Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aksi demo global darurat iklim. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Aksi demo global darurat iklim. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Australia Mungkin Tidak Bergabung dengan KTT Iklim Global

Senin, 27 September 2021 | 22:39 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

SYDNEY , investor.id -   Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison berada di bawah tekanan untuk mengadopsi target pengurangan energi hingga emisi karbon nol pada 2050. Namun ia mengatakan dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Senin (27/9) bahwa negara itu  mungkin tidak bergabung dengan konferensi tingkat tinggi (KTT) iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini di Glasgow.

Australia merupakan eksportir batu bara terbesar di dunia berdasarkan nilai dan masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk sebagian besar energi listriknya. Hingga kini, pemerintah Negeri  Kanguru belum membuat komitmen tegas atas pengurangan gas rumah kaca di dalam negeri.

Morrison sebelumnya  berjanji  terus menambang dan mengekspor bahan bakar fosil selama ada pembeli. Ditanya tentang menghadiri konferensi krisis iklim global pada November 2021, Morrison mengatakan kepada media West Australian bahwa pihaknya belum membuat keputusan akhir.

"Maksud saya ini adalah perjalanan lain lagi ke luar negeri dan telah melakukan beberapa (kunjungan ke luar negeri) tahun ini dan menghabiskan banyak waktu di karantina," kata Morrison, Senin (27/9).

"Saya harus fokus pada hal-hal di sini dan dengan Covid-19. Australia akan melonggarkan (penguncian) sekitar waktu (KTT) itu. Akan ada banyak masalah untuk dikelola dan saya harus mengelola tuntutan yang saling berlomba (untuk diselesaikan) itu," papar dia.

Konferensi iklim mendatang adalah yang terbesar sejak pembicaraan penting di Paris pada 2015 dan akan berlangsung selama 12 hari di Skotlandia. Pertemuan tersebut dipandang sebagai langkah penting dalam menetapkan target emisi di seluruh dunia untuk memperlambat pemanasan global.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Marise Payne mengatakan, pemerintah Australia akan sangat terwakili di tingkat senior, bahkan jika Morrison tidak menghadiri KTT tersebut.

Pemerintahan Morrison telah menyarankan agar Australia mencapai emisi karbon nol bersih sesegera mungkin dan sebaiknya dilakukan pada 2050. Tetapi pemerintah belum membuat komitmen untuk melakukannya.

20-30 Tahun ke Depan

PM Scott Morrison  mengatakan kepada surat kabar bahwa dirinya berusaha  membawa pemerintah dan negara bersama-sama dalam komitmen, agar memberikan kepastian untuk 20-30 tahun ke depan.

Dia telah melakukan negosiasi yang sulit untuk menetapkan target nol bersih dalam koalisi konservatif pemerintah, aliansi Partai Liberal dan Partai Nasional, yang memiliki banyak basis dukungan di masyarakat perdesaan dan pertambangan.

Ilmuwan iklim memperingatkan cuaca ekstrem dan kebakaran hebat akan semakin sering terjadi akibat pemanasan global, disebabkan ulah manusia.

Para pemerhati lingkungan berpendapat, kelambanan tindakan terhadap perubahan iklim dapat merugikan ekonomi Australia hingga miliaran dolar AS, karena negara itu menderita kebakaran hutan, badai, dan banjir yang lebih intens.

"Saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami akan memiliki rencana," tegas Morrison ketika ditanya apakah akan berkomitmen pada target iklim tertentu, dalam wawancara terpisah dengan surat kabar The Australian.

PM Scott Morrison   mengatakan kepada surat kabar itu bahwa posisi Australia sebagai pengekspor energi utama di wilayah Asia-Pasifik akan berubah. Penting pula untuk melakukan transisi menuju ekonomi rendah emisi.

Tetapi  Morrison   menambahkan bahwa perubahan itu harus dikelola agar segalanya tetap berjalan. "Semuanya tetap terbuka, hal-hal terus digali  untuk waktu yang cukup lama, Anda harus terus membuat barang-barang, Anda harus terus makan, dan dunia membutuhkan makanan," tandas dia. (afp)
 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN