Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Amankan Dana di Safe Haven

Senin, 4 September 2017 | 15:15 WIB

Pada saat terjadi krisis atau ketidakpastian seperti ini, para investor biasanya mengamankan dananya di safe haven-safe haven seperti mata uang franc Swiss, emas, atau dolar AS. Tapi hingga satu semester masa pemerintahan Trump, greenback terus melemah, terutama terhadap euro.



Prestise dolar AS pun dipertanyakan karena nilai tukarnya melemah, pada saat para kompetitornya seperti euro dan renminbi atau yuan menguat. Sekalipun kinerja ekonomi AS sangat baik dan The Fed memberi isyarat akan menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi di tahun ini, para investor resah karena tidak tahu kapan dan bagaimana kebijakan tersebut akan dijalankan.



Trump juga belum memberi penjelasan lebih lanjut mengenai rencana reformasi pajak --kendati Mnuchin mengatakan diharapkan keluar akhir tahun ini-- dan rencana belanja infrastruktur. Sedangkan dalam beberapa pekan ke depan, --jika Kongres tidak menyetujui kenaikan pagu utang pemerintah-- pemerintah AS dihadapkan pada kemungkinan kehabisan dana operasional bagi lembaga-lembaga federal, sehingga layanan-layanannya berpotensi terhenti atau dikenal sebagai government shutdown.



Ada diskusi jangka pendek mengenai kapan pemangkasan balance sheet akan dilakukan. Itu satu sisi. Yang satunya adalah mengenai pengurangan program pembelian aset,” ujar Didier Saint-George, anggota Investment Committee dari Carmignac, kepada CNBC, mengenai langkah-langkah berikutnya dari The Fed.



Bank Sentral AS tersebut dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada 21-22 September 2017. Spekulasi yang antara lain sudah beredar di pasar finansial adalah mengenai petunjuk naik lagi atau tidaknya suku bunga acuan AS di tahun ini. The Fed sudah menaikkannya dua kali tahun ini.



Tapi yang lebih fundamental dan menjadi pembahasan global adalah soal nilai tukar. Jika Anda seorang alokator aset global, status dolar AS benar-benar dipertanyakan. Apakah statusnya masih sama seperti tahun-tahun yang lampau? Dari sisi strategis, saya bisa melihat status dolar AS menurun dan itu akan menguntungkan euro, bahkan mungkin juga mata uang Tiongkok,” papar Saint-George.



Di satu sisi, Saint-George memperkirakan indeks dolar tidak kembali ke level 80, tapi sangat berpotensi turun dari levelnya saat ini di kisaran 92,425.



Setelah Korut meluncurkan rudal hingga melintasi langit Jepang pada pekan lalu, muncul kekhawatiran terjadi konflik besar. Alhasil, euro untuk pertama kalinya sejak Januari 2015 menembus level US$ 1,20.



Dolar dan Treasury AS biasanya merupakan aset safe haven. Tapi saat ini tidak ada yang betul-betul ingin memiliki dolar,” ujar Brad Bechtel, kepala transaksi valas Jefferies, akhir pekan lalu. (bersambung)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/trump-masih-kesulitan-loloskan-agendanya/164817

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN