Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perawat sedang merawat pasien wanita yang terinfeksi Covid-19 di unit perawatan intensif Rumah Sakit  Delafontaine di Saint-Denis, pinggiran Paris, pada 29 Maret 2021. ( Foto: THOMAS SAMSON / AFP )

Perawat sedang merawat pasien wanita yang terinfeksi Covid-19 di unit perawatan intensif Rumah Sakit Delafontaine di Saint-Denis, pinggiran Paris, pada 29 Maret 2021. ( Foto: THOMAS SAMSON / AFP )

Lonjakan Kasus Covid Pupuskan Pemulihan UE

Senin, 29 Maret 2021 | 06:27 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

PARIS, investor.id – Para ekonom mengatakan bahwa peningkatan kasus baru virus corona Covid-19 telah memaksa pemerintah di seluruh Eropa kembali memberlakukan aturan karantina atau lockdown. Aturan baru ini diprediksi memupuskan harapan terhadap pemulihan pertumbuhan yang sudah sangat dinanti-nantikan.

Berdasarkan rencananya, program vaksinasi massal akan membalikkan gelombang pandemi sehingga memungkinkan konsumen bisa bebas setelah berbulan-bulan menghabiskan waktu di rumah. Alih-alih, pandemi virus corona telah memulai gelombang ketiganya yang terbukti lebih sulit dikendalikan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memperingatkan pada Kamis (25/3), bahwa Uni Eropa (UE) harus berbuat lebih banyak dan meningkatkan dana pemulihan virus, yang jumlahya sudah sangat besar yakni 750 miliar euro (US$ 885 miliar).

“Uni Eropa telah melakukan upaya besar setelah gelombang pertama tahun lalu. Tetapi setelah gelombang kedua dan ketiga kami pasti harus menambah respons kami,” ujar Macron, yang dikutip AFP.

Menurut laporan, laju ekonomi meningkat tajam pada September pasca kemunduran yang cepat akibat gelombang pertama Covid-19. Pada pertengahan tahun ini, ada ekspektasi tinggi bahwa ekonomi akan kembali ke jalur yang benar, terutama berkat peluncuran vaksin.

Kerugian 123 Miliar Euro

Selang beberapa pekan yang lalu, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde sempat membahas tentang rebound kuat dalam aktivitas di semester kedua tahun ini.

Saat ini, negara-negara dengan kekuatan ekonomi terkuat di UE – yakni Jerman, Prancis dan Italia – telah memberlakukan kembali aturan pembatasan. Ini menyusul terkendalanya program vaksin di Eropa akibat saling tuding mengenai ketersediaan pasokan.

Perusahaan asuransi kredit Euler Hermes memperkirakan, UE sekarang terpaut tujuh pekan dari targetnya untuk memvaksinasi 70% populasi pada akhir musim panas, dibandingkan dengan lima pekan pada Februari. Menurut proyeksinya, penundaan pemberian vaksin Covid-19 itu akan merugikan 27 negara anggota blok itu sekitar 123 miliar euro pada tahun ini.

“Jika Anda membandingkan kami dengan AS, di mana prospeknya jauh lebih positif, pemulihan kami jelas semakin tertinggal karena gelombang ketiga ini,” kata Charlotte de Montpellier, ekonom pada bank Belanda ING.

Menurut proyeksi ING, pertumbuhan tahun ini di zona euro mencapai 3,0%, turun lebih dari setengah poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Sebagian besar pertumbuhan juga baru muncul dari Kuartal III, sedikit lebih lambat juga.

Andrew Kenningham, kepala ekonom Eropa di Capital Economics, mengatakan tidak memperkirakan blok tersebut untuk kembali ke level aktivitas pra-pandemi sebelum semester kedua 2022, setahun di belakang AS.

“Kami merevisi turun perkiraan kami untuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) zona euro karena kasus virus yang kembali muncul, kelambanan vaksinasi dan perpanjangan aturan karantina,” kata Kenningham.

“Prospeknya memburuk,” tambah Chris Williamson, kepala ekonom di IHS Markit.

Indeks acuan Purchasing Managers Index (PMI) Maret yang dikumpulkan oleh IHS Markit menunjukkan bahwa Jerman – negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Eropa – dapat bekerja lebih baik daripada Prancis dan negara-negara umumnya di bagian utara yang memiliki kinerja lebih baik daripada mitra-mitranya di selatan – seperti Spanyol, Italia, Yunani, Portugal – yang berisiko menyaksikan industri pariwisata utamanya terbelenggu selama satu tahun lagi.

Di sisi lain, Standard and Poor's telah memutuskan untuk mempertahankan perkiraan pertumbuhan zona euro di kisaran 4,2% untuk 2021, yang diperlihatkan dari faktor-faktor positif kredit murah.

“Pada saat yang sama, ekonomi dan masyarakat Eropa telah beradaptasi dengan aturan pembatasan, sehingga dapat mengurangi dampaknya,” kata Sylvain Broyer, kepala ekonom S&P untuk Eropa.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN