Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei saat menghadiri diskusi panel di kantor pusat perusahaan di Shenzhen, provinsi Guangdong, Tiongkok pada 17 Juni 2019. ( Foto: ALY SONG / REUTERS ) 
Aly Song | Reuters

Pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei saat menghadiri diskusi panel di kantor pusat perusahaan di Shenzhen, provinsi Guangdong, Tiongkok pada 17 Juni 2019. ( Foto: ALY SONG / REUTERS ) Aly Song | Reuters

Hadapi Sanksi AS, Huawei Rekrut Lebih Banyak Ilmuwan

Rabu, 15 September 2021 | 14:01 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei mengatakan sedang menambah awak tim ilmuwannya, kendati perusahaan telah kehilangan pendapatan usai dikenakan sanksi oleh pihak berwenang Amerika Serikat (AS).

Langkah Huawei tersebut menjadi pertaruhan karena dengan melipatgandakan penelitian dapat membantu Tiongkok membangun teknologinya sendiri. Sementara itu, saat ini, AS di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden tengah bertekad untuk bersaing dengan Tiongkok, dan terus membatasi akses perusahaan-perusahaan Tiongkok ke teknologi semikonduktor dari Negeri Paman Sam tersebut.

Menurut siaran pers, Rabu (14/9), CEO Huawei, Ren Zhengfei mengklaim dalam pertemuan internal awal Agustus bahwa perusahaan telah membayar tenaga kerjanya yang berkembang tepat waktu, meskipun ada tekanan dari AS. Padahal kebanyakan perusahaan Tiongkok dikenal kerap menunda pembayaran karyawan, atau memaksa pengunduran diri tanpa paket kompensasi.

“Terlepas dari pembatasan AS selama dua tahun terakhir, kami tidak mengubah kebijakan sumber daya manusia kami, dan semuanya berjalan seperti biasa, seperti gaji dan distribusi bonus, kenaikan peringkat pekerjaan, dan distribusi saham perusahaan. Tidak ada kekacauan di dalam perusahaan. Sebaliknya, perusahaan sekarang lebih bersatu dari sebelumnya, dan bahkan telah menarik lebih banyak talenta,” demikian penjelasan Ren, yang dikutip CNBC.

Perusahaan telekomunikasi asal Negeri Tirai Bambu itu mengklaim telah meningkatkan jumlah karyawan sebanyak 3.000 orang antara akhir 2019 dan 2020, di tengah pandemi virus corona. Menurut Huawei, lebih dari setengah atau 53,4% karyawan berada di divisi penelitian dan pengembangan.

Pada 2019, pemerintahan mantan presiden Donald Trump menempatkan Huawei dalam daftar hitam, dan membatasi perusahaan-perusahaan Amerika untuk menjual teknologi ke perusahaan Tiongkok dengan alasan masalah keamanan nasional. Huawei sendiri membantah bahwa pihaknya telah menimbulkan ancaman seperti itu.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : CNBC

BAGIKAN