Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: JUSTIN TALLIS / POOL / AFP )

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: JUSTIN TALLIS / POOL / AFP )

Menkeu AS:

AS Tetap Adidaya Jika Agenda Ekonomi Biden Sukses

Kamis, 5 Agustus 2021 | 06:06 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Janet Yellen mengingatkan pada Rabu (4/8) waktu setempat, bahwa pelaksanaan agenda-agenda ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sangat penting untuk mempertahankan status Amerika sebagai negara adidaya dengan kekuatan ekonomi utama di dunia. Demikian salinan pidato sambutan yang diperoleh CNBC.

Pernyataan Yellen tersebut akan disampaikan lewat pidato di Atlanta sebagai bagian dari pesan kilat Gedung Putih yang dirancang untuk menggalang kekuatan publik di balik rancangan undang-undang(RUU) infrastruktur bipartisan bernilai triliunan dolar, dan rencana anggaran belanja Demokrat yang bahkan nilainya lebih besar yakni US$ 3,5 triliun.

Selai itu, lawatan Yellen akan menjadi perjalanan domestik pertamanya dan cerminan dari perannya yang semakin terlihat sebagai salah satu pendukung pemerintah untuk investasi ekspansif dalam hal sumber daya manusia (SDM).

“Kami telah terbiasa dengan Amerika sebagai kekuatan ekonomi unggulan dunia. Kami tidak ditakdirkan untuk tetap seperti itu, tetapi dengan investasi ini, saya yakin kami akan melakukannya. Kami sekarang memiliki kesempatan untuk memperbaiki fondasi ekonomi kami yang rusak, dan di atasnya, untuk membangun sesuatu yang lebih adil dan lebih kuat dari sebelumnya,” ujar Yellen dalam sambutan yang sudah disiapkan.

Komentar Yellen muncul di sela-sela negosiasi kritis dengan parlemen di Capitol Hill. Pasalnya, Senat sedang tawar-menawar soal rincian akhir dari RUU infrastruktur, sementara Demokrat berusaha menyatukan partai mereka sendiri di seputar paket anggaran belanja yang lebih luas.

Dalam kesempatan itu, Yellen akan mendesak anggota parlemen untuk tidak melupakan ambisi mereka, dengan alasan bahwa pemulihan ekonomi negara tidak terjadi karena default. Ia juga menyambut baik rebound cepat dari resesi sebagai akibat langsung dari keputusan kebijakan pemerintahan Biden.

Dia menambahkan bahwa masalah sekuler jangka panjang – seperti turunnya partisipasi angkatan kerja, polarisasi upah, perubahan iklim – pun merupakan pilihan, bukan hasil yang tak terhindarkan.

“Kebijakan fiskal dapat membantu meringankan mereka. Atau kekurangannya dapat mengintensifkan mereka,” kata Yellen.

Titik Balik

Pembelaan total terhadap agenda Biden menandai titik balik lain dalam karir panjang Yellen. Meskipun ia menjabat selama dua tahun sebagai kepala ekonom di era presiden Bill Clinton pada akhir 90-an, sebagian besar waktunya di Washington telah dihabiskan dengan belajar menghindari politik saat menjabat di The Federal Reserve (The Fed) – pertama sebagai wakil ketua dan kemudian sebagai gubernur.

Sejak menjadi menteri keuangan, Yellen rutin memberi pengarahan kepada anggota parlemen Demokrat dan bahkan berdebat dengan Partai Republik.

“Dia telah menjadi pemimpin dalam beberapa topik (seperti pajak internasional), dan anggota kunci tim pada yang lain (seperti paket fiskal). Ini mungkin bukan masalah yang dia hadapi di The Fed, tetapi karir panjangnya dalam hal penelitian dan kebijakan telah melewati berbagai masalah,” ujar Kepala ekonom pemerintahan Barack Obama, Jason Furman dalam surat elektronik (email).

Ada pun salah satu pencapaian terbesar Yellen adalah mengamankan konsensus global untuk pajak minimum perusahaan, dan membujuk negara-negara lain untuk berhenti menargetkan raksasa perusahaan teknologi Amerika. Akan tetapi membuat anggota parlemen di AS untuk setuju dengan kesepakatan itu bisa menjadi tantangan yang lebih berat.

“Dia mendapat 132 negara menyetujui hal ini, dan ini adalah sesuatu yang telah meresap selama bertahun-tahun. Sekarang kita lihat apakah dia bisa mendapatkannya melalui Kongres,” tutur David Wessel, direktur Pusat Kebijakan Fiskal dan Moneter Hutchins (Hutchins Center for Fiscal and Monetary Policy).

Yellen sendiri memiliki harapan bahwa ada bagian dari rencana pajak internasional yang dimasukkan ke dalam paket US$ 3,5 triliun, yang digelontorkan Demokrat tanpa dukungan Partai Republik, yakni melalui proses rekonsiliasi anggaran.

Pidatonya pada Rabu juga menyoroti prioritas lain dalam paket itu, seperti kredit pajak anak, perumahan yang terjangkau, penitipan anak yang dapat diakses dan harga obat resep yang lebih rendah. Sebagai informasi, Yellen merupakan salah satu dari lima anggota Kabinet yang ditunjuk oleh Biden untuk membantu menawarkan usulan-usulan itu ke partainya sendiri dan kepada publik.

“Kekhawatiran terbesar saya bukanlah: Apa risikonya jika kita melakukan investasi besar ini?” Melainkan adalah: Berapa biayanya jika kita tidak melakukannya?”


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN