Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang berkumpul di kantor pusat Evergrande di Shenzhen, Tiongkok tenggara pada 15 September 2021. Raksasa perusahaan properti Tiongkok  itu mengatakan sedang menghadapi kesulitan luar biasa, tetapi membantah desas-desus akan kolaps. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Orang-orang berkumpul di kantor pusat Evergrande di Shenzhen, Tiongkok tenggara pada 15 September 2021. Raksasa perusahaan properti Tiongkok itu mengatakan sedang menghadapi kesulitan luar biasa, tetapi membantah desas-desus akan kolaps. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Penjualan Terus Turun, Evergrande Berisiko Gagal Bayar

Rabu, 15 September 2021 | 06:19 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Raksasa perusahaan properti Tiongkok, Evergrande mengatakan pada Selasa (14/9) bahwa angka penjualan propertinya akan terus merosot secara signifikan pada September, dan mengakibatkan penurunan kas lebih lanjut.

Perusahaan kembali menegaskan soal kemungkinan gagal membayar utangnya, seperti yang telah disampaikan dua pekan lalu. Evergrande sendiri disebut-sebut telah mencoba menjual beberapa aset untuk meredakan krisis likuiditas, tetapi upayanya belum membuahkan hasil.

Di sisi lain saham Evergrande dilaporkan anjlok hampir 10% pada transaksi perdagangan pagi. Sementara sepanjang tahun ini, sahamnya sudah turun hampir 80%.

Penjualan Evergrande diklaim terus menurun sejak Juni. Bahkan dalam pengajuan dokumen (filing) ke bursa saham Hong Kong, perusahaan memprediksi terjadi penurunan penjualan berkelanjutan yang signifikan pada bulan ini.

Hal itu, dilanjutkan oleh Evergrande, bakal mengarah pada kemerosotan berkelanjutan pengumpulan kas oleh Grup, yang pada gilirannya akan memberikan tekanan luar biasa pada arus kas dan likuiditas Grup.

“Pada bulan September, biasanya perusahaan real estat di Tiongkok mencatatkan penjualan kontrak properti yang lebih tinggi. Namun, laporan media negatif yang sedang berlangsung mengenai Grup ini telah mengurangi kepercayaan calon pembeli properti terhadap Grup,” demikian pernyataan perusahaan dalam pengajuan dokumen, yang dikutip CNBC.

Sementara itu, lembaga pemeringkat telah berulang kali menurunkan peringkat Evergrande sejak tahun lalu karena pengembang properti yang dililit utang tertinggi di dunia itu tengah berjuang untuk tetap likuid.

Posisi keuangan perusahaan dilaporkan terkikis, terutama setelah Pemerintah Tiongkok membeberkan peraturan untuk mengendalikan biaya pinjaman pengembang. Langkah-langkah ini yang kemudian membatasi utang dalam kaitannya dengan arus kas, aset, dan tingkat modal perusahaan.

Kantor pusat Evergrande di Shenzhen, Tiongkok tenggara pada 14 September 2021.  ( Foto: NOEL CELIS / AFP )
Kantor pusat Evergrande di Shenzhen, Tiongkok tenggara pada 14 September 2021. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )

Risiko Gagal Bayar

Alhasil, unit-unit bisnis Evergrande mencoba melakukan penjualan, termasuk China Evergrande New Energy Vehicle dan Evergrande Property Services. Namun sejauh ini belum ada kesepakatan dengan investor mana pun, dan masih belum ada kepastian apakah perusahaan dapat memastikan bentuk penjualan apa pun.

Di samping itu, perusahaan dikabarkan tengah aktif menjajaki penjualan gedung kantornya di Hong Kong, yakno China Evergrande Center di daerah Wan Chai. Tetapi, lagi-lagi, upayanya belum membuahkan hasil.

Evergrande telah menyatakan bakal terus mengambil langkah-langkah untuk meredakan masalah likuiditasnya, termasuk mengendalikan biaya secara ketat, mempromosikan penjualan, dan menjual aset-aset.

Evergrande kembali memperingatkan masalah yang meningkat juga dapat menyebabkan risiko gagal bayar yang lebih luas (cross default).

“Mengingat kesulitan, tantangan dan ketidakpastian dalam meningkatkan likuiditasnya sebagaimana disebutkan di atas, tidak ada jaminan bahwa Grup akan dapat memenuhi kewajiban keuangannya berdasarkan dokumen pembiayaan yang relevan dan kontrak lainnya,” demikian peringatan para investor.

Dikatakan juga bahwa jika tidak dapat membayar utangnya maka dapat menyebabkan situasi gagal bayar di bawah pengaturan pembiayaan yang ada, dan kreditur terkait menuntut pembayaran.

Sebagai informasi, istilah cross default, berarti bahwa gagal bayar yang dipicu dalam satu situasi dapat menyebar ke kewajiban lainnya. Di mana hal tersebut dapat menyebabkan penularan yang lebih luas ke sektor-sektor lain.

Protes Investor

Di sisi lain, puluhan investor yang cemas menggelar aksi protes di luar markas raksasa properti Evergrande yang berlokasi di kota Shenzhen selatan, Tiongkok pada Selasa. Ini terjadi setelah Evergrande mengakui tengah berada di bawah tekanan luar biasa, dan mungkin tidak dapat memenuhi pembayarannya.

Penderitaan Evergrande itu menimbulkan kekhawatiran penularan ke seluruh sektor properti Tiongkok sedang terlilit utang, dan memukul perbankan serta investor.

Perusahaan pengembang properti yang listing di bursa Hong Kong itu sedang terpuruk di bawah kewajiban utang yang menggunung dengan total lebih dari US$ 300 miliar, setelah bertahun-tahun meminjam untuk mendanai pertumbuhan yang cepat.

Diperkirakan ada 60-70 orang yang berkumpul di luar kantor pusat Evergrande untuk menuntut jawaban perusahaan. Para investor yang cemas ini berkerumun di depan pintu masuk gedung, sementara polisi dikerahkan untuk menjaga ketertiban.

“Bos kami berutang lebih dari 20 juta yuan (US$ 3,1 juta), dan banyak orang di sini berutang lebih banyak lagi. Kami pasti sangat cemas. Tidak ada penjelasan yang jelas saat ini, mereka seharusnya membayar uang itu saat jatuh tempo,” ungkap seorang pria bernama Chen kepada AFP.

Sebelumnya pada Senin, perusahaan berkeras akan menghindari kebangkrutan. Tetapi pada Selasa, mereka mengeluarkan pernyataan lain ke bursa saham Hong Kong, dengan mengatakan telah menyewa penasihat keuangan untuk mengeksplorasi semua solusi yang layak untuk meredakan krisis uangnya.

Pernyataan itu memperingatkan bahwa tidak ada jaminan Evergrande akan memenuhi kewajiban keuangannya. Perusahaan pun berbalik menuding pemberitaan negatif media yang sedang berlangsung sebagai penyebab rusaknya proses penjualan di periode penting September.

“Ini yang mengakibatkan penurunan terus menerus pengumpulan uang tunai oleh Grup yang pada gilirannya akan memberikan tekanan luar biasa pada arus kas dan likuiditas,” katanya.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN