Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kotak-kotak berisi vaksin Moderna Covid-19 sedang disiapkan untuk dikirim di pusat distribusi McKesson, di Olive Branch, Mississippi, Amerika Serikat (AS) pada 20 Desember 2020. ( Foto: Paul Sancya / POOL / AFP )

Kotak-kotak berisi vaksin Moderna Covid-19 sedang disiapkan untuk dikirim di pusat distribusi McKesson, di Olive Branch, Mississippi, Amerika Serikat (AS) pada 20 Desember 2020. ( Foto: Paul Sancya / POOL / AFP )

Perusahaan Vaksin Janjikan 3,5 Miliar Dosis untuk Negara Miskin

Sabtu, 22 Mei 2021 | 06:09 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

ROMA, investor.id – Perusahaan obat-obatan asal Amerika Serikat (AS), Pfizer, Moderna dan Johnson & Johnson (J&J) berjanji memasok sekitar 3,5 miliar dosis vaksin Covid-19 dengan biaya atau harga diskon untuk negara-negara miskin, pada tahun ini dan tahun depan. Hal ini disampaikan dalam pertemuan puncak kesehatan kelompok G-20 pada Jumat (21/5).

Dalam KTT itu, Chairman dan CEO Pfizer Albert Bourla berjanji memberikan dua miliar dosis vaksin Covid-19 selama 18 bulan ke depan, termasuk satu miliar dosis pada 2021. Sementara itu, CEO Moderna Stephane Bancel berjanji memberikan hingga 95 juta dosis untuk 2021 dan hingga 900 juta dosis pada 2022, termasuk melalui program berbagi vaksin di fasilitas Covax.

Sedangkan Vice Chairman dan Chief Scientific Officer Johnson & Johnson Paul Stoffels mengatakan, perusahaan memiliki kesepakatan dengan Covax hingga 200 juta dosis vaksin pada 2021, dan sedang mendiskusikan potensi penambahan 300 juta, sehingga total mencapai hingga 500 juta dosis.

Sebelumnya, Uni Eropa (UE) juga berjanji menyumbangkan 100 juta dosis vaksin ke negara-negara miskin. Hal ini disampaikan di awal pertemuan puncak global yang membicarakan cara-cara pulih dari pandemi - dan menghindari gelombang infeksi baru.

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Perdana Menteri Italia Mario Draghi mengeluarkan pengumuman bersama di Roma, Italia – negara yang saat ini menjadi tuan rumah pelaksanaan pertemuan G-20.

Para pemimpin dunia menggunakan KTT tersebut untuk menekankan pentingnya meningkatkan upaya pemberian vaksin di seluruh dunia, dan menetapkan apa yang perlu mereka lakukan demi menghindari krisis serupa lainnya.

Terkait hal tersebut, Uni Eropa mengumumkan inisiatif baru untuk mendukung manufaktur lokal di Afrika. Hal ini sejalan dengan pernyataan von der Leyen bahwa vaksin harus menjangkau semua orang, di mana saja.

UE Sumbang 100 Juta Dosis

“Tim Eropa bertujuan menyumbangkan setidaknya 100 juta dosis vaksin ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada akhir 2021,” demikian pengumuman yang disampaikan von der Leyen yang dikutip AFP.

Sementara itu, Draghi menambahkan: “Saat kita bersiap untuk pandemi berikutnya, prioritas kita harus memastikan bahwa kita semua mengatasi pandemi saat ini bersama-sama. Kita harus memvaksinasi dunia, dan melakukannya dengan cepat.”

Namun, deklarasi akhir tersebut diharapakan bukan untuk mendukung gagasan kontroversial tentang pengabaian global sementara atas perlindungan paten vaksin virus corona.

“Sebaliknya, para pemimpin akan menganjurkan penggunaan alat lain seperti perjanjian lisensi sukarela dan transfer teknologi,” kata para pejabat.

Sebagai informasi, India dan Afrika Selatan selama berbulan-bulan telah memimpin seruan untuk sementara waktu mencabut perlindungan akan hak kekayaan intelektual vaksin demi meningkatkan produksi. Posisi yang baru-baru ini mendapat dukungan Amerika Serikat (AS) tetapi direspons skeptisis di UE. Meski demikian, pelaksanaan KTT tersebut diharapkan menghasilkan 16 prinsip panduan untuk masa depan.

Di sisi lain, ada laporan peringatan yang dirilis awal bulan ini bahwa skala bencana pandemi Covid-19, yang telah menewaskan lebih dari 3,4 juta orang di seluruh dunia, dapat dicegah.

Menurut Panel Independen untuk Kesiapsiagaan dan Respon Pandemi, gabungan masalah (toxic cocktail) dari keruwetan dan koordinasi yang buruk menandakan peringatan yang tidak pernah diindahkan.

Namun pada Jumat, para pemimpin negara dari kelompok G-20 berjanji berinvestasi dalam hal sistem dan staf perawatan kesehatan global, pertukaran data yang lebih baik dan meningkatkan pengawasan penyakit manusia dan hewan. Demikian disampaikan para pejabat UE dan Italia.

Baik UE dan Italia sama-sama menekankan risiko yang beragam – mulai dari Brasil dan India, hingga Amerika Serikat, Turki, Tiongkok, Rusia, dan Singapura – sebagai bukti bahwa dunia dapat bersatu untuk menangani Covid-19.

Setidaknya sekitar 20 kepala negara dan pemerintahan dan 12 organisasi internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Uni Afrika, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan Bank Dunia, ambil bagian dalam KTT tersebut.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN