Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nancy Pelosi (kiri) dan Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer menandatangani Undang-Undang Rencana Penyelamatan Amerika setelah DPR setuju mevisi undang-undang terakhir dari bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun yang direncanakan, di gedung Capitol, Washington, DC,M Amerika Serikat (AS), pada 10 Maret 2021. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nancy Pelosi (kiri) dan Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer menandatangani Undang-Undang Rencana Penyelamatan Amerika setelah DPR setuju mevisi undang-undang terakhir dari bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun yang direncanakan, di gedung Capitol, Washington, DC,M Amerika Serikat (AS), pada 10 Maret 2021. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

IMF: Stimulus AS Positif ke Ekonomi Global

Sabtu, 13 Maret 2021 | 06:33 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Stimulus Covid-19 baru senilai US$ 1,9 triliun dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dipuji karena dapat berkontribusi meningkatkan pertumbuhan domestik dan juga memacu pemulihan global. Tetapi Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan para pembuat kebijakan untuk mewaspadai risiko-risiko yang mungkin timbul dari belanja besar-besaran dan suku bunga rendah.

Menurut laporan, paket yang ditandatangani Biden menjadi undang-undang (UU) pada Kamis (11/3) waktu setempat bertujuan menyuntikkan bantuan senilai US$ 1,9 triliun ke dalam perekonomian AS yang rusak akibat pandemi virus corona Covid-19. Paket ini bakal digunakan untuk mendanai usaha-usaha kecil, memperpanjang tunjangan pengangguran yang akan berakhir dalam beberapa hari, dan diberikan berupa bantuan langsung tunai sebesar US$ 1.400 kepada banyak warga Amerika yang dimulai bulan ini.

Dalam perkiraan awal IMF, anggaran belanja itu akan meningkatkan produk domesik bruto (PDB) AS sebesar 5% hingga 6% selama 3 tahun. Juru bicara IMF Gerry Rice mengatakan, pada Kamis, bahwa permintaan yang lebih tinggi akan membantu negara-negara lain menjual lebih banyak produk ke konsumen Amerika.

“Kami melihat potensi kelebihan yang sangat positif dalam hal pertumbuhan global. Sebagian besar negara harus mendapatkan keuntungan dari permintaan AS yang lebih kuat. Jadi ini akan membantu pertumbuhan dan pemulihan global,” ujarnya, dilansir oleh AFP.

Rice juga mengingatkan, dengan tingkat suku bunga rendah maka para pembuat kebijakan di seluruh dunia harus mewaspadai perubahan mendadak dalam biaya pinjaman.

Bahkan isu tersebut telah berkembang menjadi kekhawatiran di pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir. Percepatan peluncuran vaksin Covid-19 memang menawarkan harapan pemulihan yang cepat, tetapi turut memacu kekhawatiran bahwa pertumbuhan dapat memicu gangguan inflasi yang akhirnya memaksa The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan.

Kekhawatiran itu yang membuat pasar saham terguncang dalam beberapa sesi terakhir, terutama saham-saham milik perusahaan teknologi, yang kemungkinan besar akan terhambat oleh kenaikan tingkat suku bunga pinjaman.

Juru bicara Dana Moneter Internasional (IMF) Gerry Rice. ( Foto: imf.org )
Juru bicara Dana Moneter Internasional (IMF) Gerry Rice. ( Foto: imf.org )

Memantau Risiko

Di sisi lain, Gubernur The Fed Jerome Powell – yang telah berulang kali mencoba menenangkan pasar keuangan – mengungkapkan bahwa para pembuat kebijakan tidak berniat mengekang stimulus atau menaikkan tingkat suku bunga acuan sampai inflasi bertahan kokoh di atas 2%, dan lapangan kerja kembali pulih.

Dia mengakui laju inflasi tahun ini bisa melonjak dibandingkan tingkatan saat dalam kondisi tertekan selama pemberlakuan pembatasan terkait pandemi pada 2020. Namun menambahkan bahwa lonjakan harga tersebut kemungkinan akan berdampak sementara.

Sementara itu, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Brian Deese menyatakan pemerintah fokus pada pemulihan, sekaligus memantau inflasi.

“Ini adalah risiko, seperti banyak risiko lainnya, yang akan terus kami pantau dan awasi,” tutur Deese kepada CNN saat ditanya tentang salah satu perkiraan swasta yang memproyeksikan inflasi 2,8% pada tahun ini.

Beberapa ekonom, termasuk mantan menteri keuangan Larry Summers dan mantan kepala ekonom IMF Olivier Blanchard juga memperingatkan, bahwa paket penyelamatan bisa dinilai terlalu banyak menambah bahan bakar bagi perekonomian.

Tapi Gedung Putih mengabaikan risiko tersebut, dan Deese mengatakan jika “kita masih memiliki kelambanan yang sangat besar dalam perekonomian.”

IMF sendiri, sebagian besar menepis kekhawatiran soal inflasi dengan mengatakan tingkat suku bunga tahun ini dapat naik menjadi 2,25%. Dan sepertinya angka ini belum cukup untuk mengganggu The Fed.

Meski demikian, Rice menyatakan bahwa dengan adanya risiko-risiko itu, artinya The Fed dan bank-bank sentral utama lainnya harus menjalin komunikasi dengan jelas mengenai prospek, dan rencana kebijakan mereka untuk menghindari pengetatan kondisi pasar keuangan yang tidak beralasan.

Mengembalikan Lapangan Kerja

Biden menyebutnya sebagai peristiwa bersejarah saat menandatangani UU untuk paket bantuan Covid-19. Dia menyebut UU itu adalah tentang membangun kembali tulang punggung negara ini.

Deese pun mengungkapkan bahwa pihak berwenang AS akan mulai mengirimkan lembaran-lembaran cek stimulus ke banyak penduduk Amerika di akhir bulan ini.

“Ditambahkan ke langkah-langkah lain, rencana tersebut dapat mengembalikan pekerjaan AS ke level pra-pandemi setahun penuh lebih awal dari perkiraan sebelumnya dari pemulihan 2024-2025,” katanya.

Deese menyebut hilangnya pekerjaan sebagai salah satu dari sisa-sisa krisis paling mengerikan, dan pemulihan yang cepat akan membantu para pekerja yang sering dikucilkan dari pasar tenaga kerja, termasuk ras minoritas.

“Kami tentu berharap, bahwa kami akan melihat pertumbuhan yang kuat dan sehat tahun ini, yang kami butuhkan supaya lapangan kerja kembali penuh. Dan lebih cepat keluar dari kekosongan pekerjaan yang masih sangat serius,” ujar Deese.

Lapangan-lapangan pekerjaan dilaporkan telah kembali di seluruh Amerika Serikat karena sudah banyak bisnis yang dibuka kembali. Namun masih ada jutaan orang yang masih menganggur.

Departemen Tenaga Kerja melaporkan, angka pengajuan baru tunjangan pengangguran AS reguler terus menurun, tetapi jumlahnya masih mencapai 712.000 pada pekan lalu. Di samping itu, ada hampir 1,2 juta klaim yang telah diajukan pada pekan lalu jika program pandemi khusus dimasukkan.

Laporan ketenagakerjaan AS menyebutkan, terdapat lebih dari 20 juta orang menerima sejumlah tunjangan pada 20 Februari, dan pada bulan lalu AS masih menunjukkan kekurangan 9,5 juta pekerjaan dibandingkan tahun lalu.

Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan atau Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) baru-baru ini menaikkan perkiraan pertumbuhan AS menjadi 6,3% - hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya – dan pertumbuhan global menjadi 5,6% menyusul meningkatnya pelaksanaan vaksinasi dan rencana stimulus.

Sedangkan IMF pada Februari memproyeksikan pertumbuhan dunia pada tahun ini mencapai 5,5% dengan ekspansi PDB AS sebesar 5,1%. Namun IMF akan memperbarui perkiraan tersebut di awal bulan depan saat awal pertemuan musim semi.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com