Menu
Sign in
@ Contact
Search
Gedung bank sentral Tiongkok, Peoples Bank of China (PBoC) di Beijing. ( Foto: Giulia Marchi / Bloomberg )

Gedung bank sentral Tiongkok, Peoples Bank of China (PBoC) di Beijing. ( Foto: Giulia Marchi / Bloomberg )

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Melambat

Selasa, 19 Oktober 2021 | 01:36 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

BEIJING, investor.id - Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat lebih dari yang diharapkan pada kuartal III-2021. Produk domestik bruto (PDB) Tiongkok hanya tumbuh 4,9%. Penurunan tersebut sebagian besar sebagai dampak tindakan keras terhadap sektor properti dan ancaman krisis energi yang mulai menggigit.

Data resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS) menyebutkan, setelah berhasil menangani virus corona secara cepat, pemulihan ekonomi terbesar kedua di dunia itu kehilangan tenaga pertumbuhan.  PDB Tiongkok tumbuh 4,9% tahun ini.

Angka tersebut sedikit meleset dari hasil survei  AFP terhadap kalangan analis sebesar 5,0%, atau turun tajam hingga tiga persentase poin dari kinerja April-Juni 2021.

"Ketidakpastian lingkungan internasional saat ini meningkat. Pemulihan ekonomi domestik juga belum stabil dan tidak merata," kata Juru bicara NBS, Fu Linghui di Beijing, Senin (18/10).

Menurut Fu Linghui, ekonomi Tiongkok hanya tumbuh 0,2% pada kuartal III-2021 dibanding kuartal sebelumnya. Itu merupakan pertumbuhan terlemah sejak kontraksi bersejarah pada kuartal I-2020.

"Pertumbuhan terseret oleh perlambatan di (sektor) real estat, diperkuat baru-baru ini oleh dampak masalah keuangan Evergrande," jelas Kepala Ekonomi Asia Oxford Economics, Louis Kuijs.

Kasus Evergrande  

Raksasa properti Tiongkok, Evergrande, kini tenggelam dalam utang lebih dari US$ 300 miliar, memukul sentimen di antara calon pembeli. Peraturan pemerintah yang ketat terhadap sektor real estat, khususnya pengetatan aturan pinjaman, telah memberikan pukulan telak terhadap pendorong penting pertumbuhan ekonomi. Ini memberi efek lanjutan kepada industri lain, termasuk sektor konstruksi.

Investor sekarang mengawasi perkembangan Evergrande dengan penuh khawatir karena hal itu bisa berdampak pada ekonomi yang lebih luas.

Bank sentral Tiongkok (PBoC) pada akhir pekan lalu meyakinkan bahwa setiap kejatuhan sektor keuangan akan dapat dikendalikan. Namun, Gubernur PboC, Yi Gang mengatakan, pihak berwenang sedang mengawasi masalah seperti risiko gagal bayar. 

"Ini terjadi akibat salah urus dan ekspansi berbahaya (di beberapa perusahaan)," kata dia. Namun, Yi Gang menegaskan, PDB Tiongkok diperkirakan masih tumbuh sekitar 8% sepanjang tahun.

Sebagai tanda pelemahan yang sedang berlangsung di pasar properti, nilai penjualan rumah anjlok 16,9% sejak awal tahun hingga bulan lalu, menyusul penurunan sebesar 19,7% pada Agustus 2021.

Louis Kuijs juga mencatat adanya pukulan tambahan pada September 2021 setelah Tiongkok mengalami kekurangan pasokan listrik dan pengurangan produksi. Kodisi itu terjadi akibat penerapan yang ketat pada target iklim dan keamanan oleh pemerintah daerah.

Kerusakan tambahan terlihat pada output industri yang lebih lemah sehingga melambat menjadi 3,1% dalam setahun. "PDB kuartal III yang lemah mencerminkan kombinasi faktor negatif," kata Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia-Pasifik di IHS Markit.

Sentimen Investor Runtuh

Sementara itu, analis Fidelity International mengatakan, tekanan di sektor properti menjadi pusat guncangan ekonomi di Negeri Tirai Bambu. Guncangan itu diperburuk oleh krisis listrik, penguncian regional, dan strategi nol kasus Covid-19 yang memukul sektor jasa dan pendapatan siap dibelanjakan (pendapatan disposabel).

"Satu-satunya kejutan dalam angka PDB Tiongkok yang dipublikasikan adalah bahwa angka tersebut tidak lebih rendah," ujar Paras Anand, kepala investasi Asia-Pasifik Fidelity. Dia menambahkan, langkah-langkah pengetatan kemungkinan telah mencapai puncaknya untuk saat ini.

Kepala Ekonomi Asia Oxford Economics, Louis Kuijs percaya bahwa meskipun kekurangan listrik dan pengurangan produksi dikendalikan pada kuartal IV-201, penurunan real estat yang tertunda akan terus membebani pertumbuhan ekonomi Tiongkok secara substansial.

Namun ada titik terang, di mana penjualan ritel naik 4,4% dari 2,5% pada Agustus 2021 akibat pelonggaran mobilitas masyarakat di negara itu.

Di sisi lain, tingkat pengangguran perkotaan di Tiongkok turun sedikit ke level 4,9%. “Pembatasan pada bisnis les privat juga bisa memukul pekerjaan kerah putih,” tandas ekonom ING, Iris Pang.

Dia memperingatkan bahwa mantan staf mungkin akan menerima pekerjaan baru dengan upah lebih rendah, yang pada gilirannya bakal menekan pengeluaran.

Para pejabat khawatir pengangguran dapat menyebabkan kerusuhan sosial setelah mencapai level tertinggi dalam lima tahun pada Februari tahun lalu.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com