Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi lembaran alumunium. ( Foto: simon2579 / Getty Images / iStockphoto

Ilustrasi lembaran alumunium. ( Foto: simon2579 / Getty Images / iStockphoto

Harga Aluminium Tembus US$ 3.000 Per Ton

Selasa, 14 September 2021 | 06:37 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id - Harga aluminium mencapai tepat US$ 3.000 per ton dalam perdagangan Senin (13/9). Ini adalah level harga tertinggi logam tersebut dalam 13 tahun terakhir. Persediaan yang ketat dan menipis diperburuk oleh kudeta militer baru-baru ini di Guinea, Afrika Barat. Negara Afrika tersebut kaya akan batuan bauksit, dari mana aluminium diproses.

Harga aluminium telah melonjak sebelum kudeta terjadi pada awal bulan, naik sekitar 40% sejak Januari 2021 karena aktivitas ekonomi global bangkit kembali dari palung Covid-19.

Setelah mencapai level tertinggi sejak 2008, logam dasar yang digunakan dalam barang sehari-hari itu turun menjadi US$ 2.953 per ton dalam transaksi sesi pagi di London Metal Exchange.

"Ini semua tentang masalah pasokan yang mendorong harga aluminium semakin tinggi," jelas analis Commerzbank Daniel Briesemann kepada AFP, Senin (13/9).

Penyebab kenaikan harga juga karena naiknya tarif listrik di Tiongkok, yang telah menyebabkan penurunan produksi peleburan di wilayah barat Xinjiang. Adapun peleburan aluminium menghabiskan banyak energi.

Guinea memiliki cadangan bauksit terbesar di dunia, batuan kemerahan atau abu-abu. Aluminium oksida yang terkandung di dalamnya dilebur menjadi aluminium.

Saat ini, militer yang berkuasa di Guinea berada di bawah tekanan diplomatik yang meningkat. Sebelumnya, pasukan khusus yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Mamady Doumbouya merebut kekuasaan dan menangkap presiden Alpha Conde.

Kenaikan harga komoditas tersebut telah meningkatkan inflasi yang melonjak, kekhawatiran yang pada gilirannya meningkatkan dolar karena para investor mengincar suku bunga yang lebih tinggi untuk menjinakkan harga yang tidak terkendali.

"Melonjaknya harga komoditas menunjukkan sedikit tanda akan berhenti," kata Joshua Mahony, analis pasar senior di kelompok perdagangan IG, karena harga minyak naik 1% pada perdagangan Senin.

Setelah mencapai angka US$ 3.000, harga aluminium turun kembali ke US$ 2.952 sekitar tengah hari di London Metal Exchange.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN