Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), Jake Sullivan saat tiba di markas besar Kementerian Pertahanan Brasil untuk melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan  Walter Souza Braga Netto  pada 5 Agustus 2021. ( Foto: SERGIO LIMA / AFP )

Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), Jake Sullivan saat tiba di markas besar Kementerian Pertahanan Brasil untuk melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Walter Souza Braga Netto pada 5 Agustus 2021. ( Foto: SERGIO LIMA / AFP )

Gedung Putih Minta OPEC Tingkatkan Produksi Minyak

Kamis, 12 Agustus 2021 | 05:56 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Gedung Putih akan meminta Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan negara produsen lainnya untuk meningkatkan produksinya demi memerangi lonjakan harga BBM di dalam negeri. Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang dilanda kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi dapat merusak pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19.

Menurut laporan, para pejabat dari pemerintahan Presiden Joe Biden telah berbicara dengan perwakilan pemimpin de facto OPEC Arab Saudi pada pekan ini. Serta dengan perwakilan dari Uni Emirat Arab (UEA) dan para anggota OPEC+ lainnya.

Gedung Putih menyatakan, perjanjian OPEC+ yang dicapai pada Juli 2021, untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) setiap bulan mulai Agustus dan berlanjut hingga 2022 belum mencukupi. Karena terjadi pada momen kritis pemulihan ekonomi global.

“Kami terlibat dengan anggota OPEC+ yang relevan, tentang pentingnya pasar kompetitif dalam menetapkan harga,” ujar Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan dalam pernyataan yang diperoleh CNBC.

Harga BBM di AS tahun ini naik akibat kembalinya permintaan produk minyak bumi. Menurut AAA, rata-rata nasional untuk harga satu galon bensin mencapai US$ 3,186 pada Selasa (10/8) atau naik dari US$ 3,143 di bulan yang lalu. Tercatat sepanjang tahun lalu, harga bensin telah naik lebih dari US$ 1.

Bahkan pada Mei, rerata nasional harga bensin telah melewati US$ 3 untuk pertama kalinya sejak 2014.

“Presiden menyadari bahwa harga bensin dapat menekan anggaran keluarga. Dia ingin pemerintahannya menggunakan segala instrumen yang dimiliki guna membantu mengatasi biaya bensin, untuk membantu menurunkan harga,” kata seorang pejabat senior Gedung Putih.

Lonjakan harga bensin itu terjadi di tengah rebound harga minyak. Pada April 2020, acuan harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam catatan akibat pandemi Covid yang melemahkan permintaan produk minyak bumi.

OPEC+ sendiri telah membuat keputusan luar biasa pada April 2020, yakni memangkas hampir 10 juta bph dalam upaya mendukung harga, sementara produsen AS juga menurunkan produksinya.

Pengurangan pasokan ditambah dengan pemulihan permintaan ternyata mendorong harga acuan WTI kembali di atas US$ 70 per barel. Meskipun harga acuan sedikit turun dari level itu dalam beberapa sesi terakhir.

Di sisi lain, OPEC+ masih menahan produksi sekitar 6 juta bph di mana rencananya akan dikembalikan ke pasar secara bertahap.

Seperti diketahui, Pertemuan terakhir OPEC+ sempat berakhir dengan kekisruhan setelah Uni Emirat Arab mempermasalahkan kuota dasarnya, yang sejenak mendorong pasar minyak ke dalam kekacauan. Namun, akhirnya OPEC+ mencapai kesepakatan pada Juli. Produsen AS pun sudah menghentikan produksi selama masa pandemi, dan bergerak lambat dalam mengembalikan produksi secara online. Menurut data terbaru dari Administrasi Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA), produksi minyak mentah AS pada Mei berada di kisaran 11,2 juta bph, turun dari level tertinggi pra-pandemi di atas 13 juta bph.

Sementara itu, kalangan konsumen sebagai pihak yang dirugikan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), dan bukan hanya soal harga bensin yang naik.

Menurut ekonom yang disurvei oleh Dow Jones, indeks harga konsumen (IHK) Juli yang segera dirilis Rabu (11/8) waktu setempat, dan para ekonom memprediksi bahwa harganya menunjukkan lonjakan 0,5% pada bulan lalu. Laporan ini menyusul kenaikkan 0,9% pada Juni, yang merupakan lonjakan bulanan terbesar sejak Agustus 2008.

Pemerintahan Biden juga disebut telah meminta Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commission/FTC) untuk memantau pasar bensin AS, dan mengatasi setiap perilaku ilegal yang mungkin berkontribusi terhadap kenaikan harga bagi konsumen di SPBU.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN