Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying. ( Foto: fmprc.gov.cn )

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying. ( Foto: fmprc.gov.cn )

Tiongkok Diduga Incar Cadangan 'Rare Earth' Afghanistan

Rabu, 18 Agustus 2021 | 06:30 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Menurut perkiraan Shamaila Khan, analis dan direktur uang pasar berkembang di AllianceBernstein, niatan Tiongkok dan negara-negara lain untuk masuk ke Afghanistan diduga mengincar cadangan logam tanah jarang (rare earth metals) bernilai triliunan dolar.

Berdasarkan laporan majalah The Diplomat yang mengutip pernyataan Ahmad Shah Katawazai, mantan diplomat di Kedutaan Besar Afghanistan di Washington DC, Amerika Serikat (AS), logam tanah jarang yang terkandung di Afghanistan diperkirakan memiliki nilai antara US$ 1 triliun dan US$ 3 triliun pada 2020. Sedangkan laporan dari organisasi berita Amerika, The Hill di awal tahun ini menyebut nilainya sekitar US$ 3 triliun.

Katawazai mengatakan, Afghanistan memiliki unsur tanah jarang seperti lantanum, serium, neodymium, dan lapisan aluminium, emas, perak, seng, merkuri, dan lithium. Logam tanah jarang ini dapat digunakan untuk segala hal mulai dari elektronik hingga kendaraan listrik, dan satelit serta pesawat terbang.

Sementara itu Khan menuturkan, perlunya tekanan terhadap Tiongkok, apabila akan melakukan aliansi dengan Taliban guna membantu perekonomian mereka, yakni harus dilakukan dengan persyaratan internasional.

“Hal itu harus menjadi inisiatif internasional untuk memastikan, bahwa jika ada negara yang setuju untuk mengeksploitasi mineralnya atas nama Taliban, hanya dapat dilakukan dengan syarat kemanusiaan yang ketat di mana hak asasi manusia, dan hak-hak perempuan dipertahankan dalam situasi tersebut,” demikian penjelasan Khan kepada CNBC, Selasa (17/8).

Pernyataan ini untuk merespons pertanyaan seputar motivasi komersial di balik isyarat dukungan Tiongkok kepada Taliban, sehari setelah para militan mengambil alih negara yang memiliki cadangn logam tanah jarang bernilai triliunan dolar.

Khan mengatakan, kebangkitan kembali gerilyawan Taliban disertai dengan ketersediaan sumber daya, memiliki proposisi sangat berbahaya bagi dunia karena mineral-mineral di perut Afghanistan dapat dieksploitasi.

Seperti yang telah diberitakan, Afghanistan jatuh ke tangan kelompok militan Islam selama akhir pekan, dengan merebut ibu kota Kabul serta Istana Kepresidenan. Hal ini terjadi setelah keputusan Presiden Joe Biden pada April untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan. Taliban pun memanfaatkan peluang itu dan membuat kemajuan yang menakjubkan di medan perang, sehingga kini hampir seluruh wilayah di negara itu berada di bawah kendali pemberontak.

Peran Besar Tiongkok

Beberapa jam setelah Taliban menyerbu Afghanistan, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying menyatakan pemerintahannya siap menjalin kerja sama persahabatan dengan Afghanistan.

“Atas dasar menghormati sepenuhnya kedaulatan Afghanistan dan kehendak semua faksi di negara itu, Tiongkok telah mempertahankan kontak dan komunikasi dengan Taliban Afghanistan, serta memainkan peran konstruktif dalam mempromosikan penyelesaian politik masalah Afghanistan,” ujar Hua pada konferensi pers, Senin (16/8).

Disampaikan oleh Hua, bahwa dalam beberapa kesematan Taliban mengatakan menantikan partisipasi Tiongkok dalam hal rekonstruksi dan pembangunan di Afghanistan.

“Kami siap untuk terus mengembangkan hubungan bertetangga yang baik dan kerja sama yang bersahabat dengan Afghanistan serta memainkan peran konstruktif dalam perdamaian dan rekonstruksi Afghanistan,” tambah dia.

Pada akhir Juli, sebelum serangan terakhir Taliban di Afghanistan, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi sempat bertemu dengan delegasi yang dipimpin oleh Kepala Komite Politik Taliban Afghanistan, Mullah Abdul Ghani Baradar di Tianjin.

Selain itu, media pemerintah Tiongkok dalam beberapa hari terakhir terus menggemakan sentimen serupa dengan kementerian luar negeri. Surat kabar The Global Times menerbitkan artikel pada 15 Agustus, yang mengutip pernyataan dari para ahli Tiongkok, tentang spekulasi bahwa Tiongkok mungkin mengirim pasukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh AS, adalah isu yang sama sekali tidak berdasar.

Namun, tabloid yang dikelola Negeri Tirai Bambu itu menunjukkan bahwa negara dapat berkontribusi pada rekonstruksi dan pembangunan pasca-perang, mendorong proyek-proyek di bawah Belt and Road Initiative (BRI) yang diusulkan Tiongkok.

“BRI adalah rencana investasi infrastruktur yang sangat besar untuk membangun jalur kereta api, jalan raya, laut, dan lainnya yang membentang dari Tiongkok hingga ke Asia Tengah, Afrika, dan Eropa.

Dominasi Tiongkok

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Tiongkok mendominasi pasar logam tanah jarang secara global. Sekitar 35% dari cadangan global tanah jarang berada di Tiongkok, dan merupakan yang terbesar di dunia,

Negeri Panda itu juga diklaim sebagai mesin pertambangan karena memproduksi 120.000 metrik ton atau 70% dari total logam tanah jarang pada 2018. Jumlah ini lebih besar dibandingkan AS yang menambang 15.000 metrik ton logam tanah jarang di tahun yang sama.

Cadangan AS juga tergolong terbatas dibandingkan Tiongkok. Pasalnya AS hanya memiliki total cadangan 1,4 juta metrik ton, dibandingkan 44 juta metrik ton cadangan di Tiongkok.

Di samping itu, Tiongkok kerap menggunakan isu logam tanah jarang sebagai ancaman selama perang dagang dengan AS pada 2019, yakni ketika Tiongkok mengancam memangkas pasokan ke AS.

Menurut USGS, mineral tanah jarang biasanya digunakan dalam perangkat teknologi tinggi, mobil, energi bersih, dan pertahanan. Oleh karena itu, AS sangat bergantung pada Tiongkok untuk memasok logam tanah jarang pada 2019, ketika negara di kawasan Asia itu mengekspor 80% kebutuhan AS.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN