Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto yang diambil pada 17 Agustus 2020 memperlihatkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Foto yang diambil pada 17 Agustus 2020 memperlihatkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Eropa Perketat Pembatasan

WHO Desak Pemakaian Masker Selama Libur Natal

Kamis, 17 Desember 2020 | 06:35 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

COPENHAGEN, investor.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan lonjakan infeksi virus corona Covid-19 akan berlanjut ke awal 2021. Badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini mendesak semua keluarga memakai masker selama berkumpul untuk merayakan Natal tahun ini.

Dalam pernyataannya, WHO mengatakan bahwa ada beberapa kemajuan yang dicapai dalam penanggulangan pandemi global tersebut. Namun penularan Covid-19 di seluruh wilayah Eropa tetap meluas dan intensif.

“Ada risiko tinggi lonjakan lebih lanjut dalam pekan-pekan dan bulan-bulan pertama 2021, dan kita perlu bekerja sama jika kita ingin berhasil mencegahnya. Masyarakat didesak untuk tidak meremehkan pentingnya mengambil keputusan dan tindakan pencegahan tambahan karena banyak yang siap-siap berkumpul untuk liburan,” demikian pernyataan WHO Eropa pada Rabu (16/12), yang dikutip AFP.

Bagi yang menggelar acara di dalam ruangan, lanjutnya, WHO meminta untuk dilakukan pembatasan jumlah tamu dan memastikan ventilasi yang baik, karena itu adalah kunci untuk mengurangi risiko infeksi.

“Mungkin terasa canggung untuk memakai masker dan mempraktikkan jaga jarak fisik saat berada di sekitar teman dan keluarga, tetapi dengan melakukan hal ini berkontribusi secara signifikan untuk memastikan bahwa semua orang tetap aman dan sehat,” kata WHO.

Di sisi lain, beberapa negara di Eropa melakukan pengetatan aturan pembatasan. Sementara di Jerman telah mencatat jumlah korban meninggal dunia di hari pertama pelaksanaan karantina (lockdown) pada Rabu. Langkah-langkah lebih tegas ini muncul setelah anggota negara Uni Eropa (UE) setuju memulai vaksinasi virus corona pada hari yang sama.

“Untuk mengakhiri pandemi, kita perlu memvaksinasi hingga 70% dari populasi. Ini adalah tugas yang sangat besar, tugas yang besar. Jadi mari kita mulai sesegera mungkin memulai vaksinasi untuk 27 negara pada hari yang sama,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kepada para perwakilan Eropa.

Seperti diketahui, Uni Eropa mendapat tekanan untuk mengejar ketertinggalannya dari Inggris dan Amerika Serikat yang telah lebih dulu memulai program vaksinasi Covid-19, dengan menggunakan vaksin dibuat oleh Pfizer dan BioNTech.

Beberapa negara Eropa telah memberlakukan pembatasan virus corona yang lebih ketat menjelang Natal, pada Rabu. Sebagian besar wilayah di Inggris juga berada di bawah aturan pembatasan yang lebih ketat, sementara Denmark memperpanjang kebijakan pembatasannya.

Prancis dan Turki pun telah mengumumkan pembatasan selama musim liburan. Sedangkan Pemerintah Belanda pada Selasa (15/12) menutup sekolah-sekolah dan toko yang menjual barang-barang tidak penting selama lima pekan.

Jerman turut menerapkan kebijakan untuk menutup toko dan sekolah pada Rabu, setelah Institut Robert Koch mengumumkan sebanyak 952 orang meninggal karena virus corona dalam 24 jam sebelumnya.

Tekanan Persetujuan Vaksin

Sebelumnya, Jerman dianggap berhasil mengatasi gelombang pertama Covid-19 pada musim semi dan terus berjuang untuk menahan lonjakan kasus dalam beberapa bulan terakhir. Menteri kesehatan Jerman menyatakan bakal bergabung dengan regulator kesehatan Uni Eropa untuk menyetujui penggunaan darurat vaksin Pfizer-BioNTech sebelum Natal tiba.

Meskipun Inggris telah mulai menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech, angka infeksi yang tinggi telah memaksa otoritas Inggris untuk tetap memberlakukan pembatasan ketat di sebagian besar wilayah Inggris tengah dan utara. Aturan itu diperkirakan memberikan kerugian secara ekonomi, karena pub, bar, restoran, dan perhotelan lainnya akan ditutup, begitu juga teater dan tempat hiburan lainnya.

“Bisnis perhotelan sangat membutuhkan pekan ini, dan aturan itu menghancurkan. Ini sangat mengerikan. Tapi jika ini yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa, itulah yang harus kita lakukan,” kata Lesley Lewis, pemilik pub The French House di London.

Sementara itu, sebuah perusahaan farmasi Tiongkok pada Rabu mengatakan telah setuju untuk membeli sedikitnya 100 juta dosis vaksin virus corona dari perusahaan Jerman BioNTech, karena telah mendapat persetujuan dari pemerintah.

Harapan berakhirnya pandemi semakin meningkat seiring hasil penilaian positif yang diberikan untuk vaksin Covid-19 buatan Moderna.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN