Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala (kiri). ( Foto: Fabrice COFFRINI / POOL / AFP )

Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala (kiri). ( Foto: Fabrice COFFRINI / POOL / AFP )

Tiongkok Adukan Anti-Dumping Australia ke WTO

Jumat, 25 Juni 2021 | 06:16 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok mengatakan pada Kamis (24/6) bahwa pihaknya telah mengajukan gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terhadap kebijakan anti-dumping Australia atas berbagai barang ekspornya.

Gugatan tersebut, yang menyangkut ekspor roda kereta api, turbin angin, dan bak cuci baja tahan karat, keluar seminggu setelah pemerintah Australia menggugat tarif Tiongkok yang berdampak atas ekspor anggur Australia.

"(Ini bertujuan untuk) menjaga hak dan kepentingan sah perusahaan Tiongkok. Kami berharap Australia akan mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki praktik yang salah, menghindari distorsi dalam perdagangan produk terkait, dan mengembalikan perdagangan tersebut ke jalur normal sesegera mungkin," kata juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng pada briefing reguler, Kamis (24/6), yang dikutip AFP.

Adapun pemerintah Australia telah memberlakukan tarif atas roda kereta dan turbin angin buatan Tiongkok sejak 2019. Menteri Perdagangan Australia Dan Tehan mengatakan kepada wartawan di Canberra bahwa pemerintah Australia akan mempertahankan kewajiban-kewajibannya.

Ia menambahkan, meskipun pemerintah Australia menginginkan hubungan yang konstruktif dengan pemerintah Tiongkok, kebijakan tersebut dijalankan berdasarkan hasil analisis yang sangat ketat.

"Mengapa mereka mengambil tindakan ini sekarang adalah pertanyaan yang harus Anda tanyakan kepada Tiongkok," tambahnya.

Pemerintah Tiongkok pada November mengumumkan tarif hingga 218% atas anggur Australia, yang dikatakan dibuang ke pasar Tiongkok dengan harga bersubsidi.

Tindakan keras itu hampir menutup pasar anggur luar negeri terbesar Australia. Penjualan turun dari Aus$ 1,1 miliar (US$ 840 juta) menjadi hanya Aus$ 20 juta, menurut angka resmi.

Perdana Menteri (PM) Scott Morrison telah memperingatkan bahwa pemerintahnya akan menanggapi secara paksa negara-negara yang mencoba menggunakan pemaksaan ekonomi terhadap Australia.

Keputusan pekan lalu untuk membela produsen anggur Australia keluar enam bulan setelah pemerintah Australia mengajukan protes terpisah di WTO atas tarif jelai Australia. Ekspornya ke Tiongkok bernilai sekitar US$ 1 miliar per tahun.

Pemerintah Tiongkok telah memberlakukan sanksi ekonomi yang keras pada berbagai produk Australia dalam beberapa bulan terakhir, mulai dari tarif tinggi hingga praktik mengganggu di beberapa sektor pertanian dan pariwisata.

Pada Senin (21/6), Gao mengatakan pemerintah Tiongkok menentang penyalahgunaan langkah-langkah pemulihan perdagangan.

"Yang tidak hanya merusak hak dan kepentingan sah perusahaan Tiongkok, tetapi juga merusak kekhidmatan dan otoritas aturan WTO," tukasnya.

Tetapi tindakan balas dendam secara luas terlihat di Australia sebagai hukuman karena menolak operasi Tiongkok untuk memaksakan pengaruh di Australia, menolak investasi Tiongkok di daerah-daerah sensitif, dan secara terbuka menyerukan penyelidikan tentang asal-usul pandemi virus corona.

Awal bulan ini, pertemuan puncak ekonomi maju G7 menggemakan seruan pemerintah Australia untuk sikap yang lebih keras terhadap praktik perdagangan Tiongkok dan sikapnya yang lebih tegas secara global.

Pertemuan para pemimpin berakhir dengan pengumuman rencana yang dipimpin pemerintah Amerika Serikat untuk menandingi Belt and Road Initiative senilai triliunan dolar yang digagas Tiongkok.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN