Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Satu kotak botol vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca- Oxford di tempat Praktik Medis Pontcae, di Merthyr Tydfil, Wales selatan, Inggris, pada 4 Januari 2021. ( Foto: Geoff Caddick / AFP )

Satu kotak botol vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca- Oxford di tempat Praktik Medis Pontcae, di Merthyr Tydfil, Wales selatan, Inggris, pada 4 Januari 2021. ( Foto: Geoff Caddick / AFP )

Tim Pakar WHO akan Tentukan Penggunaan Vaksin AstraZeneca

Selasa, 9 Februari 2021 | 07:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Tim pakar vaksin di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (8/2) berkumpul secara virtual untuk memutuskan rekomendasi penggunaan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca-Oxford. Termasuk untuk kelompok orang dewasa tua.

Menurut laporan, Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi atau Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) yang beranggotakan 15 orang melakukan pertemuan virtual luar biasa seharian guna membahas vaksin yang diberikan melalui dua dosis suntikan.

WHO menyatakan bakal mempublikasikan rekomendasinya pada akhir pekan ini. Tentang siapa yang harus dan tidak boleh menggunakan vaksin AstraZeneca.

Di sisi lain, otoritas regulator di beberapa negara Eropa belum mengizinkan vaksin tersebut digunakan di antara orang-orang yang berusia di atas 65 tahun. Pasalnya, sampai saat ini, kelompok usia itu merupakan yang paling rentan terpapar penyakit Covid-19 yang serius

Menurut agenda pertemuan SAGE, penilaian terhadap bukti kritis, termasuk data dan draf rekomendasi terkait penggunaan vaksin pada orang dewasa yang berusia lebih tua bakal menjadi bagian penting dari pembicaraan Senin.

Pertemuan tersebut juga akan membahas bukti terbaru tentang varian virus corona baru yang menjadi perhatian.

Sementara itu, Pemerintah Afrika Selatan pada Minggu (7/2) mengatakan akan menangguhkan dimulainya vaksinasi Covid-19 AstraZeneca, menyusul penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin ini gagal mencegah kasus ringan dan sedang dari varian baru virus yang muncul di negara tersebut.

Berikan Bukti

Selama pertemuan SAGE yang berlangsung Senin waktu setempat, AstraZeneca memberikan presentasi selama 25 menit tentang data keamanan dan kemanjuran vaksin yang dikenal sebagai AZD1222. Data ini juga disertai hasil dari tiga fase pengujian kepada manusia, mulai dari vaksinasi pertama hingga uji coba massal.

Raksasa farmasi Inggris-Swedia juga membahas rencana manajemen risiko dan pertimbangan implementasi lainnya, sebelum menghadapi pertanyaan.

Pertemuan tersebut bertujuan mendapatkan garis besar studi yang sedang berlangsung, dan yang direncanakan. Kelompok kerja SAGE kemudian mempresentasikan bukti termasuk data dan draf rekomendasi yang berkaitan dengan penggunaan vaksin pada kelompok orang dewasa yang lebih tua.

Selanjutnya, pertemuan selama 4,5 jam itu akan ditutup dengan presentasi dari draf rekomendasi yang tersisa.

Dalam proses terpisah, badan kesehatan yang berada di bawan naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengeluarkan keputusan pda 15 Februari, apakah akan memberikan daftar penggunaan darurat vaksin yang yang diproduksi di India dan Korea Selatan (Korsel).

Jika diizinkan maka dosis vaksin dari negara-negara itu dapat mulai didistribusikan ke beberapa negara termiskin di dunia melalui Covax, yakni sebiah kelompok pengadaan dan distribusi vaksin global.

Sebagai informasi, banyak negara berpenghasilan rendah yang mengandalkan vaksin buatan AstraZeneca untuk mulai memvaksinasi populasi mereka yang paling rentan. Namun, negara-negara ini belum dapat menerima vaksin dosis pertama sampai WHO memberikan otorisasi darurat.

Anjuran SAGE

SAGE pun memberikan anjuran kepada WHO tentang kebijakan dan strategi global secara keseluruhan, mulai dari vaksin dan teknologi, penelitian dan pengembangan, hingga pemberian vaksin dan hubungannya dengan intervensi kesehatan lainnya.

Diketuai oleh dokter asal Meksiko, Alejandro Cravioto, kelompok ini terdiri atas 15 ahli dari seluruh dunia yang mewakili berbagai keahlian.

SAGE sendiri telah mengeluarkan anjuran mengenai penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna. Sejauh ini, WHO baru memberikan daftar penggunaan darurat untuk vaksin buatan Pfizer, meskipun beberapa produsen lain telah memulai proses evaluasi, termasuk AstraZeneca dan Moderna.

Covax hampir seluruhnya bergantung pada vaksin AstraZeneca untuk gelombang distribusinya yang pertama. Sekitar 145 negara ditetapkan menerima 337,2 juta dosis, yang mana cukup untuk memvaksinasi 3,3% dari populasi kolektif mereka pada pertengahan 2021.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 336 juta adalah botol vaksin dari AstraZeneca. Pengiriman Covax pertama diperkirakan berlangsung pada akhir Februari. Namun, vaksin AstraZeneca tidak dapat melakukan pengiriman sampai WHO menandatangani izinnya.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN