Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Jelang FOMC 21 Maret

Senin, 12 Maret 2018 | 14:06 WIB

Nafan menuturkan, volatilitas IHSG cenderung tinggi menjelang momentum Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan FOMC 20-21 Maret waktu Amerika Serikat.

 

Sementara itu, sentimen positif dari domestik minim, karena pada pekan lalu cadangan devisa (cadev) RI turun dari US$ 131,98 miliar pada Januari 2018 menjadi US$ 128,06 miliar pada Februari 2018. Indeks keyakinan konsumen di dalam negeri juga turun dari 126,1 menjadi 122,5.

 

Selain itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan pengenaan bea impor baja dan aluminium yang tinggi. “Pada 7 Maret lalu, IHSG bahkan turun 131,84 poin (2,03%) menjadi 6.368,27. Koreksi yang terjadi saat itu karena faktor kebijakan bea impor baja dan aluminium, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, setelah peraturan tersebut disahkan, AS ternyata mengecualikan Kanada dan Meksiko, sehingga berikutnya pasar kembali menghijau dengan naik 74,75 poin (1,17%) ke level 6.443,02,” papar Nafan.


Namun, berikutnya pada Jumat lalu, IHSG kembali terkoreksi karena investor fokus lagi pada sentiment global, terutama mengenai prediksi keputusan The Fed di tengah rilis data
US nonfarm payroll yang meningkat dari 239.000 menjadi 313.000. Di samping itu, Bank Indonesia (BI) melalui rilisnya pada 9 Maret 2018 membeberkan, penjualan eceran di dalam negeri pada Januari lalu terkoreksi.

 

“Kondisi (perbaikan ekonomi AS) tersebut memperkuat landasan The Fed untuk menaikkan Fed Funds Rate (FFR) pada 21 Maret 2018,” imbuhnya.

 

Oleh karena itu, nilai rupiah diperkirakan menghadapi ‘tantangan’ karena dolar AS akan kembali menguat. Selain itu, investor asing cenderung mengalihkan sebagian dana investasi ke instrumen safe haven. Adanya capital outflow membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin melemah.

 

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis BI pada 9 Maret 2018, nilai tukar rupiah berada pada level Rp 13.794 per dolar AS.

 

Meski demikian, Nafan optimistis, BI pasti akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini tergambar pada penurunan cadev pada Februari lalu. “Kemudian, meski IHSG terkoreksi dan ada capital outflow, semua itu hanya berlangsung sementara. Soalnya peluang investasi di Indonesia masih cukup baik,” tandas dia.

 

Data outflow dari pasar saham RI menunjukkan, ada pembalikan dana asing sekitar Rp 14 triliun sejak awal tahun 2018. Sedangkan di pasar surat utang pemerintah, yield surat utang negara tenor 10 tahun telah mengalami kenaikan dari 6,2% menjadi 6,8%, mengikuti ekspektasi kenaikan yield surat utang AS. Berbagai faktor tersebut turut memberi tekanan terhadap rupiah sehingga terdepresiasi ke level Rp 13.794 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (9/3), dari posisi awal tahun ini yang sempat bertengger di level sekitar Rp 13.550 per dolar AS. (afp/sumber lain/en)

 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/kekhawatiran-mereda/173106

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN