Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tanda pembayaran menggunakan mata uang yuan digital (e-CNY) berada di atas meja di sebuah toko, di Distrik Luohu, kota Shenzhen, provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, pada 11 Oktober 2020. (Foto: REUTERS )

Tanda pembayaran menggunakan mata uang yuan digital (e-CNY) berada di atas meja di sebuah toko, di Distrik Luohu, kota Shenzhen, provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, pada 11 Oktober 2020. (Foto: REUTERS )

Tekanan terhadap Kripto di Tiongkok Bukan Hal Baru

Selasa, 25 Mei 2021 | 06:15 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Langkah terbaru Tiongkok untuk memperketat regulasi mata uang kripto (cryptocurrency) bukanlah perkembangan baru. Demikian disampaikan Paul Mackel, kepala global riset FX di HSBC.

“Beberapa pesan sudah ada di sana selama beberapa waktu. Sejauh yang saya ketahui, ini bukan perkembangan baru. Mereka lebih berhati-hati pada mata uang kripto,” ujarnya kepada CNBC pada Senin (24/5).

Dia menambahkan, upaya Tiongkok baru-baru ini tidak bertentangan langsung dengan niatan negara tersebut untuk meluncurkan yuan digitalnya sendiri. Mata uang digital Bank Sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC) ini bertujuan menggantikan sejumlah uang tunai yang beredar.

“Saya tidak berpikir akan ada konflik dengan e-CNY ( yuan Tiongkok elektronik) setiap kali diluncurkan. Ini adalah mata uang digital yang sangat berbeda. Saya pikir mungkin ada masalah lain saat ini – tingkat spekulasi, volatilitas, dan apa artinya dalam hal lingkungan. Masalah-masalah ini mungkin telah mendominasi pemikiran mereka akhir-akhir ini,” kata Mackel.

Komentar Mackel itu muncul setelah Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He dan Dewan Negara mengatakan dalam pernyataan Jumat (21/5), bahwa peraturan yang lebih ketat tentang mata uang kripto diperlukan untuk melindungi sistem keuangan.

Pernyataan tersebut mengungkapkan, perlu untuk menindak penambangan Bitcoin dan perilaku perdagangan, dan dengan tegas mencegah transmisi risiko individu ke bidang sosial.

Sebagai informasi, harga bitcoin jatuh lebih jauh setelah pernyataan tersebut beredar di akhir pekan yang bergejolak. Menurut Coindesk, mata uang kripto ini melanjutkan aksi jualnya pada Minggu (23/5), dan diperdagangkan di harga US$ 35.040,30 pada pukul 01.49 pagi waktu setempat atau 5,17% lebih rendah,.

Langkah Tiongkok saat ini bukanlah hal baru. Bahkan tindakan keras negara terhadap mata uang kripto semakin meningkat pada 2017, ketika regulator menutup pertukaran bitcoin negara tersebut.

Bitcoin Siap Reli

Pendiri dan CEO dari platform mata uang kripto Ballet, Bobby Lee pun tidak berpikir bahwa harga bitcoin akan terus menurun meskipun ada tekanan regulasi dari Tiongkok. Faktanya, dia memperkirakan mata uang kripto bakal melonjak dalam beberapa bulan mendatang.

“Tidak mengherankan jika kami melihat (bitcoin) naik lagi, setelah kami turun dari level saat ini. Kami bisa mencapai US$ 100.000 atau bahkan lebih tinggi pada musim panas atau musim gugur,” tuturnya.

Dia juga mengharapkan tekanan regulasi Tiongkok mereda – seperti yang terjadi empat tahun lalu.

“Kembali ke tahun 2017, tekanan tertinggi mungkin terjadi pada September. Saat itulah Tiongkok mengumumkan penutupan banyak bursa yang beroperasi di pasar Tiongkok. Dan tentu saja, orang-orang mengingat dari sejarah bahwa setelah kejatuhannya, bitcoin menguat ke level tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 20.000 – atau harganya meningkat lebih dari lima kali lipat,” demikian penjelasan Lee, yang sebelumnya merupakan salah satu pendiri dan ceo BTC Tiongkok, yakni bursa bitcoin pertama di Negeri Tirai Bambu itu.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN