Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

Tentang Pengumuman Tapering dan Laporan Upah

Pasar akan Fokus ke The Fed dan Depnaker AS

Senin, 1 November 2021 | 05:57 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id - The Federal Reserve (The Fed) pada rapat kebijakan 1-2 November 2021 ini diperkirakan luas mengumumkan dimulainya tapering pembelian obligasi besar-besaran di masa pandemi Covid-19. Hal ini akan menjadi pertanda bahwa ekonomi AS sudah semakin maju, setelah terpuruk karena pandemi tersebut.

Untuk melonggarkan kredit di saat perekonomian AS berjuang mengatasi dampak pandemi, The Fed membeli sedikitnya US$ 80 miliar obligasi pemerintah AS setiap bulan dan setidaknya US$ 40 miliar sekuritas berbasis hipotek juga setiap bulannya.

Konsensus yang berkembang di kalangan analis selama ini adalah pembelian obligasi senilai total setidaknya US$ 120 per bulan itu akan dikurangi US$ 15 per bulan. Namun dimulainya ada yang mengatakan bulan ini juga, ada yang mengatakan mulai Desember 2021.

Gubernur The Fed Jerome Powell sebelumnya mengatakan, stimulus ini akan diakhiri pada pertengahan tahun depan. Detail tentang berapa besar pengurangannya, komposisinya, dan waktu pastinya kapan dimulai masih harus ditunggu hingga konferensi pers Powell pada Kamis (4/11) dini hari WIB.

Ekonomi AS tidak diragukan lagi sudah menunjukkan kemajuan dari keterpurukan tersebut. Namun hal itu diiringi oleh lonjakan inflasi, yang terus naik sepanjang tahun ini. Hingga sebagian ekonom mengatakan bahwa kebijakan dana murah dari The Fed itu sebaiknya lebih cepat diakhiri. Termasuk dengan menaikkan suku bunga acuan lebih cepat.

Powell dapat dipastikan membahas hal itu dalam konferensi persnya. Ia juga diperkirakan memberikan penjelasan terbaru dari The Fed tentang kondisi terkini perekonomian AS.

“Saya pikir akan menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sekian tahun jika (The Fed) tidak tapering. Karena belakangan ini mereka sudah segamblang apa yang kita dapat harapkan dari The Fed tentang arah kebijakannya ke depan,” ujar Michael Feroli, kepala ekonom JP Morgan, seperti dikutip AFP akhir pekan lalu.

Inflasi

Pengendalian laju inflasi selalu menjadi salah satu prioritas utama The Fed. Tingginya laju inflasi AS di tahun ini menjadi ujian besar bagi The Fed, apakah akan terus mempertahankan suku bunga acuan di kisaran nol persen saat ini, hingga sasaran bank sentral lainnya, yaitu penyerapan penuh lapangan kerja, sudah dianggap terpenuhi.

Ujian terbaru tentang inflasi itu pada Jumat pekan lalu. Departemen Perdagangan mengumumkan bahwa indikator inflasi yang dijadikan tolok ukur oleh The Fed- naik 4,4% pada September 2021 dibandingkan tahun sebelumnya.

Powell juga akan membahas data-data ekonomi terbaru yang sudah keluar. Termasuk bahwa laju pertumbuhan ekonomi tahunan di kuartal tiga melambat jadi 2% dari sebelumnya 6,7% karena dampak varian Delta virus Covid-19. Juga penambahan lapangan kerja baru September yang hanya 194.000.

Laporan baru tentang pasar tenaga kerja baru itu akan keluar pada Jumat (5/11). Jadi, hasil rapat kebijakan The Fed akan menjadi fokus perhatian utama pasar pekan ini. Dan yang kedua adalah laporan pasar tenaga kerja. Hal ini dikatakan oleh ekonom Wells Fargo Michael Schumacher, seperti dilansir CNBC.

Tim ekonom Wells Fargo memperkirakan lapangan kerja baru bertambah 390.000 sepanjang Oktober 2021. Dan rata-rata upah per jam naik 0,4%. Oleh karena inflasi menjadi sumber kekhawatiran terbesar di pasar saat ini, Schumacher mengatakan data upah akan menjadi sorotan utama.

Suku Bunga

Dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) sebelumnya, Powell terjepit antara kubu yang menginginkan suku bunga acuan dinaikkan lebih cepat dan kubu yang menyebut suku bunga nol persen masih dibutuhkan oleh perekonomian.

“Akan ada perdebatan internal. Kubu hawkish akan menginginkan ada ruang kenaikan jika inflasi tidak juga turun. Sedangkan kubu dovish akan mengatakan masih ada ruang untuk menunggu dan melihat lagi perkembangan ke depan,” tutur Steve Englander, kepala strategi makro Standard Chartered untuk Amerika Utara, kepada AFP.

Namun kondisi ekonomi AS, berdasarkan data-data terbaru tersebut, biasanya menunjukkan masih membutuhkan kebijakan moneter longgar. Namun para anggota FOMC tidak dapat memalingkan pandangan dari fakta-fakta tentang kenaikan harga-harga.

Pada rapat kebijakan September 2021, FOMC memperkirakan satu kali penaikan suku bunga di tahun depan. Dan tiga kali pada 2023. Tapi pada Juni 2021, mereka memprediksikan tidak ada kenaikan sampai 2023.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN