Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: AFP / Saul Loeb )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: AFP / Saul Loeb )

The Fed Kurangi Stimulus dan Tetapkan Arah Baru Kebijakan

Kamis, 4 November 2021 | 05:59 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id) ,Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

NEW YORK, investor.id – Ketika The Federal Reserve (The Fed) menyelesaikan pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu (3/11) siang waktu setempat, dan hasilnya lebih dari sekadar mengurangi stimulus ekonomi. Bank sentral Amerika Serikat (AS) ini juga akan menetapkan arah baru kebijakan pasca-pandemi Covid-19.

Konsensus yang berkembang di pasar adalah Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) dijadwalkan mengumumkan pengurangan pembelian obligasi bulanan atau tapering. Kemungkinan dimulai sebelum November tahun ini berakhir.

Dengan melakukan hal tersebut, The Fed secara bertahap akan mengakhiri jumlah bantuan ekonomi bersejarah dalam perekonomian AS. Dan memasuki rezim baru yang mana The Fed masih akan menggunakan instrumen-instrumennya di level yang lebih rendah.

Meskipun sudah mengomunikasikan dengan baik rencana tapering obligasi sebesar US$ 120 miliar per bulan itu, tetap ada risiko bagi The Fed dalam mengomunikasikan langkah lanjutan setelah pengumuman tapering.

Jika terlalu banyak berbicara tentang pengurangan, investor akan menjadi gugup karena menduga kenaikan suku bunga akan segera terjadi. Bila meremehkan arah kebijakan, pasar bisa berpikir bahwa The Fed mengabaikan ancaman inflasi. Ada risiko-risiko, baik antara terlalu banyak optimistis dan terlalu banyak pesimistis yang harus dihindari oleh FOMC dan Gubernur The Fed Jerome Powell.

“Hanya ada kemungkinan hasil yang sangat luas. Mereka harus gesit dan responsif. Saya khawatir pasar akan berpikir bahwa mereka berada di jalur yang stabil untuk menurunkan pembelian, dan kemudian mulai menaikkan suku bunga ketika mereka mungkin tidak melakukannya. Mereka mungkin harus bertindak lebih cepat, mereka mungkin harus membesarkannya lebih lambat,” ujar Bill English, mantan penasihat senior The Fed, yang sekarang menjadi profesor di Yale School of Management, yang dikutip CNBC.

Seperti yang terjadi saat pasar bertaruh bahwa kenaikan tingkat suku bunga pertama akan terjadi pada Juni 2022, kemudian disusul oleh setidaknya satu – dan mungkin lebih dari dua – sebelum tahun ini berakhir. Dalam proyeksi terbaru mereka, anggota FOMC mengindikasikan kemungkinan kecil untuk memulai kenaikan tingkat suku bunga pertama di tahun depan.

Sedangkan bagi Powell, gelaran konferensi pers usai pertemuan FOMC harus menjadi kesempatan untuk menekankan bahwa The Fed tidak berada di jalur yang telah ditentukan di kedua arah.

“Dia perlu mencatat bahwa ada risiko di kedua sisi. Tentu saja, ada risiko bahwa inflasi yang kita lihat terbukti lebih persisten dari yang mereka harapkan. Saya ingin mendengarnya mengatakan ada risiko penurunan. Kebijakan fiskal sangat ketat,” kata English.

Memang, saat The Fed mulai menarik kembali bantuan kebijakan moneternya, Kongres memberikan bantuan lebih sedikit dari pihaknya setelah menggelontorkan lebih dari US$ 5 triliun selama krisis Covid di AS.

Sementara itu anggaran belanja fiskal bertambah hampir 7,9% untuk ekonomi AS guna mengawali kegiatan 2021. Namun penambahan ini sepertinya telah berubah menjadi hambatan dan akan membuatnya diturunkan hampir 3,8% pada pertengahan 2022.

Inflasi dan Suku Bunga

Tetapi pertanyaan yang lebih sulit dihadapi FOMC adalah apa yang harus dilakukan untuk merespons kenaikan harga-harga dan kapan akan menerapkan kebijakan baru.

Ketika pandemi dimulai, The Fed memangkas suku bunga acuan menjadi nol dan mulai membeli US$ 80 miliar per bulan dalam obligasi Treasury pemerintah dan setidaknya US$ 40 miliar dalam sekuritas yang didukung sekuritas berbasis hipotek (MBS).

Langkah-langkah itu, bersama dengan program kredit lainnya dan bantuan federal besar-besaran, telah membantu ekonomi AS bangkit kembali lebih cepat dari kebanyakan.

Tetapi kesuksesan itu telah memicu lonjakan permintaan konsumen yang sulit dipenuhi oleh perusahaan di tengah kekurangan tenaga kerja dan hambatan pasokan global. Kondisi ini menyebabkan inflasi melonjak lebih dari dua kali lipat dari target 2% The Fed.

Powell menyebut tekanan inflasi baru-baru ini akan berlangsung sementara dan mengatakan keadaan ini akan menghilang, begitu dampak pandemi pada rantai pasokan terselesaikan.

Tetapi karena ukuran inflasi pilihan The Fed mencapai 4,4% selama 12 bulan yang berakhir pada September 2021, tekanan tampaknya berlangsung lebih lama dari yang diantisipasi. Kemungkinan ini meningkatkan kekhawatiran atas tindakan yang harus diambil oleh bank sentral.

Kathy Bostjancic dari Oxford Economics memperkirakan kenaikan pertama suku bunga acuan terjadi pada Desember 2022. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN