Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dua ilmuwan Amerika Serikat (AS) peraih Hadiah Nobel bidang Kesehatan 2021: Profesor Scripps Research di California, Ardem Patapoutian (kiri) dan Profesor University of California di San Francisco, David Julius. ( Foto: NOAH BERGER, Handout / Scripps Research / UCSF / AFP )

Dua ilmuwan Amerika Serikat (AS) peraih Hadiah Nobel bidang Kesehatan 2021: Profesor Scripps Research di California, Ardem Patapoutian (kiri) dan Profesor University of California di San Francisco, David Julius. ( Foto: NOAH BERGER, Handout / Scripps Research / UCSF / AFP )

Duo Ilmuwan AS Sabet Hadiah Nobel Kesehatan

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:51 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

STOCKHOLM, investor.id – Dua ilmuwan Amerika Serikat (AS), David Julius dan Ardem Patapoutian, pada Senin (4/10) menyabet Hadiah Nobel bidang Kesehatan atas penemuan reseptor suhu dan sentuhan. Hasil penelitian dari keduanya ini digunakan untuk mengembangkan perawatan terhadap berbagai penyakit dan kondisi, termasuk nyeri kronis.

Menurut laporan mengingat pandemi virus corona Covid-19 maka seperti pada 2020, para pemenang Hadiah Nobel tahun ini akan menerima penghargaannya di negara asal mereka. Sebagai pemenang Nobel di bidang yang sama maka Julius dan Patapoutian bakal berbagi cek hadiah sebesar 10 juta kronor Swedia (US$ 1,1 juta).

“Penemuan-penemuan inovatif oleh para pemenang Hadiah Nobel tahun ini telah memungkinkan kita untuk memahami bagaimana panas, dingin, dan kekuatan mekanik dapat memulai impuls saraf yang memungkinkan kita untuk merasakan dan beradaptasi dengan dunia,” ujar juri Komite Nobel, yang dilansir AFP.

Komite Nobel menjelaskan bahwa kemampuan kita untuk merasakan panas, dingin dan sentuhan sangat penting untuk kelangsungan hidup, dan mendukung interaksi kita dengan dunia di sekitar kita.

“Dalam kehidupan sehari-hari kita menerima sensasi ini begitu saja, tetapi bagaimana impuls saraf dimulai sehingga suhu dan tekanan dapat dirasakan? Pertanyaan ini telah dipecahkan oleh peraih Hadiah Nobel tahun ini. Sebelum penemuan mereka, pemahaman kita tentang bagaimana sistem saraf merasakan, dan menafsirkan lingkungan kita masih mengandung pertanyaan mendasar yang belum terpecahkan: bagaimana suhu dan rangsangan mekanis diubah menjadi impuls listrik dalam sistem saraf,” ungkap Komite Nobel.

Sementara itu, Julius – yang pada 2019 memenangkan Hadiah Terobosan (Breakthrough Prize) senilai US$ 3 juta di bidang ilmu kehidupan – mengaku terkejut ketika menerima telepon dari Komite Nobel Senin pagi.

“Seseorang tidak pernah benar-benar mengharapkan itu terjadi. Saya pikir itu adalah lelucon,” katanya kepada Radio Swedia.

Sedangkan Yayasan Nobel mengunggah foto Patapoutian didampingi putranya, Luca, setelah mendengar kabar bahagia itu.

Sekretaris Komite Nobel, Thomas Perlmann (kanan) berdiri di samping layar yang memperlihatkan  pemenang Hadiah Nobel bidang Fisiologi atau Kedokteran 2021, David Julius (kiri) dan Ardem Patapoutian, selama konferensi pers di Institut Karolinska di Stockholm, Swedia, pada 4 Oktober 2021.  ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )
Sekretaris Komite Nobel, Thomas Perlmann (kanan) berdiri di samping layar yang memperlihatkan pemenang Hadiah Nobel bidang Fisiologi atau Kedokteran 2021, David Julius (kiri) dan Ardem Patapoutian, selama konferensi pers di Institut Karolinska di Stockholm, Swedia, pada 4 Oktober 2021. ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )

Riset di Toko Grosir

Sebagai informasi, Julius (65 tahun) mendapat pengakuan atas penelitiannya menggunakan capsaicin – yakni senyawa dari cabai yang menyebabkan sensasi terbakar – untuk mengidentifikasi sensor saraf di kulit yang merespons panas. Profesor di University of California di San Francisco itu mengungkapkan kepada Scientific American pada 2019, bahwa idenya didapat ketika mempelajari cabai usai berkunjung ke sebuah toko grosir.

“Saya melihat rak demi rak yang berisi cabai dan ekstrak (saus pedas) dan berpikir, 'Ini adalah masalah yang penting dan menyenangkan untuk dilihat. Saya benar-benar harus serius tentang ini',” tuturnya.

Sementara itu, temuan pelopor Patapoutian – yang seorang profesor di Scripps Research di California – adalah mengidentifikasi golongan sensor saraf yang merespons sentuhan.

Baik Julius dan Patapoutian sendiri tidak termasuk yang diunggulkan dalam spekulasi menjelang pemenang Hadiah Nobel bidang Kesehatan. Penyebabnya, para pelopor teknologi messenger RNA (mRNA), yang membuka jalan bagi vaksin mRNA Covid, dan para peneliti sistem kekebalan secara luas masih difavoritkan.

Sedangkan pemenang tahun lalu dianugerahkan kepada tiga ahli virologi atas penemuan virus Hepatitis C.

Media atau Oposisi Belarus

Musim penyerahan Hadiah Nobel sendiri masih berlajut dengan urutan berikut, Nobel bidang Fisika pada 5 Oktober, bidang Kimia pada 6 Oktober, dan disusul oleh Nobel Sastra yang sangat dinantikan pada 7 Oktober, serta Nobel Perdamaian pada 8 Oktober. Ada pun sebagai penutup adalah pengumuman Hadiah Nobel bidang Ekonomi pada 11 Oktober.

Terkait Hadiah Nobel Perdamaian, pengawas media seperti Reporters Without Borders dan Committee to Protect Journalists digadang-gadang sebagai pemenangnya, seperti halnya oposisi Belarusia yang dipelopori oleh Svetlana Tikhanovskaya. Termasuk dalam kandidat Nobel Perdamaian adalah juru kampanye iklim, seperti Greta Thunberg dari Swedia dan gerakan Fridays for Future-nya.

Sementara itu untuk Penghargaan Sastra, kalangan sastra di Stockholm, Swedia dihebohkan dengan nama-nama puluhan calon dari kalangan biasa.

Menurut catatan, Akademi Swedia hanya memilih pemenang dari Eropa dan Amerika Utara sejak 2012. Namun spekulasi meningkat ketika Mo Yan dari Tiongkok menang penghargaan sehingga mendorong untuk memperbaiki ketidakseimbangan itu di tahun ini. Tercatat sebanyak 95 dari 117 peraih sastra berasal dari Eropa dan Amerika Utara.

Deretan nama peraih Nobel masih dirahasiakan hingga menit terakhir, tetapi Yayasan Nobel telah mengumumkan bahwa pelaksanaan upacara dan perjamuan berhadiah yang diadakan di Stockholm pada Desember mendatang, khusus para pemenang bidang ilmu pengetahuan dan sastra tidak akan digelar lagi karena pandemi.

Seperti tahun lalu, para pemenang akan menerima penghargaan mereka di negara asal mereka. Sedangkan, keputusan tentang upacara Hadiah Perdamaian mewah yang diadakan di Oslo pada hari yang sama belum ditetapkan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN