Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Antrean kendaraan di untuk mengisi BBM di SPBU Tesco, di Camberley, sebelah barat London, Inggris pada 26 September 2021. ( Foto: ADRIAN DENNIS / AFP )

Antrean kendaraan di untuk mengisi BBM di SPBU Tesco, di Camberley, sebelah barat London, Inggris pada 26 September 2021. ( Foto: ADRIAN DENNIS / AFP )

Pengusaha Inggris Kritik Strategi Ekonomi PM Johnson

Jumat, 8 Oktober 2021 | 06:24 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Para pemimpin perusahaan di Inggris pada Kamis (7/10) melontarkan kritik terhadap strategi ekonomi Perdana Menteri (PM) Boris Johnson, karena tidak memiliki rencana untuk menangani krisis kekurangan tenaga kerja. Apalagi, setelah ia meminta para pengusaha untuk membayar upah pekerja yang lebih tinggi.

Dalam pidato di hadapan anggota Konservatif berkuasa pada Rabu (6/10), Johnson berkomitmen untuk mengubah Inggris dari negara yang bergantung pada tenaga kerja asing yang murah. Tetapi ia juga mengakui, masa-masa sulit sedang terbentang di depan sebagai akibatnya.

Banyak yang melemparkan kesalahan pada berakhirnya pergerakan orang yang bebas dan aturan imigrasi yang lebih ketat pasca-Brexit.

Rak-rak di pasar swalayan pun sekarang banyak yang kosong. Hal ini diperburuk oleh panic buying masyarakat yang mengkhawatirkan kekurangan pengemudi truk tanki menjadi penyebab keringnya stasiun-stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di seluruh Inggris sejak pekan lalu.

Masalah rantai pasokan diprediksi meningkat karena kurangnya pengemudi truk. Sedangkan sektor-sektor lain, mulai dari perhotelan hingga ritel juga mengeluhkan kekurangan pekerja musiman, mengingat kebanyakan dari pekerja sebelumnya berasal dari negara-negara Uni Eropa (UE).

Para pemimpin bisnis mengatakan bahwa Johnson telah secara tidak adil menyalahkan mereka atas upah rendah, dan bahwa strateginya dapat menyebabkan kekurangan dan inflasi yang tinggi.

“Tudingan sedang diarahkan pada pebisnis sebagai momok, tetapi ini jauh lebih luas. Kami ingin membayar orang-orang kami sebanyak mungkin, tetapi bisnis bukanlah ibarat spons tanpa akhir yang dapat terus menyerap biaya dalam sekali jalan. Tahun depan kita akan menghadapi gelombang biaya yang lebih tinggi dari tagihan energi yang lebih tinggi, yakni pengendara truk HGV (kendaraan barang berat) ekstra, biaya pengemasan. Kita hanya bisa mengatasi begitu banyak kenaikan biaya sekaligus,” demikian penjelasan Richard Walker, direktur pelaksana anggaran rantai pasar swalayan Islandia kepada surat kabar Times, yang dikutip AFP.

Rencana Kecil

Sementara itu, Federasi Usaha Kecil mengatakan bahwa sekarang Partai Buruh yang memiliki rencana bisnis kecil.

“Melihat musim konferensi partai ini, ada satu partai dari keduanya yang mengeluarkan kebijakan pro-usaha kecil. Pemerintah harus melihat itu dan melakukan 'Yah, mungkin kita telah mengambil kelompok ini sedikit untuk diberikan'. Jadi sekarang, apa tawaran usaha kecil itu'?” kata Craig Beaumont dari federasi kepada Times Radio.

Sebagai informasi, Johnson sudah sejak lama mendukung pajak rendah dan pasar bebas. Tetapi pidatonya pada Rabu, yang mengusulkan kenaikan pajak untuk menangani “meteorit” virus corona dapat memukul keuangan publik. Bahkan, hal ini telah menyebabkan gesekan di kalangan Konservatif di mana beberapa percaya bahwa pajak rendah diperlukan untuk memulai pemulihan.

Lembaga riset pasar bebas Adam Smith Institute, menyebut pidato itu bombastis tetapi hampa dan buta huruf secara ekonomi.

Sementara itu, lembaga riset konservatif Bright Blue mengatakan publik akan bosan dengan retorika Johnson, jika kekurangan terus berlanjut.

“Masyarakat akan segera bosan dengan kelakar Boris jika pemerintah tidak mengatasi krisis yang meningkat: kenaikan harga, kenaikan pajak, kekurangan bahan bakar, kekurangan tenaga kerja. Tidak ada yang baru dalam pidato ini, tidak ada visi atau kebijakan baru yang menginspirasi,” tutur Direktur Bright Blue, Ryan Shorthouse, kepada Guardian.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN