerah pemukiman, mengakibatkan banyak warga sipil, termasuk enam anak berusia antara sepuluh dan enam belas tahun, tewas. Fakta bahwa rezim militer tidak sah menargetkan anak-anak adalah tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan,” ujar AAPP.

Sementara itu, para pemberontak di negara bagian Karen di Myanmar timur menyatakan menjadi sasaran serangan udara pada Sabtu malam, selang beberapa jam setelah kelompok etnis bersenjata itu merebut pangkalan militer.

Hsa Moo, seorang etnis Karen dan aktivis hak asasi manusia (HAM), mengatakan tiga orang tewas dan sedikitnya delapan lainnya luka-luka.

Menurut dia, itu adalah serangan udara pertama dalam 20 tahun di negara bagian tersebut, dan menargetkan Brigade Kelima Persatuan Nasional Karen (KNU) – salah satu kelompok bersenjata terbesar di negara itu – yang menyatakan mewakili etnis Karen. Namun tidak ada komentar Junta, dan tidak ada konfirmasi resmi tentang adanya korban serangan udara.

Bahayakan Ketenteraman

Pemimpin junta Jenderal Min Aung Hlaing menegaskan membela aksi kudeta dan berjanji menyerahka kekuasaan setelah pemilihan umum (pemilu) baru digelar. Hal ini disampaikan di sela-sela pawai akbar pasukan dan kendaraan militer di Naypyidaw dalam rangka memperingati HUT Angkatan Bersenjata pada Sabtu, untuk mengenang dimulainya perlawanan negara terhadap pendudukan Jepang selama Perang Dunia II. Umumnya, acara ini menampilkan parade militer yang dihadiri oleh perwira dan diplomat militer asing.

Jenderal Min Aung Hlaing juga mengeluarkan ancaman terhadap gerakan anti-kudeta, sekaligus memperingatkan bahwa tindakan terorisme yang dapat membahayakan ketenangan dan keamanan negara tidak dapat diterima.

Sedangkan Kedutaan Besar AS di Yangon mendesak warga Amerika untuk membatasi mobilitasnya pada Minggu, sehari setelah pusat kebudayaan AS di kota itu ditembaki.

“Jika Anda harus bepergian, bergeraklah dengan hati-hati dan pastikan Anda memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang yang Anda cintai saat bepergian," cuit Dinas Kependudukan Amerika (American Citizen Services).

Semalam, di kontes kecantikan Miss Grand International di Bangkok, peserta dari Myanmar Han Lay tampak menangis dan memohon tercipta perdamaian.

“Saya sangat merasa kasihan pada semua orang yang kehilangan nyawa di jalanan. Tolong bantu Myanmar, kami membutuhkan bantuan internasional Anda yang mendesak sekarang,” katanya dalam pidato emosional, sebelum menyanyikan lagu Heal the World milik Michael Jackson.

Sementara itu, Kedutaan Besar Myanmar di London pada Minggu mengonfirmasi bahwa duta besar telah bertemu dengan putra bungsu Suu Kyi, Kim (44 tahun) pada lalu, yang meminta berbicara dengan ibunya melalui telepon.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN