Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto yang diambil pada 10 Oktober 2020 dan dirilis oleh KCNA pada 11 Oktober 2020, memperlihatkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua dari kanan) menghadiri parade militer dalam upacara untuk menandai ulang tahun ke-75 Partai Pekerja Korea di Lapangan Kim Il-sung Pyongyang. ( Foto: KCNA VIA KNS / AFP )

Foto yang diambil pada 10 Oktober 2020 dan dirilis oleh KCNA pada 11 Oktober 2020, memperlihatkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua dari kanan) menghadiri parade militer dalam upacara untuk menandai ulang tahun ke-75 Partai Pekerja Korea di Lapangan Kim Il-sung Pyongyang. ( Foto: KCNA VIA KNS / AFP )

Korut Tantang AS dengan Pamerkan Rudal ICBM

Senin, 12 Oktober 2020 | 07:13 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

SEOUL, investor.id – Rudal rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) baru berukuran raksasa yang dipamerkan dalam parade militer di Korea Utara (Korut) akan menjadi ancaman eksplisit bagi pertahanan Amerika Serikat (AS), sekaligus tantangan implisit bagi presiden Amerika Serikat (AS) saat ini dan berikutnya. Demikian disampaikan para analis, yang juga memperingatkan bahwa Pemerintah Korut berencana menguji senjata tersebut tahun depan.

Pemimpin Korut Kim Jong-Un memamerkan rudal ICBM dalam sebuah parade yang melewati alun-alun Kim Il Sung, di Pyongyang. Ajang unjuk rudal itu dilakukan sebagai puncak parade pada Sabtu (10/10) malam hari.

Para analis sepakat bahwa rudal ICBM yang diperlihatan Jong Un merupakan rudal seluler berbahan bakar cair terbesar di mana pun di dunia, dan kemungkinan besar akan dirancang untuk membawa banyak hulu ledak di kendaraan isi ulang independen (MIRV).

Jeffrey Lewis dari Middlebury Institute of International Studies mengatakan, pameran itu jelas ditujukan untuk menguasai sistem pertahanan misil AS di Alaska.

Jika ICBM membawa tiga atau empat hulu ledak, cuit Lewis di Twitter, maka Pemerintah AS perlu mengeluarkan sekitar US$ 1 miliar pada 12-16 rudal pencegat untuk bertahan melawan setiap rudal.

“Dengan biaya itu, saya cukup yakin Korut dapat menambahkan hulu ledak lebih cepat daripada rudal pencegat yang dapat kita tambahkan,” ujarnya, pada Minggu (11/10), yang dikutip oleh AFP.

Rudal Korut diperkirakan memiliki panjang 24 meter (m) dan diameter 2,5 m. Spesialis Markus Schiller mengatakan, ukuran itu cukup besar untuk membawa 100 ton bahan bakar dan akan memakan waktu berjam-jam untuk pengisian muatan.

Ia mengatakan senjata tersebut berukuran besar dan berat, sehingga praktis tidak dapat digunakan. "Anda tidak dapat memindahkan benda ini dengan bahan bakar dan Anda tidak dapat mengisinya di situs peluncuran,” tutur Schiller.

"Hal ini sama sekali tidak masuk akal, kecuali untuk permainan ancaman, seperti mengirim pesan 'kami sekarang memiliki ICBM seluler dengan MIRV, Anda harus takut'," imbuhnya.

Pengamat Korut kerap memperingatkan, perangkat yang ditampilkan Pemerintah Korut di parade mungkin tiruan atau model, dan tidak ada bukti senjata tersebut berfungsi sampai diuji.

Namun rudal itu dibawa dengan truk pengangkut peluncur 11 roda yang sangat luar biasa besar. Ukurannya lebih besar dari truk pengangkut 8 roda buatan Pemerintah Tiongkok yang digunakan Korut sejauh ini.

“Truk itu mungkin cerita yang lebih menakutkan daripada misil. Jika DPRK memproduksi sasis (kerangka mobil) mereka sendiri, maka batasan jumlahnya akan berkurang dari ICBM yang dapat mereka luncurkan,” kata Melissa Hanham dari Open Nuclear Network.

Foto tangkap layar yang diambil dari siaran KCNA pada 10 Oktober 2020, menunjukkan rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) Korea Utara selama parade militer yang menandai peringatan 75 tahun berdirinya Partai Pekerja Korea, di alun-alun Kim Il Sung di Pyongyang. ( Foto: KCNA / AFP )
Foto tangkap layar yang diambil dari siaran KCNA pada 10 Oktober 2020, menunjukkan rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) Korea Utara selama parade militer yang menandai peringatan 75 tahun berdirinya Partai Pekerja Korea, di alun-alun Kim Il Sung di Pyongyang. ( Foto: KCNA / AFP )

Batasan

Sesaat sebelum dilantik pada 2017, Presiden AS Donald Trump menulis di media sosial Twitter, Pemerintah Korut mampu mengembangkan senjata mencapai bagian AS "tidak akan terjadi!".

Dia menghabiskan tahun pertama masa kepresidenannya dalam perang kata-kata dengan Kim, sebelum hubungan diplomatik yang luar biasa berkembang antara kedua pemimpin.

Namun negosiasi nuklir telah menemui jalan buntu sejak runtuhnya pertemuan puncak di Hanoi, Vietnam awal tahun lalu, terkait keringanan sanksi dan apa yang Korut rela berikan sebagai imbalan.

ICBM adalah bukti pemerintah Korut terus mengembangkan persenjataannya selama proses diplomatik, kata para analis, dan memberi Korut bobot lebih besar untuk menuntut kembali di meja perundingan.

“Suka atau tidak, Korea Utara adalah kekuatan nuklir dan mungkin kekuatan nuklir ketiga yang mampu menyerang kota-kota Amerika, ketiga setelah Rusia dan Tiongkok," tutur Andrei Lankov dari Korea Risk Group kepada AFP.

Kim mengirim pesan kepada AS, bahwa kemampuan Korut meningkat. “Jika Anda tidak mau membuat kesepakatan sekarang, suatu saat nanti Anda harus membuat kesepakatan yang akan lebih buruk bagi Anda, komunitas internasional,” tambahnya.

Lebih dari 12 jam setelah berakhirnya parade yang disiarkan di televisi Pemerintah Korut, Trump belum membahas apapun tentang itu, juga tidak ada tanggapan dari saingan Demokratnya Joe Biden.

Trump telah membuat banyak janji Kim untuk tidak melakukan ICBM atau uji coba nuklir lebih lanjut. Sementara Shin Beom-Chul dari Institut Riset Korea untuk Strategi Nasional mengatakan, dengan menampilkan rudal daripada meluncurkannya, Korut berhenti melewati garis merahnya.

"Tetapi itu juga menandakan Korea Utara dapat melakukan peluncuran jika Trump terpilih kembali dan mengabaikan isu Korea Utara. Jika Biden terpilih dan tidak mendengarkan Korea Utara, sebuah peluncuran akan terlaksana," lanjutnya.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN