Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana gedung Evergrande Center di Shanghai, Tiongkok, pada 22 September 2021. ( Foto: HECTOR RETAMAL / AFP )

Suasana gedung Evergrande Center di Shanghai, Tiongkok, pada 22 September 2021. ( Foto: HECTOR RETAMAL / AFP )

Evergrande Mulai Bayar Bunga Obligasi Global

Jumat, 22 Oktober 2021 | 20:54 WIB
Grace El Dora

BEIJING, investor.id - Raksasa properti bermasalah Tiongkok Evergrande telah melakukan pembayaran bunga untuk pinjaman luar negeri utama, sehari jelang akhir pekan tenggat waktu. Pengumuman ini disampaikan oleh media pemerintah pada Jumat (22/10), mencegah gagal bayar dan memberi penangguhan sanksi bagi perusahaan.

Krisis di salah satu pengembang properti terbesar di negara itu telah memukul sentimen investor, mengguncang pasar real estat utama, dan memicu kekhawatiran dampak menjalar ke ekonomi yang lebih luas. Evergrande dilaporkan telah kehilangan setidaknya US$ 150 juta dalam pembayaran obligasi luar negeri. Sementara itu perusahaan masih memiliki masa tenggang 30 hari pada beberapa utang. Sejumlah pihak menilai perusahaan tidak akan dapat memenuhi sebagian kewajibannya.

Namun pada Jumat, media Securities Times yang didukung negara mengatakan pengembang telah melakukan transfer US$ 83,5 juta untuk  pembayaran luar negeri yang jatuh tempo pada 23 September. Media tersebut mengutip sumber yang dikatakan relevan.

Pemegang obligasi, katanya, akan menerima pembayaran sebelum Sabtu (23/10) yang adalah akhir masa tenggang. Berita itu muncul hanya sehari setelah perusahaan mengatakan rencana divestasi unit bisnis layanan properti seharga US$ 2,58 miliar gagal mencapai kesepakatan. Perusahaan juga memperingatkan tidak dapat menjamin dapat memenuhi kewajiban utangnya, sehingga menempatkan perusahaan di jalur gagal bayar dan kemungkinan restrukturisasi.

Kekhawatiran tentang kegagalan Evergrande telah mengguncang pasar. Saham di perusahaan telah runtuh lebih dari 80% sejak awal tahun, meski sempat naik lebih dari 4% pada perdagangan Jumat di Hong Kong.

Tetapi para pengamat memperingatkan perusahaan itu masih tertatih-tatih, dengan beberapa pembayaran obligasi dalam mata uang dolar lainnya masih harus dinavigasi sebelum akhir tahun.

"Mereka mungkin dapat membayar bunga ini dan mungkin mereka dapat membayar bunga lain. Pada dasarnya mereka memiliki pembayaran bunga setiap dua minggu atau lebih, tetapi pada titik tertentu … akan ada sejumlah (pinjaman) pokok jatuh tempo, dan itu bernilai miliaran," kata Chen Long dari firma riset Plenum kepada AFP, Jumat (22/10). "Jika Anda melihat fundamental perusahaan, itu tidak berubah," tambahnya.

Aturan Ketat

Pemerintah Tiongkok mulai tahun lalu menekan sektor properti kolosal negara itu, yang menurut perkiraan berkontribusi untuk seperempat ekonomi Tiongkok. Aturan ketat diterapkan dalam upaya mengendalikan utang yang berlebihan, dengan langkah-langkah untuk membatasi pinjaman sehingga memotong kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan proyek.

Sementara masalah keuangan Evergrande terlihat paling menonjol, langkah pemerintah telah memukul beberapa pengembang properti lain. Sinic dan Fantasia juga berada di antara sejumlah perusahaan yang gagal melakukan pembayaran utang.

Para pemimpin Tiongkok bersikeras bahwa dampak apa pun dapat diatasi. Tetapi krisis tersebut telah memicu kemarahan publik yang jarang terjadi dan protes dari para pembeli rumah, pemasok, hingga investor yang cemas.

Namun analis kredit Lucr Analytics di Singapura Chuanyi Zhou mengatakan berita terbaru akan memberikan dorongan singkat ke pasar, tetapi pemerintah Tiongkok diperkirakan tidak akan untuk turun tangan untuk menopang perusahaan. "Berdasarkan informasi baru-baru ini dari regulator, tampaknya pemerintah sementara ingin Evergrande memenuhi kewajibannya, tidak mungkin memberikan dukungan apa pun," ujarnya.

Pihak berwenang dilaporkan telah meminta pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi potensi kebangkrutan Evergrande. Sementara analis mengatakan pihak berwenang telah mengambil kendali atas beberapa proyek real estat perusahaan tersebut.

"Dari perspektif makro, apakah Evergrande yang sekarat bertahan atau tidak sama sekali tidak penting. Yang penting adalah siapa yang menanggung kewajiban apa, atau tidak (menanggung kewajiban)," ujar Leland Miller, CEO perusahaan analisis data Tiongkok Beige Book. "Sudah cukup jelas sejak awal bahwa lebih banyak rasa sakit akan datang," tukasnya. (afp/eld)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN