Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paket alat suntik dan vaksin Covid-19 buatan Oxford - AstraZeneca Covid-19diperlihatkan di pusat vaksinasi yang baru dibuka di bekas Bandara Tegel Berlin, Jerman, pada 10 Februari 2021. ( Foto: Kay Nietfeld / POOL / AFP)

Paket alat suntik dan vaksin Covid-19 buatan Oxford - AstraZeneca Covid-19diperlihatkan di pusat vaksinasi yang baru dibuka di bekas Bandara Tegel Berlin, Jerman, pada 10 Februari 2021. ( Foto: Kay Nietfeld / POOL / AFP)

WHO Izinkan Penggunaan Darurat Vaksin AstraZeneca

Rabu, 17 Februari 2021 | 06:56 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan persetujuan penggunaan darurat vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca pada Senin (15/2). Ini artinya, distribusi vaksin dapat dimulai ke negara-negara miskin yang masih kekurangan dosis untuk melawan pandemi virus corona.

Vaksin Covid-19 tersebut merupakan yang kedua memperoleh otorisasi WHO, setelah vaksin buatan Pfizer-BioNTech.

Sebagian besar vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca-Oxford itu pun didistribusikan melalui Covax, yakni sebuah program global yang bertujuan mendapatkan dan mengirimkan vaksin secara adil ke seluruh dunia, terlepas seberapa besar tingkat kemakmuran negaranya.

“WHO hari ini mendaftarkan dua versi vaksin AstraZeneca-Oxford Covid-19 untuk penggunaan darurat, memberikan lampu hijau kepada vaksin ini untuk diluncurkan secara global melalui Covax,” demikian pernyataan yang disampaikan WHO, yang dikutip AFP.

Ada pun maksud dari dua versi yang diberi cap persetujuan tersebut, adalah terkait dengan perusahan produsen vaksin, yakni Serum Institute of India (SII) dan SKBio di Korea Selatan. Di samping itu masih diperlukan kajian terpisah pada setiap proses produksi, meskipun vaksinnya sama.

“Negara-negara yang tidak memiliki akses vaksin hingga saat ini akhirnya dapat mulai memvaksinasi para tenaga kesehatan dan populasi yang berisiko, berkontribusi pada tujuan fasilitas Covax untuk distribusi vaksin yang adil. Tetapi kita harus terus menekan guna memenuhi kebutuhan populasi prioritas di mana saja, dan memfasilitasi akses global. Untuk melakukan itu, kita memerlukan dua hal, yakni peningkatan kapasitas produksi dan pengajuan vaksin mereka lebih awal untuk ditinjau oleh WHO,” demikian penjelasan dari Asisten Direktur Jenderal WHO Mariangela Simao.

Menurut laporan, prosedur daftar penggunaan darurat organisasi meliputi penilaian atas kualitas, keamanan dan kemanjuran vaksin Covid-19, sekaligus merupakan prasyarat untuk vaksin pada fasilitas Covax yang dipimpin bersama WHO.

Vaksin AstraZeneca yang diproduksi India dan Korea Selatan disebut-sebut telah menyiapkan 337,2 juta dosis awal untuk gelombang distribusi pertama ke Covax, yang akan mulai bergerak pada akhir Februari tahun ini.

Sekitar 145 negara yang berpartisipasi ditetapkan menerima dosis yang cukup untuk memvaksinasi 3,3% dari populasi kolektif mereka pada pertengahan 2021. Gelombang pertama mencakup 240 juta dosis AstraZeneca SII; 96 juta dosis AstraZeneca Korea Selatan; dan 1,2 juta dosis Pfizer. Kedua vaksin tersebut diberikan sebanyak dua dosis suntikan.

“Kami sekarang memiliki semua bagian untuk distribusi cepat vaksin,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi pers.

Simao juga menambahkan, tidak perlu panik dan negara-negara tidak perlu membeli di pasar karena mereka akan membayar lebih.

Cocok untuk Di Atas 65 Tahun

Di sisi lain, dalam proses terpisah pada pekan lalu, Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) on Immunization atau Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi WHO telah mengeluarkan rekomendasi penggunaan sementara untuk vaksin AstraZeneca.

Rekomendasi SAGE tersebut bertujuan meredam kekhawatiran atas vaksin AstraZeneca, dengan menyampaikan bahwa vaksin ini dapat digunakan bagi kelompok usia di atas 65 tahun dan varian baru virus corona yang sedang menjadi perhatian.

SAGE pun mengakui kurangnya data tentang kemanjuran vaksin untuk usia di atas 65 tahun, sehingga mendorong sejumlah negara mencegah penggunaannya ke kelompok usia yang paling rentan. Tetapi para ahli memutuskan, mengingat kinerjanya kepada kelompok dewasa usia lebih muda, “Kemungkinan besar vaksin itu akan terbukti manjur pada orang tua. Data percobaan menunjukkan bahwa vaksin itu aman untuk kelompok usia ini,” kata SAGE.

SAGE menambahkan, bahwa vaksin terbukti lebih efektif ketika interval antara pemberian dosis petama dengan kedua diperpanjang menjadi antara delapan dan 12 pekan.

Selain itu, jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan secara global terus mengalami penurunan selama lima pekan berturut-turut, atau hampir setengahnya dari lebih dari lima juta pada pekan 4 Januari, menjadi 2,6 juta pada pekan yang dimulai pada 8 Februari.

“Api belum padam, tetapi kami telah mengecilkannya. Jika kami menghentikan pemadaman di mana pun yang dihadapi, api akan kembali berkobar,” kata Tedros.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN