Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

The Fed akan Bantu Ekonomi AS Lewati Tantangan Covid

Jumat, 18 Desember 2020 | 06:28 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – The Federal Reserve (The Fed) berkomitmen menggunakan berbagai instrumennya untuk membantu perekonomian Amerika Serikat (AS) melewati masa yang penuh tantangan saat ini. Pasalnya, The Fed juga berkepentingan untuk mencapai penyerapan penuh lapangan kerja dan mencapai tujuan stabilitas harga-harga.

Demikian disampaikan Gubernur The Fed Jerome Powell pada Rabu (16/12) waktu setempat. Pandemi virus corona Covid-19 telah menyebabkan kesulitan ekonomi dan kemanusiaan yang luar biasa di seluruh AS dan juga seluruh dunia. Walau vaksin Covid-19 telah diluncurkan dan meningkatkan harapan bahwa ekonomi dapat mulai kembali normal, kata The Fed, prospek tersebut diperumit oleh lonjakan kasus-kasus baru infeksi.

Menurut The Fed, para anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) sedikit lebih optimistis tentang prospek pertumbuhan ekonomi dua tahun kedepan. Bahkan melihat adanya peningkatan di pasar tenaga kerja.

“Kegiatan ekonomi dan lapangan kerja terus pulih, tetapi masih jauh di bawah level yang tercatat pada awal tahun. Permintaan melemah dan penurunan harga minyak sebelumnya telah menahan inflasi harga konsumen. Kondisi pasar keuangan secara keseluruhan tetap akomodatif, yang sebagian mencerminkan langkah-langkah kebijakan untuk mendukung ekonomi dan aliran kredit ke rumah tangga dan bisnis AS,” tutur Powell, dilansir dari situs federalreserve.gov.

Untuk jangka panjang, FOMC berusaha mencapai lapangan kerja maksimum dan inflasi pada tingkat 2%. Tetapi dengan inflasi yang terus berjalan di bawah target jangka panjang ini, FOMC bermaksud mencapai tingkat inflasi secara moderat di atas 2% untuk beberapa waktu sehingga inflasi rata-rata 2% persen dari waktu ke waktu, dan ekspektasi inflasi jangka panjang tetap berada di kisaran 2%.

Selain itu, FOMC diperkirakan mempertahankan sikap akomodatif kebijakan moneter sampai target tersebut tercapai. FOMC juga memutuskan untuk mempertahankan kisaran target tingkat suku bunga dana federal pada nol persen hingga 1/4 persen.

Bank sentral AS akan terus meningkatkan kepemilikannya atas obligasi pemerintah setidaknya US$ 80 miliar per bulan dan sekuritas yang didukung lembaga hipotek setidaknya US$ 40 miliar per bulan. Hingga tercipta kemajuan substansial lebih lanjut menuju penyerapan maksimum lapangan kerja maksimum dan tujuan stabilitas harga-harga.

FOMC memproyeksikan ekonomi AS pada 2021 tumbuh 4,2% dan 3,2% pada 2021. Sedangkan tingkat pengangguran diprediksi turun menjadi 5,0 % di tahun depan dan 4,2% pada tahun berikutnya.

Sebelum menggelar konferensi pers, Powell diprediksi dimintakan komentar terkait upaya-upaya Kongres untuk memberikan paket stimulus lain guna membantu keluarga dan pelaku usaha yang dilanda pandemi. Namun dia menolak memberikan tanggapan secara spesifik. Dia mengatakan tujuannya adalah untuk menyediakan jembatan finansial di atas jurang yang diciptakan oleh pandemi.

“Krisis kesehatan ini telah membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan mereka, beberapa di antaranya sekarang mulai kehilangan rumah. Jutaan orang Amerika menunggu antrean makanan di mobil mereka hari ini di seluruh negeri. Kami tahu ada kebutuhan di luar sana. Berita tentang vaksin menawarkan harapan bahwa aktivitas bisnis dapat kembali normal dengan rebound yang kuat di semester kedua tahun ini,” demikian dijelaskan Powell, seraya memperingatkan bahwa prospek ekonomi sangat tidak pasti, yang dilansir AFP.

 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN