Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi akses internet untuk belajar daring. ( Foto: corpblog.viasat.com / Getty Images )

Ilustrasi akses internet untuk belajar daring. ( Foto: corpblog.viasat.com / Getty Images )

1,3 Miliar Anak Usia Sekolah Tidak Miliki Akses Internet

Rabu, 2 Desember 2020 | 06:39 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Laporan United Nations Children's Fund (UNICEF) pada Selasa (1/12) menyampaikan, terdapat sekitar dua per tiga atau 1,3 miliar anak usia sekolah di seluruh dunia yang tidak memiliki jaringan internet di rumahnya. Akses daring (online) tersebut kini menjadi hal penting untuk mendapat pendidikan yang layak, mengingat banyak sekolah yang harus ditutup untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19.

Menurut laporan gabungan UNICEF dan International Telecommunication Union (ITU), secara keseluruhan, diperkirakan 1,3 miliar anak berusia antara tiga dan 17 tahun tidak memiliki koneksi internet di rumah mereka.

Laporan tersebut juga menemukan kurangnya akses di antara kalangan remaja dan dewasa muda, di mana sekitar 63% orang berusia 15 hingga 24 tahun tidak memiliki koneksi internet di rumah. “

“Dengan begitu banyak anak dan remaja yang tidak memiliki internet di rumah maka situasi ini lebih dari sekadar celah digital, ini adalah jurang digital. Kurangnya konektivitas mencegah kaum muda untuk bersaing dalam ekonomi modern. Hal itu bakal mengisolasi mereka dari dunia,” ujar Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam sebuah pernyataan, yang dikutip AFP.

Fore mengungkapkan, laporan temuan itu sangat mengkhawatirkan. Pasalnya sekolah-sekolah ditutup karena pandemi Covid-19 masih meluas, dan memaksa ratusan juta siswa bergantung pada pembelajaran secara virtual.

“Terus terang: Kurangnya akses internet merugikan masa depan generasi berikutnya,” pungkas dia.

Laporan tersebut memperingatkan, bahkan sebelum pandemi melanda, kesenjangan digital yang ada telah memperdalam ketidaksetaraan. Hal ini memungkinkan anak-anak dari golongan rumah tangga termiskin dan dari pedesaan atau negara-negara berpenghasilan rendah bakal semakin tertinggal dari teman-teman sebaya mereka, karena memiliki sedikit kesempatan untuk mengejar ketinggalan.

Tantangan Berat

Laporan menemukan, bahwa kurang dari satu dari 20 anak usia sekolah di negara berpenghasilan rendah yang memiliki akses ke internet di rumah, dibandingkan sembilan dari 10 di negara kaya.

Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan adalah wilayah di mana anak-anak paling tidak bisa memperoleh akses daring. Bahkan hanya sembilan dari 10 anak yang tidak memiliki akses internet di rumah.

Di samping itu, ada perbedaan yang jelas antara akses internet di kota besar dan di pedesaan. Sebanyak 60% anak-anak yang tinggal di lingkungan perkotaan tidak memiliki koneksi internet di rumah, dibandingkan dengan 75% anak di daerah pedesaan.

“Untuk membuat koneksi bagi penduduk pedesaan masih menjadi tantangan yang berat,” kata Kepala ITU Houlin Zhao dalam pernyataan.

Laporan tersebut juga memperingatkan, kendati ada koneksi internet di rumah, anak-anak mungkin tidak bisa benar-benar mengakses secara daring. Hal ini memberikan tekanan kepada mereka untuk melakukan pekerjaan rumah atau bekerja, akibat minimnya perangkat yang memadai di rumah.

Bahkan, diketahui jika anak perempuan lebih sedikit memperoleh akses ke internet daripada anak laki-laki. Namun, kedua badan di bawah naungan Perserikaan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut tidak memiliki angka spesifik yang menunjukkan perbedaan akses internet antara anak perempuan dan anak laki-laki. Data mereka hanya menunjukkan adanya perbedaan yang jelas tentang kemudahan antara pria dan wanita secara keseluruhan untuk memiliki akses daring.

Di seluruh dunia, tercatat ada 55% pria dan 48% wanita menggunakan internet pada 2019. Tetapi perbedaannya jauh lebih mencolok di negara-negara berpenghasilan rendah dan di wilayah-wilayah yang lebih miskin. Di Afrika, misalnya, 37% pria dan anak laki-laki dan hanya 20% wanita dan anak perempuan yang menggunakan internet pada tahun lalu. Demikian menurut data ITU. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN