Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton. ( Foto: CAMERON SPENCER / Getty Images )

Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton. ( Foto: CAMERON SPENCER / Getty Images )

Tiongkok Ingatkan Australia atas Pembatalan Kesepakatan BRI

Jumat, 23 April 2021 | 06:34 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok pada Kamis (22/4) mengatakan pembatalan kesepakatan Belt and Road Initiative (BRI) oleh Australia yang tiba-tiba, dapat merusak hubungan kedua negara. Tiongkok juga mengingatkan akan melancarkan pembalasan, tetapi Pemerintah Australia berkeras akan bergeming.

Pemerintah Federal Australia mencabut kesepakatan yang dijalin Negara Bagian Victoria pada Rabu (21/4) malam. Langkah tersebut dibenarkan oleh kementerian pertahanan untuk mencegah Australia menjadi tuan rumah skema infrastruktur raksasa yang digunakan untuk propaganda.

Pemerintah Australia menolak keputusan Negara Bagian Victoria untuk bergabung dengan Belt and Road Initiative, visi geostrategis unggulan dari Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk kawasan Asia Pasifik. Australia mengatakan kesepakatan itu tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri Australia.

Hubungan keduanya menukik turun setelah pertengkaran tentang asal-usul virus corona dan pemblokiran raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei oleh Pemerintah Australia. Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton mengatakan, pemerintah khawatir otoritas lokal memasuki perjanjian semacam itu dengan Tiongkok.

"Kami tidak bisa membiarkan kesepakatan semacam ini muncul karena itu digunakan untuk alasan propaganda dan kami tidak akan membiarkan itu terjadi," ungkapnya kepada radio setempat, Kamis (22/4), yang dikutip AFP.

Dutton mengatakan masalah pemerintah bukanlah dengan rakyat Tiongkok, melainkan nilai atau kebajikan atau pandangan Partai Komunis Tiongkok.

Tahun lalu Pemerintah Australia memberlakukan kekuatan baru yang memungkinkannya untuk membatalkan perjanjian apa pun antara otoritas negara dengan negara asing yang dianggap mengancam kepentingan nasional. Strategi itu secara luas dianggap menargetkan Tiongkok.

Target pertama pemerintah Australia adalah BRI, jaringan investasi luas yang menurut para kritikus adalah kedok Tiongkok untuk menciptakan pengaruh geopolitik dan keuangan.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan keputusan itu menindaklanjuti janji pemerintahnya untuk memastikan Australia memiliki kebijakan luar negeri konsisten. “Yang berjuang untuk dunia yang mencari keseimbangan sebagai kebaikan untuk kebebasan," kata Morrison.

Perpecahan antara pemerintah Australia dan pasar ekspor terbesarnya itu melebar pada Kamis, ketika Tiongkok mengecam pembatalan kesepakatan yang mendadak itu. Tiongkok mengingatkan putusan itu akan merusak kepercayaan antara kedua negara.

“(Tindakan itu) telah meracuni rasa saling percaya dan sangat merugikan hubungan Tiongkok-Australia. Tiongkok berhak untuk mengambil tindakan lebih lanjut dalam menanggapi ini," kata Juru Bicara Kementerian Lur Negeri Wang Wenbin pada konferensi pers di Beijing.

Sebelumnya, Dutton mengatakan dirinya akan sangat kecewa jika Pemerintah Tiongkok membalas tetapi ia menekankan bahwa Australia tidak akan diganggu oleh siapa pun.

"Kami akan mempertahankan apa yang kami yakini dan itulah yang telah kami lakukan di sini," kata dia.

BRI adalah contoh visi Xi untuk Asia, dengan kisi pelabuhan, jalur kereta api, zona ekonomi, dan investasi infrastruktur lainnya untuk menambatkan benua dan lebih erat lagi ke orbit komersial Tiongkok.

“Tidak jelas apakah kesepakatan negara bagian Victoria memiliki proyek yang sedang dalam proses atau apakah ada investasi telah dijanjikan," ujar Peter Cai, spesialis hubungan Australia-Tiongkok di Lowy Institute, kepada AFP.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN