Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO Moderna Stephane Bancel saat wawancara lewat video dengan AFP pada 17 November 2020. ( Foto: IVAN COURONNE / AFP )

CEO Moderna Stephane Bancel saat wawancara lewat video dengan AFP pada 17 November 2020. ( Foto: IVAN COURONNE / AFP )

Moderna Ajukan Otorisasi Booster ke Regulator AS

Jumat, 3 September 2021 | 06:34 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Perusahaan farmasi dan bioteknologi Moderna mengumumkan telah mulai mengajukan otoritsasi ke badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (AS) atau FDA untuk memberi persetujuan vaksin Covid-19 booster. Sebelumnya, data hasil uji coba menunjukkan peningkatan antibodi yang signifikan terhadap varian virus.

Suntikan ketiga vaksin, yang dikenal sebagai mRNA-1273, diberikan kepada 344 relawan dalam sebuah penelitian enam bulan setelah pemberian dosis kedua. Dua dosis pertama adalah 100 mikrogram, sedangkan dosis booster setengahnya yakni 50 mikrogram.

Hasil analisis menunjukkan booster meningkatkan tingkat antibodi penetralisir terhadap varian yang menjadi diwaspadai atau variants of concern (VoC).

Booster meningkatkan antibodi hingga lebih dari 42,3 kali lipat untuk varian Delta, Gamma 43,6 kali lipat, dan Beta 32 kali lipat. Peningkatan serupa terlihat di seluruh kelompok usia, termasuk di atas 65 tahun.

Delta yang sangat menular, pertama kali diidentifikasi di India, sekarang menjadi strain dominan secara global.

"Kami tetap berkomitmen untuk tetap lebih maju dari virus dan mengikuti perkembangan epidemiologi SARS-CoV-2," kata CEO Moderna Stephane Bancel dalam sebuah pernyataan, Kamis (2/9).

Perusahaan mengatakan, pihaknya juga merencanakan pengiriman ke Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) dan otoritas lainnya dalam beberapa hari mendatang.

Moderna mengirimkan data untuk pengulangan vaksin pertamanya, yang dikembangkan melawan strain asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Tiongkok. Sebelumnya, perusahaan telah menguji booster untuk melawan varian spesifik, Beta, yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan tetapi telah memudar dalam beberapa bulan terakhir.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah mulai menawarkan dosis vaksin Covid-19 ketiga kepada orang yang mengalami gangguan imunitas. Pihaknya berencana memperluas vaksin booster ke semua orang yang memenuhi syarat, delapan bulan setelah dosis kedua mereka, yang dimulai 20 September.

Keputusan itu membuat banyak pakar kesehatan bingung. Pasalnya, meskipun ada bukti bahwa kemanjuran vaksin berkurang terhadap infeksi, sebagian besar vaksin tetap stabil terhadap jumlah pasien rawat inap dan jumlah kematian. Padahal vaksin booster diberikan untuk menurunkan angka-angka tersebut.

Langkah ini juga telah dikritik, dengan alasan sebagian besar negara berkembang saat ini bahkan tidak memiliki vaksin yang cukup untuk memberikan dosis pertama atau kedua untuk populasinya.

Pemerintah AS dipertanyakan atas etika dan politiknya karena gagal menyediakan vaksin ke negara-negara miskin, meninggalkan daerah yang belum menerima vaksin untuk jangka waktu yang lama. Hal ini dinilai berisiko inkubasi varian baru virus dan mungkin lebih berbahaya, mungkin melampaui tindakan protektif dari generasi vaksin yang ada saat ini.

Pada hari yang sama, FDA mengumumkan akan mengadakan pertemuan pada 17 September untuk mengevaluasi apakah akan mengotorisasi dosis booster ketiga dari suntikan mRNA Covid-19 Pfizer.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN