Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang penjaga keamanan memasang pengumuman pemberitahuan tidak tersedianya tempat tidur untuk pasien di rumah sakit swasta, di tengah pandemi virus corona Covid-19 di Allahabad, pada 22 April 2021. ( Foto: SANJAY KANOJIA / AFP )

Seorang penjaga keamanan memasang pengumuman pemberitahuan tidak tersedianya tempat tidur untuk pasien di rumah sakit swasta, di tengah pandemi virus corona Covid-19 di Allahabad, pada 22 April 2021. ( Foto: SANJAY KANOJIA / AFP )

Covid-19 Masih Mengganas di India

Jumat, 23 April 2021 | 07:01 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

NEW DELHI, investor.id - India membukukan catatan global hampir 315.000 kasus baru Covid-19 pada Kamis (22/4). Rumah-rumah sakit di New Delhi mengirimkan peringatan bahwa pasien bisa meninggal tanpa mendapatkan pasokan oksigen baru.

Sistem perawatan kesehatan negara, yang telah lama kekurangan dana, sedang dipaksa hingga batas kemampuannya akibat gelombang kedua pandemi. Hal ini disebabkan oleh varian mutan ganda dan kerumuman massal yang menyebabkan penyebaran virus ini cepat.

Data Kementerian Kesehatan pada Kamis menunjukkan 314.835 infeksi baru dalam 24 jam terakhir, terbanyak di negara mana pun sejak pandemi dimulai. Angka baru itu menjadikan total kasus menjadi 15,9 juta di India, tertinggi kedua di dunia. Ada 2.074 korban jiwa, menjadikan total korban tewas hampir 185.000 korban jiwa.

Namun jumlahnya jauh lebih rendah per kapita dibandingkan di banyak negara lain, menimbulkan kekhawatiran situasinya bisa menjadi jauh lebih buruk.

Rumah sakit besar swasta maupun rumah sakit pemerintah di New Delhi telah mengirimkan permohonan mendesak ke pemerintah pusat. Pihaknya menyerukan permintaan untuk lebih banyak menyediakan oksigen bagi ratusan pasien, dengan bantuan ventilator.

Pada Rabu (21/4) hampir 500 ton oksigen dipasok ke Delhi, tetapi jumlah itu kurang dari 700 ton yang dibutuhkan per hari.

Adapun otoritas kota besar itu dijalankan oleh partai yang berbeda dengan partai pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi. Otoritas tersebut menuduh pemerintah negara-negara bagian lain yang diperintah oleh Partai BJP Modi telah menahan pasokan.

Pada Rabu malam, Pengadilan Tinggi Delhi memerintahkan otoritas untuk memastikan jalur yang aman untuk pasokan oksigen dari pabrik ke rumah sakit di seluruh India.

"Anda memohon, meminjam, dan mencuri, tetapi harus menyediakan," kata hakim, saat bertanya mengapa pemerintah tidak bangkit sampai dengan beratnya situasi.

Menteri Perdana Delhi Arvind Kejriwal mengatakan, dalam beberapa hari terakhir terjadi perebutan oksigen yang gila-gilaan. Satu rumah sakit atau yang lain kekurangan oksigen.

"Sekarang pasokan oksigen datang kami mencoba memastikan setiap truk yang membawa oksigen mencapai rumah sakit," imbuhnya.

Ia menambahkan, dirinya telah meminta oksigen diterbangkan dari negara bagian timur Odisha.

Lonjakan Kasus

Beberapa bulan terakhir telah menyaksikan pertemuan massal di India, termasuk jutaan orang menghadiri festival religi Kumbh Mela, mengadakan demonstrasi politik, pernikahan mewah, dan menyelenggarakan pertandingan kriket dengan banyak penonton.

"Pemerintah telah kewalahan," kata eksekutif call center Navneet Singh (38 tahun), kepada AFP.

Sekarang, negara bagian di seluruh India telah memberlakukan pembatasan, dengan Delhi dikunci selama seminggu, semua toko-toko non-vital ditutup di Maharashtra, dan Uttar Pradesh tutup pada akhir pekan.

Namun Modi pada Kamis masih mendesak para pemilih di Benggala Barat, untuk menggunakan hak pilih mereka ketika separuh dari negara bagian timur mengadakan pemilihan.

Di saat yang sama Benggala Barat juga dalam kesulitan krisis kesehatan, dengan Kolkata menghadapi kekurangan yang akut untuk tempat tidur rumah sakit. Hal ini disampaikan Kunar Sarkar, wakil ketua senior Rumah Sakit Medica Superspeciality.

"Tempat tidur dengan suplai oksigen terisi dengan cepat. Laporan mengalir dari sedikitnya 100 orang sedang menunggu di setiap rumah sakit di kota," jelas Sarkar kepada AFP.

Produksi obat-obatan utama virus corona melambat atau bahkan dihentikan pada awal 2021 di beberapa pabrik dan memang ada penundaan tawaran untuk pabrik-pabrik oksigen, menurut laporan pers.

Bahkan, Pemerintah Amerika Serikat (AS) sekarang menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan ke India, walau mereka yang telah divaksinasi penuh. Sedangkan Inggris menempatkan India pada daftar merah. Hong Kong dan Selandia Baru telah melarang penerbangan ke sana.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN