Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas laboratorium sedang memproses hasil tes RT-PCR di laboratorium pengujian Covid-19, di Bandara Internasional Los Angeles (LAX) pada 31 Desember 2020 di Los Angeles, California, Amerika Serikat (AS). Fasilitas pengujian cepat ini memberikan hasil tes untuk wisatawan dalam waktu sekitar 3-5 jam. ( Foto: Patrick T. Fallon / AFP )

Petugas laboratorium sedang memproses hasil tes RT-PCR di laboratorium pengujian Covid-19, di Bandara Internasional Los Angeles (LAX) pada 31 Desember 2020 di Los Angeles, California, Amerika Serikat (AS). Fasilitas pengujian cepat ini memberikan hasil tes untuk wisatawan dalam waktu sekitar 3-5 jam. ( Foto: Patrick T. Fallon / AFP )

Pergantian Tahun Baru, Kasus Covid di AS Lewati 20 Juta

Sabtu, 2 Januari 2021 | 21:42 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Amerika Serikat (AS) menandai pergantian tahun baru pada Jumat (1/1) dengan catatan jumlah kasus virus corona Covid-19 melewati 20 juta. Sementara itu, acara-acara untuk menyambut tahun 2021, yang biasanya gegap gempita di seluruh dunia, tampak sepi karena pandemi Covid-19.

Pemerintah AS dinilai telah gagal dalam melaksanakan upaya-upayanya untuk menghentikan virus corona yang menyebar dengan cepat ke seluruh negeri. Bahkan, pandemi Covid-19 di AS telah merenggut lebih dari 347.000 jiwa, di mana sejauh ini menjadi catatan kematian nasional tertinggi.

Harapan seluruh dunia bahwa vaksin Covid-19 akan segera mengakhiri pandemi pada 2021 pun telah terguncang oleh lambatnya program vaksinasi AS, karena masalah logistik dan rumah sakit-rumah sakit yang kewalahan.

Menurut laporan, hampir 2,8 juta warga di AS telah menerima suntikan vaksin pertama, tetapi angka tersebut jauh dari target 20 juta suntikan vaksin yang dijanjikan pemerintahan Presiden Donald Trump pada akhir 2020.

Perlombaan vaksinasi itu sendiri diperkirakan baru mendominasi di tahun mendatang. Menurut hitungan AFP yang dihimpun dari sumber resmi, virus corona telah menewaskan sedikitnya 1,8 juta jiwa sejak kemunculannya pertama di Tiongkok pada Desember 2019.

Sedangkan, perusahaan Jerman BioNTech menyampaikan pada Jumat, bahwa pihaknya sedang berlomba meningkatkan produksi vaksin Covid-19 untuk mengisi kekurangan yang tersisa. Ini mengingat masih sedikit vaksin perusahaan lain yang mendapat persetujuan oleh regulator Eropa.

Seperti diketahui, negara-negara termasuk Inggris, Kanada dan Amerika Serikat telah menyetujui penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech lebih awal. Kemudian disusul oleh perusahaan AS Moderna atau Oxford-AstraZeneca yang juga mendapatkan lampu hijau.

“Situasi saat ini tidak optimistis, ada lubang, karena belum ada vaksin lain yang disetujui dan kami harus mengisi celah ini,” ujar salah satu pendiri BioNTech Ugur Sahin, kepada majalah mingguan Jerman Der Spiegel.

Di samping itu, kritik-kritik soal lambatnya peluncuran vaksin Covid-19 semakin keras dalam beberapa hari terakhir. Di Jerman, para dokter senior mengeluhkan bahwa staf-staf rumah sakit dibiarkan menunggu kedatangan vaksin. Padahal mereka termasuk kelompok prioritas.

Prancis juga mengalami kondisi serupa, dan mendorong pemerintah untuk mengumumkan bahwa para tenaga kesehatan usia di atas 50 tahun dapat mulai divaksinasi pada Senin (4/1). Tanggal ini lebih cepat dari jadwal semula.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN