Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal (Dirjen) Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), Rafael Mariano Grossi. ( Foto: JOE KLAMAR / AFP )

Direktur Jenderal (Dirjen) Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), Rafael Mariano Grossi. ( Foto: JOE KLAMAR / AFP )

Jelang Negosiasi Nuklir, IAEA Cari Titik Temu dengan Iran

Rabu, 24 November 2021 | 06:47 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

TEHERAN, investor.id – Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) menyampaikan pada Selasa (23/11) sedang mencari titik temu dengan Iran. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) IAEA, Rafael Grossi beberapa hari setelah muncul laporan bahwa negara Republik Islam itu memperkaya persediaan uranium secara tajam.

Menurut laporan, Grossi melakukan pembicaraan dengan para pejabat di Teheran menjelang negosiasi pekan depan yang bertujuan menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran 2015.

Lawatannya ke Teheran karena IAEA mengatakan Iran meningkatkan persediaan uranium berkali-kali lipat melebihi batas yang ditetapkan dalam perjanjian penting itu.

“Pekerjaan kami sudah berlangsung intens sejak pagi. Kami melanjutkan negosiasi pada titik ini dengan maksud untuk menemukan titik temu. Ada masalah lain yang sedang kami kerjakan dan sangat penting untuk menempatkan hal ini dalam perspektif program nuklir damai Iran. Kami melipatgandakan upaya kami dengan tujuan menyelesaikan pertukaran kami hari ini,” ujar Grossi pada konferensi pers bersama di Teheran dengan Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, yang dikutip AFP.

Dalam pernyataan singkatnya, Organisasi Energi Atom Iran menyatakan sedang membangun kerangka kerja yang jelas untuk kerja sama antara IAEA, dan badan tersebut adalah salah satu topik utama diskusi.

Pembicaraan itu dilakukan menjelang dilanjutkannya kembali negosiasi pada Senin (29/11) antara Iran dan kekuatan dunia yang bertujuan menyelamatkan kesepakatan 2015, juga memberikan keringanan sanksi terhadap Iran dengan imbalan pembatasan pada program nuklirnya.

Pada 12 November, Grossi menjelaskan keterkejutannya atas minim kontak dengan Pemerintah baru Iran yang dipimpin Presiden ultrakonservatif Ebrahim Raisi.

Beberapa hari kemudian, Iran menanggapi dengan mengumumkan telah mengundang kepala pengawas untuk berkunjung. Namun tidak disebutkan tentang kunjungan Grossi di surat kabar ultrakonservatif Iran pada Selasa.

Tuntutan Cabut Sanksi

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh menyatakan harapan pada Senin (22/11) bahwa kunjungan tersebut berpotensi membangun. “Kami selalu menyarankan IAEA untuk tetap berada di jalur kerja sama teknis, dan tidak membiarkan negara-negara tertentu mengejar orientasi politik mereka atas nama IAEA,” katanya.

Iran disebut mulai melonggarkan komitmennya berdasarkan kesepakatan pada 2019, setahun setelah presiden saat itu Donald Trump secara sepihak menarik Amerika Serikat dari perjanjian itu, dan mulai menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan.

Sementara itu, penerus Trump, Joe Biden ingin membawa AS kembali ke dalam perjanjian, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Di sisi lain, Iran menuntut agar semua sanksi yang dijatuhkan atau diterapkan kembali padanya oleh AS sejak 2017 dicabut.

Dalam laporan IAEA pada Rabu, otoritas Iran diklaim telah meningkatkan persediaan uranium yang sangat diperkaya menjadi 2.489,7 kilogram. “Jumlah total sekarang termasuk 113,8 kg yang diperkaya hingga 20%, naik dari 84,3 kg pada September; dan 17,7 kg yang diperkaya hingga 60%, naik dari 10 kg,” katanya.

Amerika Serikat kemudian memperingatkan, bahwa Iran mencapai titik tidak bisa kembali untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir.

“Akan tiba waktunya jika Iran melanjutkan langkah ini (pengayaan uranium) dengan kemajuan yang telah mereka buat. Akan mustahil bahkan jika kita akan kembali ke JCPOA untuk mendapatkan kembali manfaatnya,” tutur Utusan AS untuk Iran, Robert Malley, pada Jumat (19/11).

Ada pun proses negosiasi 29 November akan diadakan di Wina, Austria – tempat IAEA berkantor pusat. Pihak-pihak yang tersisa dalam kesepakatan, yakni Inggris, Tiongkok, Prancis, Jerman dan Rusia akan bergabung dalam pembicaraan, sementara Amerika Serikat akan berpartisipasi secara tidak langsung.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN