Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

Powell Ditaksir Lebih Agresif Melawan Inflasi

Rabu, 24 November 2021 | 05:59 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id – Para investor bertaruh bahwa The Federal Reserve (The Fed) di bawah masa jabatan kedua Gubernur Jerome Powell perlu lebih gencar menormalkan kebijakan moneter guna menghadapi lonjakan harga-harga konsumen.

Powell selama berbulan-bulan tetap berkeras bahwa inflasi saat ini hanya bersifat sementara. Dia mengatakan, The Fed bakal bersabar dalam memutuskan kapan harus mulai menaikkan tingkat suku bunga acuannya dari hampir nol.

Bank sentral AS itu pun telah memulai program pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan pada November, dan berencana mengakhiri pembelian pada pertengahan 2022.

Namun beberapa investor percaya bahwa The Fed perlu melakukan pengurangan atau tapering lebih cepat dan menaikkan tingkat suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan guna meredam lonjakan harga konsumen, yang tumbuh pada kecepatan tercepat dalam lebih dari tiga dekade pada Oktober.

Pandangan mereka semakin diperkuat melalui debat publik baru-baru ini, antara beberapa pejabat Fed tentang apakah akan menarik dukungan ekonomi lebih cepat demi membantu menjinakkan laju inflasi.

Salah satu barometer ekspektasi kebijakan moneter investor, yakni instrumen keuangan pada federal funds rate (FFR) pada Senin (22/11) sore waktu setempat telah memperkirakan peluang 100% bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga pada Juli, dari 92% pada pekan lalu.

Sebelumnya, kabar pencalonan Powell pada Senin turut mendorong imbal hasil obligasi berjangka pendek – yang biasanya lebih sensitif terhadap pandangan suku bunga – ke level tertinggi sejak awal 2020. Powell sendiri secara luas dipandang lebih hawkish daripada anggota dewan Gubernur The Fed Lael Brainard, yang juga ikut bursa pencalonan.

“Para investor menantang The Fed sampai batas tertentu, dan menjadi lebih khawatir bahwa Fed tertinggal dari kurva inflasi,” ujar Mike Sewell, manajer portofolio di T. Rowe Price, yang dikutip Reuters.

Sewell – yang membeli obligasi jangka pendek dan dolar AS – bertaruh bahwa The Fed perlu menaikkan suku bunga acuan tiga kali pada tahun depan untuk menjinakkan laju inflasi. Bahkan grafik bank sentral, yang dirilis pada September, menunjukkan setengah dari para pembuat kebijakan memprediksi kenaikan satu kali suku bunga acuan pada tahun depan.

Di sisi lain, para analis di Jefferies menulis mengenai kenaikan dalam imbal hasil obligasi, yang bergerak terbalik terhadap harga.

“Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa prospek kenaikan suku bunga pada Juni 2022 telah meningkat secara signifikan, mendukung pencalonan kembali Powell, meskipun bank sentral AS meyakini kenaikan suku bunga pada Juni kemungkinan tidak terjadi,” katanya pada Senin.

Taruhan pada obligasi dengan tanggal jatuh tempo yang lebih pendek juga menarik Gary Cloud, manajer portofolio dari Hennessy Equity and Income Fund.

“Kami berada di era yang belum pernah dilihat investor sebelumnya, karena Anda memiliki ketidakpastian yang signifikan mengenai apakah Fed akan bertindak tepat waktu untuk mencegah inflasi melonjak lebih tinggi,” ujar dia.

Volatilitas Obligasi

Adanya perbedaan pandangan mengenai seberapa agresif The Fed akan bergerak ikut membantu menggerakkan volatilitas di pasar obligasi. reasury. Di mana ICE Bank of America MOVE Index, yang menunjukkan ekspektasi volatilitas di pasar obligasi, berada di dekat level tertinggi sejak April 2020.

Ekspektasi inflasi pada Senin dilaporkan turun tipis, dengan penurunan tingkat inflasi impas 5 dan 10 tahun ke level terendah dalam sekitar dua pekan.

Sementara itu, seruan agar The Fed menormalkan kebijakan moneter secara lebih agresif kini datang dari beberapa pembuat kebijakan di dalam bank sentral itu sendiri, sehingga semakin memperkuat pandangan banyak investor.

Sebelumnya, Wakil Ketua The Fed Richard Clarida pada awal bulan ini berkata: “Diskusi tentang meningkatkan laju di mana kita mengurangi neraca kita akan menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan untuk pertemuan The Fed berikutnya.”

Sedangkan anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller meminta The Fed untuk melipatgandakan penghentian pembelian obligasi, yang selesai pada April 2022 untuk memberi jalan kemungkinan kenaikan suku bunga pada kuartal kedua.

Ada pun Powell, pada bagiannya, menyatakan bahwa inflasi kemungkinan akan mereda karena rantai pasokan yang tersendat dan berkontribusi pada harga yang lebih tinggi pada akhirnya mereda. Terdapat beberapa indikasi bahwa gangguan terburuk mulai berkurang, di mana biaya pengiriman kargo dilaporkan turun sepertiga selama sebulan terakhir dan harga komoditas, seperti bijih besi dan kayu merosot.

Namun, yang lain bersikeras bahwa tingkat inflasi mengarah lebih tinggi. Semisal pada Adam Abbas, manajer portofolio dan co-head pendapatan tetap di Harris Associates – yang membeli obligasi perusahaan seperti hotel – yang menyebut mungkin lebih baik menangkis dampak inflasi yang lebih tinggi dengan menaikkan harga.

Sementara itu Donald Ellenberger, manajer portofolio senior di Federated Hermes, memperkirakan volatilitas pasar obligasi bakal bertahan karena inflasi terbukti lebih sulit daripada yang diduga The Fed. Dia pun berencana fokus pada obligasi dengan tempo lebih pendek sampai 10 tahun yang naik menjadi 2,5% atau lebih tinggi, yang dianggap tepat mengingat inflasi.

“Selama bertahun-tahun pasar obligasi cukup sepi dan suku bunga tidak banyak bergerak. Sekarang pasar tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan dengan fakta bahwa inflasi bertahan lebih lama dari yang diharapkan,” ujar Ellenberger.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN