Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken (ke-2 dari kanan), didampingi Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan (kanan), sedang berbicara dengan Direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri Pusat Yang Jiechi (ke-2 dari kiri) dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (kiri) pada sesi pembukaan dialog AS-Tiongkok, di Hotel Captain Cook, di Anchorage, Alaska pada 18 Maret 2021. ( Foto: Frederic J. Brown / POOL / AFP )

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken (ke-2 dari kanan), didampingi Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan (kanan), sedang berbicara dengan Direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri Pusat Yang Jiechi (ke-2 dari kiri) dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (kiri) pada sesi pembukaan dialog AS-Tiongkok, di Hotel Captain Cook, di Anchorage, Alaska pada 18 Maret 2021. ( Foto: Frederic J. Brown / POOL / AFP )

Hubungan Dagang AS-Tiongkok Tetap Tegang

Senin, 22 Maret 2021 | 06:37 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Prospek hubungan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kemungkinan tetap tegang. Setelah pertemuan tingkat tinggi dan tatap muka pertama kedua negara pekan lalu memperlihatkan bahwa sikap pemerintahan Presiden Joe Biden pun terhadap Tiongkok tidak jauh beda dengan pemerintahan Donald Trump.

AS dan Tiongkok tahun lalu sudah mencapai gencatan perang dagang. Lalu mencapai fase pertama persetujuan. Tapi, petinggi kedua negara di bidang perdagangan jauh dari puas dengan situasi tersebut. Kedua negara tetap memandang satu sama lain sebaagi rival ekonomi terbesar.

Persaingan antara AS selaku negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia dan Tiongkok sebagai negara ekonomi kedua terbesar dunia itu mengemuka pada Kamis pekan lalu. Di awal pertemuan dua hari di kota Anchorage, negara bagian Alaska, AS.

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken memulai pernyataannya dengan menekankan bahwa AS akan menggarisbawahi keprihatinan mendalamnya atas aksi-aksi Tiongkok. Termasuk di Xinjiang, Hong Kong, Taiwan, serangan-serangan siber ke AS dan pemaksaan ekonomi terhadap sekutu-sekutu AS.

“AS tidak memiliki kualifikasi untuk mengatakan ingin berbicara kepada Tiongkok dari posisi yang kuat,” ujar Yang Jiechi, direktur Komisi Sentral Urusan Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok, seperti dikutip CNBC, akhir pekan lalu.

Walau pembicaraan pertama kedua negara itu dipandang sebagai pemanasan diplomatik, dan bukannya pemanasan dari sisi ekonomi, tapi perdebatan sengit yang muncul di dalamnya menjadi gambaran awal tentang beratnya pertarungan yang harus dihadapi oleh tim perdagangan Biden ke depannya. Sementara yang akan dipertaruhkan adalah hubungan perdagangan paling besar di dunia.

Tiongkok saat ini adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi AS dengan nilai perdagangan timbal balik senilai US$ 558,1 miliar pada 2019. Volume perdagangan yang masif itu didukung oleh estimasi 911.000 lapangan kerja di AS per 2015. Sebanyak 601.000 di antaranya berasal dari sisi ekspor barang dan 309.000 dari ekspor jasa.

Tiongkok juga merupakan pasar ekspor ketiga terbesar bagi para petani AS. Dengan nilai perdagangan komoditas pertanian tahunan mencapai US$ 14 miliar dua tahun lalu. Sedangkan Tiongkok adalah pemasok terbesar barang-barang impor AS.

Sarana Resmi

Clete Willems, mantan litigator Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Perwakilan Dagang AS atau USTR, mengatakan kepada CNBC bahwa dirinya tidak terkejut dengan apa yang terjadi di Anchorage.

Menurut Willems, yang juga mantan anggota tim perdagangan Trump dan saat ini rekanan di firma hukum Akin Gump, pertemuan di Anchorage lebih merupakan sarana untuk secara resmi menyuarakan keluhan-keluhan selama ini. Bukannya sarana yang realistis untuk menjembatani perbedaan-perbedaan ekonomi.

“Ekspektasi saya rendah untuk Alaska dan itu yang terjadi. Saya pikir pemerintah Tiongkok salah membaca situasi dengan tim Biden. Mereka beranggapan bahwa tim ini akan menggulung balik seluruh kebijakan Trump. Nyatanya itu tidak terjadi. Tapi mereka perlu sampai harus mendengarnya langsung dari Blinken,” tutur Willems.

Beberapa pekan sebelum pertemuan itu, pemerintahan Biden sudah menyusun keputusan presiden yang memerintahkan semua departemen untuk mengkaji ulang rantai pasok utama, termasuk untuk semikonduktor, baterai kapasitas tinggi, peralatan medis, dan logam langka.

“Pemerintahan Biden mengisyaratkan bahwa perdagangan bukan posisi mereka satu-satunya dan mereka tidak akan menarik pandangan mereka lalu tetap menekankan masalah HAM atau keamanan nasional dalam rangka membina hubungan perdagangan yang baik,” kata Dewardric McNeal, analis kebijakan Departemen Pertahanan AS di era Barack Obama.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN