Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gambar tangkap layar menunjukkan, akun Twitter Presiden AS Donald Trump yang ditangguhkan  pada 8 Januari 2021. Twitter mengatakan telah secara permanen menangguhkan akun Presiden Donald Trump, menyusul mengutip risiko kekerasan lebih lanjut setelah serangan yang dilakukan oleh para pendukunya ke gedung Capitol AS. ( Foto: Eric Baradat / Twitter / AFP )

Gambar tangkap layar menunjukkan, akun Twitter Presiden AS Donald Trump yang ditangguhkan pada 8 Januari 2021. Twitter mengatakan telah secara permanen menangguhkan akun Presiden Donald Trump, menyusul mengutip risiko kekerasan lebih lanjut setelah serangan yang dilakukan oleh para pendukunya ke gedung Capitol AS. ( Foto: Eric Baradat / Twitter / AFP )

CEO Twitter: Blokir Trump adalah Preseden Berbahaya

Jumat, 15 Januari 2021 | 07:14 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

SAN FRANCISCO, investor.id – CEO Twitter Jack Dorsey pada Rabu (13/1) waktu setempat mendukung langkah pemblokiran akun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di aplikasinya. Tapi, ia menyebut langkah tersebut menjadi presiden yang berbahaya dan menunjukkan kegagalan untuk mendukung perbincangan yang sehat di jejaring sosial.

“Memblokir satu akun itu menimbulkan dampak yang nyata dan signifikan. Walaupun nyata-nyata ada pengecualian-pengecualian, saya rasa pemblokiran ini adalah kegagalan telak kita untuk mendorong perbincangan yang sehat,” ujar Dorsey, dalam rangkaian cuitan di Twitter, yang dikutip AFP.

Ia berkomentar ataa keputusan perusahaannya pekan lalu, untuk melarang permanen Trump dari Twitter. Trump nyaris terputus dari media sosial, khususnya Twitter yang dijadikan media komunikasinya sehari-hari selama menjabat presiden.

Trump diblokir sejumlah media sosial setelah para pendukungnya merangsek ke gedung Capitol di Washington, pekan lalu, saat sidang penetapan Joe Biden sebagai pemenang pilpres 3 November 2020. Selain oleh Twitter, Trump juga diblokir di Facebook, Instagram, Twitch, dan Snapchat. Sedangkan YouTube menangguhkan sementara salurannya.

Kate Ruane, konsul senior legislatif ACLU berpendapat, langkah media sosial untuk melarang selamanya Trump itu dapat dipahami. Tapi juga mencemaskan karena perusahaan seperti Facebook dan Twitter memiliki kekuatan luar biasa untuk menghapus orang dari platform yang sudah menjadi media berbicara yang tak tergantikan bagi miliaran orang.

Bahkan Kanselir Jerman Angela Merkel pada Senin (11/1) berpendapat lewat juru bicaranya bahwa kebebasan berpendapat tidak seharusnya ditentukan oleh manajemen media sosial.

“Meski saya yakin Twitter telah bertindak benar dengan melarang Trump, tapi sudah menimbulkan presiden yang menurut saya berbahaya. Bagaimana seorang individu atau organisasi begitu berkuasa atas sebagian ranah perbincangan publik global,” kata Dorsey.

Rusia pada Kamis membandingkan keputusan para raksasa media sosial itu dengan ledakan nuklir di ranah siber. Dengan konsekuensi-konsekuensi yang sulit untuk diprediksi.

“Keputusan platform-platform internet AS untuk memblokir (akun) kepala negaranya dapat dibandingkan dengan ledakan nuklir di ranah siber. Bukan kehancurannya yang mengerikan, tapi konsekuensi-konsekuensinya. Ini merusak nilai-nilai demokrasi yang selama ini digaungkan oleh Barat,” ujar Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN