Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pria sedang melakukan pembayran menggunakan bitcoin di sebuah toko di El zonte, 56 km tenggara dari ibu kota San Salvador,  El Salvador, pada 9 Juni 2021. ( Foto: STANLEY ESTRADA / AFP )

Seorang pria sedang melakukan pembayran menggunakan bitcoin di sebuah toko di El zonte, 56 km tenggara dari ibu kota San Salvador, El Salvador, pada 9 Juni 2021. ( Foto: STANLEY ESTRADA / AFP )

Algoritma Berubah, Menambang Bitcoin Makin Sulit

Sabtu, 14 Agustus 2021 | 07:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SAN FRANCISCO, investor.id – Aktivitas menambang bitcoin kini disebut semakin sulit dan kurang menguntungkan. Pasalnya setiap dua pekan ada 2.016 blok yang akan diatur ulang oleh bitcoin, sehingga menyulitkan para penambang untuk melakukan aksinya.

Seperti yang diperkirakan terjadi pada Jumat (13/8) pagi waktu setempat, pengaturan ulang kode bitcoin secara otomatis menciptakan kerumitan sekitar 7,3% atau lebih sulit dalam memecahkan blok. Blok (blocks) sendiri didefinisikan sebagai catatan data berkaitan dengan jaringan bitcoin yang direkam secara permanen.

Biasanya lonjakan kesulitan berada di sisi yang lebih besar. Tetapi hal tersebut tidak mengejutkan, juga tidak mengkhawatikan. Melainkan sekadar menandai adanya peningkatan pertama yang cukup besar, sejak berlaku larangan penambangan di Tiongkok.

Hal ini sekaligus berfungsi sebagai penegasan dari tren yang diketahui sedang berlangsung bahwa beberapa penambang yang dulu berada di Tiongkok sedang mencari rumah baru di tempat lain.

Meskipun mencetak bitcoin tidak lagi terlalu menguntungkan, seperti sebelum algoritma melakukan koreksi otomatis. Sekarang para penambang masih terus menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan sebelum berlaku tindakan tegas terhadap kripto Negeri Tirai Bambu pada Mei.

“Tingkat hashrate masih turun 42,1% dari puncaknya pada Mei 2021 ketika terjadi eksodus Tiongkok,” ujar Jason Deane, seorang analis di perusahaan penasihat kripto Quantum Economics, yang dikutip CNBC.

Dia menambahkan, apabila terjadi defisit hashrate, artinya mereka yang terhubung ke jaringan bitcoin sekarang menghasilkan bank. Hashrate adalah tingkat kecepatan pertambangan aset kripto yang dilakukan oleh penambang.

Kembali Online

Ketika otoritas Tiongkok mengusir semua penambang kripto pada musim semi ini, lebih dari separuh daya komputasi di jaringan bitcoin padam. Para penambang di belahan dunia lain pun harus menerima kelonggaran itu. Pasalnya, lebih sedikit orang dan lebih sedikit daya komputasi berarti perlu waktu lebih lama untuk memverifikasi transaksi dan mencetak bitcoin baru.

Jadi, ibarat jarum jam, algoritma bitcoin melakukan koreksi otomatis terhadap penyimpangan norma itu Dan pada Juli, jaringan mengalami penurunan tingkat kesulitan luar biasa sebesar 28%. Lalu tiba-tiba, menjadi lebih mudah untuk membuat bitcoin baru, dan secara bersamaan penambang dunia kembali menyelesaikan blok transaksi dalam rata-rata sepuluh menit.

Fitur kode bitcoin itu merupakan bagian penting dari arsitektur jaringannya. Menurut laporan, pada musim semi ini, seluruh negara – yang menandakan 54% dari total hashrate bitcoin – menjadi offline, tetapi tidak termasuk bitcoin.

“Tidak ada penghentian (downtime) sama sekali pada jaringan bitcoin. Itu sebenarnya bagian paling cerdas dari perangkat lunak bitcoin, yakni melakukan penyesuaian kesulitan,” kata insinyur penambangan bitcoin Brandon Arvanaghi.

Bahkan seluruh episode tersebut dianggap sebagai fenomena mustahil bagi industri ini, tetapi terjadi. Menurut penambang kripto Alejandro de la Torre, fenomena itu pula yang membuat banyak orang menjadi lebih kaya.

Deane mengatakan dengan adanya penyesuaian baru, pada dasarnya tingkat kerumitan 7,3% kurang menguntungkan untuk menambang bitcoin pasca peningkatan. “Dengan asumsi biaya energi dan hashrate Anda, tetap tidak ada yang berubah, perhitungannya benar-benar sesederhana yang pertama kali muncul,” tuturnya.

Penyesuaian kesulitan juga mencerminkan fakta bahwa dunia pertambangan telah menyentuh dasar hashrate global. Bahkan sejak akhir Juni, para penambang telah kembali online dengan cepat.

“Kami telah melihat bagian bawah penurunan hashrate, dan itu tidak lain dari sini. Penyesuaian berikutnya mencerminkan fakta, bahwa para penambang sedang membangun kapasitas dan memasang mesin-mesin baru. Ada sejumlah besar mesin yang keluar dari Tiongkok dan memerlukan rumah baru,” ujar CEO Foundry, Mike Colyer – di mana perusahaan mata uang digitalnya telah membantu membawa peralatan pertambangan senilai lebih dari US$ 300 juta ke Amerika Utara.

Bangun Ulang

Menurut laporan beberapa mesin yang kembali online, adalah mesin-mesin yang sama dengan yang disambungkan di seluruh Tiongkok.

“Sebagian besar dari orang-orang ini tidak dapat pindah ke Amerika Serika (AS) karena kendala modal, karena mereka tidak berbicara bahasa Inggris dan tidak pernah meninggalkan wilayah Sichuan sepanjang hidup mereka. Yang mereka lakukan malah menjual semua mesin mereka. Ada aktivitas yang padat dalam hal penjualan mesin-mesin ini di seluruh dunia,” demikian dijelaskan De La Torre, wakil presiden kelompok tambang Poolin yang berkantor pusat di Singapura.

Tetapi banyak ASIC yang online langsung dari jalur produksi dari produsen terbesar di planet ini, seperti Bitmain dan Whatsminer. Alat-alat rig yang lebih baru ini pun diklaim lebih efisien.

Colyer menambahkan bahwa mereka mendapatkan sekitar dua kali lipat hashpower untuk jumlah listrik yang sama.

Faktanya, banyak orang dalam pertambangan memperkirakan bahwa sebagian besar peralatan generasi lama tidak akan pernah kembali online. Ini berarti seluruh jaringan akan menjadi lebih efisien – dan memicu lebih banyak persaingan di antara para penambang.

“Mesin-mesin yang lebih baru memiliki hashrate yang jauh lebih tinggi daripada pendahulunya sehingga kami kemungkinan akan melihat hashrate terus bergerak kembali ke level tertinggi baru dalam 12 bulan ke depan,” kata Whit Gibbs, CEO dan pendiri penyedia layanan penambangan bitcoin Compass.

Deane menambahkan, saat ini beberapa dari mesin baru sedang dalam perjalanan menuju ke para pembeli. Beberapa pemain yang lebih besar memiliki puluhan ribu ASIC baru yang dipesan dan bakal online selama 12 bulan ke depan.

“Ini berarti kesulitan akan terus meningkat dengan mantap, dan mungkin cukup signifikan, selama periode yang sama,” pungkas dia.

Sedangkan, Colyer memprediksi penyesuaian kesulitan lebih dari 10% setiap bulan segera dimulai saat ini. Ia menduga akan memakan waktu sembilan sampai dua belas bulan untuk menuju tingkat kesulitan berlipat ganda.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN