Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berpidato dalam jumpa pers Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada 2 November 2021. ( Foto: BRENDAN SMIALOWSKI / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berpidato dalam jumpa pers Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada 2 November 2021. ( Foto: BRENDAN SMIALOWSKI / AFP )

Biden Perintahkan Pelepasan Cadangan Minyak 50 Juta Barel

Rabu, 24 November 2021 | 06:26 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Joe Biden pada Selasa (23/11) memerintahkan pelepasan 50 juta barel minyak dari cadangan strategis Amerika Serikat (AS), dalam sebuah upaya terkoordinasi dengan negara-negara lain untuk menekan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Pelepasan ini akan dilakukan secara paralel dengan negara-negara konsumen energi utama lainnya termasuk Tiongkok, India, Jepang, Republik Korea dan Inggris,” ujar Gedung Putih, yang dikutip AFP.

Menurut seorang pejabat administrasi senior, langkah seperti ini merupakan kali pertama dilakukan AS secara paralel dengan negara-negara lain. Hal tersebut dilakukan karena dunia sedang berusaha keluar dari pandemi Covid-19 dan karantina (lockdown) berikutnya, serta produksi minyak yang tidak mengimbangi permintaan meroket dan mendorong harga naik.

Di AS, kenaikan harga BBM yang terkait, adalah salah satu penyebab utama lonjakan inflasi.

Pengumuman Biden itu datang di saat penduduk Amerika bersiap menikmati musim liburan, di mana aktivitas perjalanan bakal mengalami peningkatan.

Menurut angka terbaru dari asosiasi kendaraan AAA, rerata harga BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mencapai US$ 3,41 per galon, level tertinggi sejak 2014. Catatan ini menunjukkan peningkatan US$ 1,29 per galon dibandingkan harga bensin setahun yang lalu.

Sebagai informasi cadangan AS yang tersimpan gudang-gundang bawah tanah di Texas dan Louisiana, adalah pasokan darurat minyak terbesar di dunia.

Seorang pejabat senior administrasi mengungkapkan bahwa pelepasan dimulai pada pertengahan hingga akhir Desember. Kemungkinan ada intervensi lebih lanjut untuk menstabilkan pasar dan merespons pandemi sekali dalam satu abad.

“Seperti yang dikatakan presiden, konsumen sekarang menghadapi kerugian di SPBU. Presiden siap untuk mengambil tindakan tambahan jika diperlukan, dan siap menggunakan otoritas penuhnya, bekerja dalam koordinasi dengan seluruh dunia guna menjaga pasokan yang memadai saat kita keluar dari pandemi,” kata pejabat itu.

Ketika produksi meningkat, harga minyak sudah turun hampir 10% dalam beberapa pekan terakhir. Namun para pejabat menggemakan kekhawatiran Biden yang berulang kali menyatakan, meskipun ada penurunan nilai minyak mentah, harga BBM untuk kendaraan masih naik.

Di sisi lain, keputusan tersebut telah melukai penduduk biasa di Amerika dan mendorong penurunan tajam dalam peringkat persetujuan Biden. “Ada semakin banyak bukti, bahwa penurunan harga minyak dan biaya input lain ke dalam BBM tidak menyebabkan harga lebih rendah di SPBU,” tutur pejabat senior itu.

Dia menambahkan, pemerintah sedang mengupayakan praktik-praktik anti-persaingan dan akan memeriksa apakah tindakan-tindakan ilegal di SPBU telah merugikan keluarga.

Pendekatan yang dilakukan ada dua arah, pertama untuk memastikan bahwa, “Anda tahu, harga minyak turun, yang mencerminkan fakta bahwa kita harus memiliki pasokan yang sesuai dengan permintaan, tetapi juga memastikan bahwa penghematan itu diteruskan ke konsumen. Kami berharap industri memberikan penghematan kepada konsumen secepat mungkin,” demikian penjelasan yang disampaikan pejabat AS.

Pertemuan OPEC+

Pejabat itu mengatakan, pelepasan cadangan minyak strategis AS akan berupa penjualan pinjaman kepada perusahaan. Yang mana nantinya harus mengembalikan minyak mentah di kemudian hari dan ini merupakan pertama kalinya AS mengoordinasikan pelepasan dengan beberapa konsumen minyak terbesar dunia.

Negara-negara OPEC+, termasuk sekutu AS di Teluk, diprediksi melakukan pertemuan lagi pada 2 Desember untuk membahas kebijakan tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan taktik untuk mengindahkan seruan AS. Demikian dilansir Reuters.

Upaya luar biasa Negeri Paman Sam untuk bekerja sama dengan negara-negara berkekuatan ekonomi besar di Asia guna menurunkan harga energi telah mengirimkan peringatan kepada OPEC, dan produsen besar lainnya bahwa mereka perlu mengatasi kekhawatiran tentang harga minyak mentah yang tinggi, yang sepanjang tahun ini naik lebih dari 50%.

Sumber di OPEC+ menyampaikan, pelepasan cadangan minyak bakal memperumit perhitungan OPEC+, yang memantau pasar setiap bulan.

Menteri Energi Uni Emirat Arab (UEA), Suhail Al-Mazrouei mengatakan pada Selasa pagi, bahwa dia melihat hal tidak masuk akal dalam meningkatkan pasokan UEA ke pasar global.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN