Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dolar AS Reserve Currency Dunia

Senin, 4 September 2017 | 15:18 WIB

Dolar AS menyandang status sebagai reserve currency dunia karena suhu politik AS selaku bangsa termakmur di dunia stabil. Nilai tukar dolar AS mulai menanjak pada Mei 2014, tatkala The Federal Reserve (The Fed) atau bank sentral AS mengurangi program quantitative easing (QE) atau disebut tapering.



The Fed ketika itu mengisyaratkan suku bunga jangka pendek akan naik dari level nol sehingga indeks dolar AS naik dari 78,93 menjadi di atas 100 dalam rentang waktu 10 bulan. Selama 20 bulan berikutnya, dolar AS berkonsolidasi antara 92 dan 100 dan menyentuh level tertinggi sejak akhir 2002 setelah Trump terpilih sebagai presiden, bahkan sempat menyentuh level 103,815 pada hari-hari pertama Januari 2017.



Jika pada April 2017 Trump mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa dolar AS sudah terlampau kuat, pada bulan lalu ia berkomentar kepada media yang sama bahwa dirinya memilih dolar yang tidak terlalu kuat.



Keinginan Pemerintah AS agar dolar AS tidak terlalu kuat ini tercermin dalam komentar terbaru Mnuchin. Ia mengatakan, pemerintah konsisten menyatakan bahwa level jangka pendek dari greenback tidak merisaukan.


Dalam jangka panjang, kekuatan dolar AS adalah indikasi statusnya sebagai reserve currency dan kepercayaan orang-orang terhadap perekonomian AS,” ujar Mnuchin.



Ia juga mengatakan kepada CNBC bahwa pemerintah memiliki rencana perpajakan yang sangat rinci dan sangat optimistis terhadap prospeknya untuk disetujui akhir tahun ini. Kongres AS akan kembali dari reses musim panas pada pekan ini dan Trump dijadwalkan bertemu dengan para anggota Kongres dari kedua partai, Republik maupun Demokrat.



Namun begitu, perekonomian AS dan juga dunia sedang dihadapkan pada ketegangan-ketegangan geopolitik beserta risiko-risiko yang dikandungnya. Suhu politik di Semenanjung Korea, misalnya, sedang panas karena Korea Utara (Korut) terus mengulangi uji coba tembak peluru kendali jarak jauh dan antarbenua. Jepang dan Korea Selatan (Korsel) sudah mengingatkan ancaman senjata nuklir dari Korut dan Pemerintah AS pun kembali menyatakan semua opsi terbuka untuk merespons ulah Korut itu. (bersambung)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/amankan-dana-di-safe-haven/164818

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN