Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan. ( Foto: Fabrice Coffrini / AFP )

Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan. ( Foto: Fabrice Coffrini / AFP )

Ilmuwan WHO: Dunia Harus Lebih Baik Menangani Covid-19

Kamis, 20 Mei 2021 | 06:41 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JENEWA, investor.id - Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan kepada AFP bahwa ketimpangan dalam mengakses vaksin Covid-19 hari ini mirip dengan yang terjadi pada akhir 1990-an. Saat itu ia putus asa menyaksikan pasien-pasien HIV di India mati, sementara obat-obatannya dapat menyelamatkan nyawa di Barat.

Dua dekade lalu, Soumya Swaminathan menyaksikan pasien yang terinfeksi HIV menderita yang seringkali mengerikan dan meninggal padahal dapat dicegah. Ada pengobatan untuk penyakitnya, tetapi mereka tidak mampu membelinya.

Pengobatan yang efektif untuk HIV pertama kali diproduksi pada pertengahan 1990-an, tetapi hasilnya memiliki label harga tinggi lebih dari US$ 10.000 per pasien per tahun. Butuh hampir satu dekade sebelum obat-obatan tersedia untuk populasi yang lebih miskin.

"Saya memiliki pasien yang saya saksikan meninggal, kematian berkepanjangan yang mengerikan, ketika perawatan sudah tersedia di Barat. Saya kehilangan begitu banyak pasien dan anak-anak yatim piatu. Ingatan itu masih menghantui saya," kata Swaminathan dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Dokter anak dan ilmuwan klinis India, yang saat ini adalah salah satu pejabat WHO terkemuka di dunia, mengupayakan koordinasi respons pandemi.

Ia mengatakan, mengecewakan bahwa dunia mengulangi kesalahan masa lalu. "Anda harus belajar dari sejarah, tapi sepertinya kita tidak (belajar dari sejarah)," katanya.

Sampai saat ini hanya 0,3% dari dosis vaksin Covid-19 yang telah diberikan di negara-negara termiskin di dunia, yang merupakan rumah bagi hampir 10% populasi global.

"Itu sangat sulit untuk disaksikan dan itu salah secara moral dan etika," kata Swaminathan.

Ketidakseimbangan yang mencolok dalam akses vaksin terjadi meskipun ada upaya bersama untuk mengatasi ketidakadilan dalam sejarah.

WHO dan yang lainnya telah menciptakan Covax, program berbagi vaksin global. Tetapi program tersebut tetap sangat kekurangan dana dan menghadapi kekurangan pasokan yang signifikan, menunda upaya untuk meluncurkan vaksin di negara-negara miskin.

Tetap saja, Swaminathan mengatakan dirinya yakin Covax perlahan membuat perbedaan dan berharap itu pada akhirnya akan menjadi kisah sukses.

Sementara itu, ketidakadilan terus-menerus menambah frustrasi saat Swaminathan dan timnya berjuang memahami Covid-19 dan memberikan informasi yang diperlukan untuk mengendalikannya. “Bulan-bulan pertama pandemi sangat sulit,” kata wanita berusia 62 tahun itu.

Sebagai kepala ilmuwan WHO, dia merasakan tanggung jawab yang sangat besar. Selain itu, ada ketegangan pribadi bagi Swaminathan, yang pindah ke Jenewa untuk pekerjaan itu. Ia meninggalkan suami, anak-anak yang sudah dewasa, dan seluruh keluarganya di India, yang kini dalam genggaman wabah eksplosif.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN