Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para pembeli sedang berbelanja produk di pasar swalayan, di Chicago, Illinois, pada 10 Juni 2021 . ( Foto: SCOTT OLSON / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Para pembeli sedang berbelanja produk di pasar swalayan, di Chicago, Illinois, pada 10 Juni 2021 . ( Foto: SCOTT OLSON / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

The Fed Diprediksi Masih Bertahan dengan Kebijakannya

Senin, 14 Juni 2021 | 06:11 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Laju inflasi di Amerika Serikat (AS) naik dan melebihi ekspektasi. Tapi kemajuan pemulihan pasar tenaga kerja dari pandemi Covid-19 masih lemah. Sehingga The Federal Reserve (The Fed) diprediksi masih bertahan dengan kebijakan akomodatifnya, di akhir pertemuan kebijakan dua hari pada Rabu (16/6) siang waktu setempat.

Gubernur The Fed Jerome Powell juga sudah menegaskan bahwa bank sentral akan mempertahankan program pembelian obligasi besar-besaran dan suku bunga acuan hampir nol. Sampai data menunjukkan peningkatan di penyerapan lapangan kerja baru di seluruh strata ekonomi tidak lagi sementara.

Tapi lonjakan inflasi belakangan ini di AS membuat tekanan yang dihadapi bank sentral makin berat. Tentang bagaimana mereka dapat mulai mengetatkan program-program stimulus moneter.

Sinyal-sinyal tentang langkah The Fed ke depan akan ditunggu pasar finansial di akhir pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC tersebut.

“Kebaikan tidak akan tanpa gangguan dan itu yang terjadi dengan pesatnya pembukaan kembali ekonomi. Sisi baiknya adalah pertumbuhan melonjak. Sisi buruknya inflasi konsumen juga melonjak dan persoalan-persoalan tenaga kerja menekan para pengusaha,” tutur ekonom Joel Naroff, seperti dikutip AFP.

Perekonomian AS bangkit dari dampak pandemi Covid-19 karena suksesnya program vaksinasi dalam beberapa bulan terakhir dan stimulus fiskal besar-besaran dari pemerintah. Dunia bisnis bergerak cepat untuk membuka lagi usahanya.

Prosesnya tidak berjalan mulus dan negara-negara lain tidak sepesat AS dalam vaksinasi Covid-19 dan pemulihan ekonomi. Sehingga terjadi kekurangan pasokan barang dan tenaga kerja di AS.

Hal itu membuat harga-harga melonjak. Indeks harga konsumen atau IHK pada Mei 2021 menyentuh level tertinggi dalam 13 tahun di angka 5%. Dibandingkan bulan yang sama pada 2020.

Walau para pejabat The Fed berkali-kali menekankan bahwa kenaikan inflasi itu sifatnya sementara. Harga mobil bekas dilaporkan menyumbang paling besar terhadap kenaikan IHK itu. Tapi sebagian pelaku pasar mulai menyuarakan kekhawatiran. Ditambah kubu Republik menentang rencana belanja pemerintahan Joe Biden.

“Kita semua harusnya sangat khawatir. Sudah terlampau lama bagi The Fed untuk memulai proses normalisasi kebijakan moneter,” ujar Senator Republik Pat Toomey, via Twitter belum lama ini.

Omari Swinton, dekan Fakultas Eknomi Universitas Harvard mengatakan, dunia usaha kesulitan mengisi lapangan kerja seiring bergeraknya kembali aktivitas ekonomi. Mereka harus bersaing dengan bonus US$ 1.000 yang ditawarkan perusahaan besar Amazon bila mau bergabung. Sehingga kekhawatiran terhadap inflasi dan juga upah itu sangat beralasan.

Isu yang saat ini menjadi bahan pertimbangan utama The Fed dalam menetapkan kebijakannya adalah isu sistemik tentang kekurangan tenaga kerja. Terutama jika angkatan kerja berkurang secara permanen akibat pandemi Covid-19.

“Tidak ada yang tahu apakah orang-orang akan kembali bekerja atau tidak. Jadi fokus mereka untuk memastikan pemulihan penyerapan lapangan kerja jauh lebih penting ketimbang inflasi,” ujar Swinton.

Hal tersebut yang selama ini menguatkan sikap Powell. Ia masih menepiskan kekhawatiran inflasi dan menekankan pentingnya ekonomi untuk tumbuh pesat sehingga para pekerja berupah rendah pun dapat mudah mendapatkan pekerjaan.

Walaupun tingkat pengangguran turun menjadi 5,8% pada Mei 2021, tapi tingkat pengangguran di antara warga berkulit hitam tetap setinggi 9,1%. Dan masih lebih dari tujuh juta lapangan kerja belum tersedia lagi, setelah hilang selama pandemi Covid-19.

“Pemulihan pasar tenaga kerja sejak akhir tahun lalu sudah solid, tapi masih jauh dari merata dan inklusif,” ujar Kathy Bostjancic, ekonom Oxford Economics.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN