Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para aktivis anti-perang memegang poster bertuliskan: Hentikan latihan perang! selama menggelar protes menentang latihan militer gabungan antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS), di dekat Gedung Biru kepresidenan di Seoul, pada 8 Maret 2021. ( Foto: Jung Yeon-je / AFP )

Para aktivis anti-perang memegang poster bertuliskan: Hentikan latihan perang! selama menggelar protes menentang latihan militer gabungan antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS), di dekat Gedung Biru kepresidenan di Seoul, pada 8 Maret 2021. ( Foto: Jung Yeon-je / AFP )

Korsel-AS Sepakati Biaya Pasukan AS

Selasa, 9 Maret 2021 | 06:51 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

SEOUL, investor.id - Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan tentang kontribusi Korsel terhadap biaya kehadiran pasukan AS di Semenanjung Korea. Hal ini disampaikan perwakilan Pemerintah Korsel, Senin (8/3), bersamaan dengan kedua negara sekutu itu memulai lagi latihan militer gabungan tahunan.

Masalah ini telah mengganggu aliansi keamanan kedua sekutu saat emerintahan AS di bawah presiden Donald Trump. Karena Trump menggunakan pendekatan transaksional untuk kebijakan luar negeri dan berkali-kali menuduh Korsel membebani pemerintah AS.

Pemerintah AS menempatkan 28.500 tentara di Korsel, untuk mempertahankannya dari Korea Utara (Korut), yang menginvasi pada 1950.

Pasukan tersebut adalah bagian penting dari penempatan pasukan AS di Asia. Tetapi negosiasi mengenai pendanaannya menemui jalan buntu. Karena tuntutan Pemerintah AS sebelumnya meminta biaya lebih banyak dari agar pemerintah Korsel untuk kehadiran mereka.

Pemerintahan Trump awalnya menuntut US$ 5 miliar per tahun, yang berarti naik lebih dari lima kali lipat. Karena berdasarkan kesepakatan sebelumnya, yang berakhir pada akhir 2019, Pemerintah Korsel membayar AS sekitar US$ 920 juta setiap tahun.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Korsel menyatakan, pada prinsipnya kedua pihak telah mencapai kesepakatan, tanpa menyebutkan secara spesifik jumlah yang disepakati.

“Pemerintah akan menyelesaikan kesenjangan yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun melalui penandatanganan cepat kesepakatan," katanya dalam sebuah pernyataan, Senin (8/3), yang dilansir AFP.

Kesepakatan baru masih harus disetujui oleh badan legislatif Korsel. Presiden AS Joe Biden telah berjanji akan menghidupkan kembali aliansi AS di bawah pendahulunya, untuk melawan tantangan yang ditimbulkan oleh pemerintah Rusia, Tiongkok, Iran, dan Korut.

"Aliansi Amerika adalah sumber kekuatan kami yang luar biasa," kata Departemen Luar Negeri (Deplu) AS dalam sebuah unggahan di media sosial Twitter.

Deplu AS tidak menyatakan berapa banyak yang akan dibayar oleh pemerintah Korsel. “(Kedua belah pihak) sekarang akan mengejar langkah-langkah terakhir yang diperlukan untuk menyelesaikan Perjanjian Tindakan Khusus untuk tanda tangan dan pemberlakuan yang akan memperkuat Aliansi kami dan pertahanan bersama kami," tambah Deplu AS.

Kesepakatan ini tercapai saat pemerintah Korsel dan AS memulai latihan militer tahunan pada Senin. Skala latihan telah diperkecil dari level biasanya karena pandemi Covid-19. Kali ini tanpa keterlibatan pasukan fisik berskala besar.

Latihan selama sembilan hari tersebut masih mungkin membuat marah otoritas Korut, yang telah lama mempertimbangkan agenda semacam itu sebagai latihan untuk invasi.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN