Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joe Biden berbicara tentang penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan, pada 14 April 2021 di Washington, DC. ( Foto: POOL / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Presiden Joe Biden berbicara tentang penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan, pada 14 April 2021 di Washington, DC. ( Foto: POOL / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Biden akan Tarik Semua Pasukan AS dari Afghanistan

Kamis, 15 April 2021 | 06:26 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Rabu (14/4) waktu setempat dijadwalkan mengumumkan penarikan semua pasukan AS dari Afghanistan, sebelum peringatan 20 tahun serangan 11 September tahun ini. Para pejabat AS mengatakan, dengan langkah itu AS akhirnya menutup perang terpanjang yang pernah dijalani, terlepas akan meningkatnya ketakutan akan kemenangan Taliban.

Jadwal penarikan tersebut tertunda hanya sekitar lima bulan setelah dicapainya kesepakatan dengan Taliban oleh mantan presiden Donald Trump. Pada saat di AS berkembang pandangan bahwa sudah tidak banyak lagi yang dapat dicapai AS di negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Asia Selatan tersebut.

Keputusan Pemerintah AS ini diambil saat pemerintah Turki mengumumkan konferensi perdamaian internasional tentang Afghanistan. Yang mana tujuannya adalah kesepakatan yang dapat membawa stabilitas bagi negara yang sudah hampir 40 tahun dilanda perang. Tetapi Taliban mengatakan akan memboikot konferensi tersebut.

Biden sebelumnya telah memikirkan untuk mempertahankan sebagian kecil pasukan guna menyerang Al Qaeda atau ancaman dari para ekstremis Islamic State (IS). Atau penarikan bergantung pada kemajuan di lapangan atau pembicaraan damai yang progresnya lambat.

Akhirnya ia memutuskan untuk tidak melakukan keduanya dan memerintahkan penarikan seluruh pasukan. Yang dipertahankan, kata seorang pejabat AS, hanya personel dengan jumlah terbatas untuk menjaga instalasi-instalasi AS. Termasuk menjaga kedutaan besar (kedubes) di Kabul.

"Presiden menilai bahwa pendekatan berbasis kondisi, yang telah menjadi strategi pendekatan sejak dua dekade sebelumnya, adalah resep untuk tinggal selamanya di Afghanistan," tutur pejabat itu kepada wartawan, Rabu.

Langkah Sekutu

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken mengatakan, saatnya telah tiba untuk membawa pulang pasukan dan Pemerintah AS akan menyusun rencana penarikan terkoordinasi dengan sekutu-sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

“Bersama-sama, kami telah mencapai tujuan yang ingin kami capai dan sekarang saatnya untuk membawa kekuatan kami kembali ke rumah," ujar Blinken menjelang pembicaraan dengan para koleganya di NATO di Brussels, Belgia, yang dikutip AFP.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer mengatakan pada Rabu, NATO kemungkinan akan mengikuti langkah AS untuk menarik pasukannya pada September.

"Kami selalu berkata kami akan masuk bersama, kami akan pergi bersama," katanya kepada televisi publik ARD.

Sementara itu, surat kabar Times melaporkan Pemerintah Inggris akan menarik sekitar 750 tentaranya. Sumbernya mengataka,n mereka akan kesulitan tanpa dukungan Amerika karena ketergantungan pada pangkalan dan infrastruktur AS. Pemerintah tidak menyangkal laporan tersebut.

Di bawah kesepakatan pada Februari 2020 antara pemerintahan Trump dan Taliban, semua pasukan AS akan keluar pada Mei 2021. Sebagai imbalan atas janji para pemberontak untuk tidak mendukung Al Qaeda dan ekstremis asing lainnya.

Tahapan Penarikan

Para pejabat AS mengatakan, penarikan akan dimulai pada Mei 2021 dan penundaan yang sudah terjadi disebabkan masalah logistik. Pasukan mungkin sudah keluar dari Afghanistan jauh sebelum 11 September 2021.

Pejabat itu mengingatkan Taliban, yang sedang mengincar gencatan senjata dengan AS tetapi tidak dengan pasukan Afghanistan, untuk tidak membangun pasukan koalisi saat AS pergi. Pejabat tersebut mengatakan, dalam menanggapi setiap serangan pihaknya akan membalas dengan keras.

Pertempuran kemungkinan besar akan berlanjut. Laporan penilaian ancaman yang diterbitkan Selasa (13/4) oleh direktur intelijen nasional mengatakan Taliban yakin dapat mencapai kemenangan militer.

Upaya Perdamaian di Turki

Keputusan Biden diumumkan saat Pemerintah Turki mengatakan akan menjadi tuan rumah konferensi perdamaian yang didukung AS. Konferensi yang berlangsung 24 April hingga 4 Mei tersebut akan mempertemukan pemerintah Afghanistan, Taliban, dan sejumlah mitra internasional.

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan, pertemuan itu bertujuan mencapai semacam penyelesaian politik dan mengakhiri konflik.

Tetapi Mohammad Naeem, juru bicara Taliban di Qatar, mengatakan para pemberontak tidak akan berpartisipasi konferensi apapun tentang masa depan Afghanistan. "Sampai semua pasukan asing benar-benar mundur dari tanah air kita," ujarnya.

Banyak pengamat percaya Taliban mengira mereka telah menang secara efektif dan dapat menunggu penarikan AS.

Satu dekade lalu, Pemerintah AS memiliki sekitar 100.000 tentara di Afghanistan sebagai bagian dari strategi gelombang besar oleh presiden saat itu Barack Obama untuk mengalahkan Taliban.

Jumlah pasukan pada akhir masa kepresidenan Trump turun menjadi 2.500, ketika dukungan untuk aksi militer memudar. Pada Februari tahun ini, NATO memiliki sekitar 10.000 tentara di Afghanistan.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN