Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung bank sentral Tiongkok, Peoples Bank of China (PBoC) di Beijing. ( Foto: Giulia Marchi / Bloomberg )

Gedung bank sentral Tiongkok, Peoples Bank of China (PBoC) di Beijing. ( Foto: Giulia Marchi / Bloomberg )

PBoC Tidak akan Mengambil Kebijakan Stimulus Agresif

Kamis, 9 September 2021 | 06:29 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Para pembuat kebijakan bank sentral Tiongkok atau People's Bank of China (PBoC) akan menahan diri untuk mengambil langkah-langkah agresif demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menurut Wakil Gubernur PBoC dan Kepala Administrasi Negara Valuta Asing, Pan Gongsheng, Tiongkok tidak akan memulai banjir stimulus besar-besaran.

“Kebijakan moneter Tiongkok tetap dalam kisaran normal,” ujar Pan, menurut terjemahan CNBC dari pernyataan berbahasa mandarin yang dikutip dari situs laman bank sentral, pada Selasa (7/9).

Merespons kabar tersebut, indeks komposit Shanghai dilaporkan sedikit mengalami perubahan di akhir sesi perdagangan Rabu pagi, setelah dua hari berturut-turut menunjukkan penguatan masing-masing lebih dari 1% masing-masing.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Tiongkok dengan tenor 10 tahun dilaporkan diperdagangkan mendekati 2,86%.

Kepala ekonom Tiongkok Nomura, Ting Lu, mencatat bahwa imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10-tahun menandakan kenaikan lebih tinggi dari 2,85% pada Selasa malam menjadi 2,87%. Hal ini disebabkan pasar menafsirkan komentar tambahan dari para pembuat kebijakan sebagai sinyal pelonggaran moneter yang lebih sedikit.

“Kondisi saat ini mungkin tidak memerlukan likuiditas sebanyak sebelumnya untuk menjaga suku bunga pasar uang beroperasi secara stabil,” kata Sun Guofeng, kepala kebijakan moneter bank sentral.

Instrumen Memadai

Sun menambahkan bahwa bank sentral memiliki instrumen-instrumen memadai guna memastikan likuiditas pasar. Di antaranya, PBoC menggunakan berbagai tindakan, tidak hanya satu, untuk menerapkan kebijakan moneter. PBoC juga telah memangkas giro wajib minimum (GWM) – yaitu jumlah yang harus dipegang bank sebagai cadangan – pada Juli untuk pertama kalinya sejak April 2020. Hanya saja kisara tingkat suku bunga acuan, suku bunga pinjaman, tetap sama selama 16 bulan berturut-turut.

Sebelumya pada pekan lalu, Dewan Negara mengatakan bahwa bank sentral akan mengeluarkan tambahan anggaran 300 miliar yuan (US $ 46,5 miliar) kepada perbankan untuk dipinjamkan ke kelompok usaha kecil dan menengah.

“Komentar bank sentral ini mengurangi kemungkinan pelonggaran kebijakan agresif yang segera terjadi, mengingat PBoC tampaknya nyaman dengan kondisi likuiditas dan tingkat suku bunga saat ini. Secara keseluruhan, komentar Sun menunjukkan bahwa PBoC tidak mengubah sikap kebijakannya yang bijaksana meskipun ada hambatan ekonomi yang kaku,” tutur Aidan Yao, ekonom senior Asia dari AXA Investment Managers, dalam sebuah pernyataan.

Data perdagangan Tiongkok untuk Agustus menunjukkan kinerja jauh lebih baik dari yang diharapkan pada Selasa, karena ekspor melonjak 25,6% dan impor naik 33,1% dari tahun lalu.

Ada pun laporan ekonomi lain yang memperlihatkan perlambatan pertumbuhan dalam beberapa bulan terakhir, terutama pada akhir Juli dan Agustus ketika Tiongkok berjuang melawan wabah virus corona Covid-19 terbesarnya sejak awal pandemi pada awal 2020.

Sedangkan penjualan ritel dan data untuk Agustus akan dirilis pada 15 September.

“Pertumbuhan akan berada di bawah tekanan pada Kuartal III,” tutur Wakil Direktur Komisi Kebijakan Ekonomi, Xu Hongcai dari Asosiasi Ilmu Kebijakan Tiongkok (China Association of Policy Science).

Dia mencatat bahwa ekspor tidak dapat mempertahankan pertumbuhan dalam jangka panjang, dan ekonomi perlu lebih mengandalkan konsumsi dan investasi industri, mengingat keduanya telah tertinggal.

“Tetapi komentar bank sentral mencerminkan stabilitas keseluruhan dalam perekonomian,” kata Xu, seraya memperkirakan belanja pemerintah dan langkah-langkah kebijakan fiskal lainnya akan memainkan peran yang lebih besar dalam merangsang ekonomi di beberapa bulan ke depan.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN