Menu
Sign in
@ Contact
Search
Seorang pria tengah bermain game online di sebuah toko komputer di Beijing, Tiongkok pada 31 Agustus 2021. ( Foto: NOEL CELIS  / AFP )

Seorang pria tengah bermain game online di sebuah toko komputer di Beijing, Tiongkok pada 31 Agustus 2021. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Saham Tencent dan NetEase Terdampak Pembatasan Main Game Online

Rabu, 1 Sep 2021 | 06:08 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

GUANGZHOU, investor.id – Saham perusahaan game terbesar kedua di Tiongkok, NetEease dilaporkan anjlok pada Selasa (31/8) menyusul pengumuman regulator yang menyatakan bakal mengurangi waktu bermain game online untuk anak-anak.

Saham NetEase turun sekitar 2,9% pada transaksi perdagangan sore di Bursa Efek Hong Kong. Sementara itu rivalnya, Tencent turun lebih dari 3% pada hari sebelumnya tetapi berubah positif di kemudian hari.

Para analis memperkirakan arahan terbaru itu hanya berdampak ringan pada raksasa perusahaan game Tiongkok, yang mana menjadi salah satu alasan saham Tencent berbalik positif.

Sebagai informasi, industri permainanan merupakan sumber pendapatan terbesar bagi NetEase dan Tencent. Namun, para analis tidak memperkirakan muncul dampak besar terhadap perusahaan-perusahaan karena peratura baru regulator.

Advertisement

Tencent sebelumnya mengatakan bahwa pendapatan game yang dihasilkan dari para pemain muda di Tiongkok, hanya sebagian kecil dari total. Tercatat pada Kuartal II, 2,6% dari pendapatan kotor game di Negeri Panda itu berasal dari pemain di bawah 16 tahun.

“Kami memperkirakan sekitar 5% pendapatan game berasal dari anak di bawah usia 18 tahun, dan kami yakin ada sekitar 3% pendapatan yang berdampak pada Tencent jika kami menganggap game berkontribusi sekitar 60% dari total pendapatan,” demikian disampaikan bank investasi Jefferies dalam catatan Senin (30/8), yang dikutip CNBC.

Para analis lain menambahkan, bahwa anak-anak di bawah umur mewakili sebagian kecil dari pendapatan game NetEase.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Senin Administrasi Pers dan Publikasi Nasional (National Press and Publication Administration/NPPA) Tiongkok mengeluarkan peraturan baru di mana anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun di Negeri Tirai Bambu hanya diperbolehkan bermain game online selama 3 jam per minggu.

Menurut pemberitahuan tentang peraturan baru, mereka yang berusia di bawah 18 tahun hanya diizinkan main game selama satu jam sehari, antara pukul 20.00 dan 21.00 saat akhir pekan dan di hari libur resmi..

Pengumuman peratuan NPPA itu sebagai cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental anak-anak.

Aturan terbaru dari NPPA tersebut secara signifikan mengurangi jumlah waktu bermain game online bagi anak-anak di bawah umur. Sebelumnya pada aturan 2019, kelompok usia di bawah 18 tahun masih diizinkan bermain game selama 1,5 jam per hari, hampir setiap hari.

Selain itu, aturan juga akan diberlakukan bagi perusahaan-perushaan yang menyediakan layanan game online untuk anak-anak di bawah umur, serta membatasi kemampuan melayani pengguna di luar jam yang ditentukan. Perusahaan tidak akan diizinkan memberikan layanan kepada para pengguna yang belum mendaftar dengan nama asli, dengan alasan mencegah mengabaikan latar belakang pengguna.

Kecanduan Game

Tencent dan NetEase sendiri telah melalui serangkaian regulasi game sebelumnya. Pada 2018, regulator membekukan persetujuan rilis game baru selama beberapa bulan. Tencent dan NetEase kemudian mengambil langkah untuk membatasi jumlah waktu anak muda bermain game online mereka.

Bahkan Tencent telah mengambil langkah-langkah mendahului regulator dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juli, Tencent sempat memperkenalkan persyaratan bagi para gamer untuk melakukan pemindaian pengenalan wajah di ponsel mereka guna memverifikasi apakah mereka sudah dewasa.

“Ada lebih dari 110 juta anak di bawah umur yang bermain video game di Tiongkok hari ini, dan kami memperkirakan batasan baru mengarah pada penurunan jumlah pemain, pengurangan jumlah waktu dan uang yang dihabiskan untuk bermain game oleh mereka yang berusia di bawah 18 tahun,” demikian penjelasan Daniel Ahmad, analis senior Niko Partners, yang dikutip CNBC.

Namun, lanjut Ahmad, pihaknya tidak memperkirakan penurunan pembelanjaan memiliki dampak material yang signifikan pada laba perusahaan game mengingat aturan batasan waktu, dan pembelanjaan telah diberlakukan untuk anak-anak di bawah umur selama dua tahun terakhir.

“Oleh karena itu, kami mengharapkan dampak yang lebih lunak pada tingkat pertumbuhan keseluruhan karena pengeluaran di kalangan anak di bawah umur sudah rendah,” kata dia.

Sudah lama, Tiongkok khawatir dengan kecanduan game di kalangan anak muda negara itu. Konsol game pun telah dilarang selama sekitar 14 tahun hingga 2014.

Bahkan ada surat kabar yang memuat artikel soal kecanduan game pada bulan ini melabeli permainan game online ibarat “opium”, dan menyerukan pembatasan lebih lanjut. Namun artikel itu telah dihapus dan diterbitkan ulang dengan judul baru, tanpa menyebut kata opium. Meski demikian, muncul kekhawatiran di kalangan investor bahwa pembatasan permainan lebih lanjut bisa terjadi lagi.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com