Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). ( Foto: AFP/File )

Logo Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). ( Foto: AFP/File )

Pertemuan OPEC+ Dibayangi Tekanan Biden dan Omicron

Selasa, 30 November 2021 | 12:24 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan para sekutu, yang tergabung dalam OPEC+ dijadwalkan melakukan pertemuan pada 2 Desember 2021. Pertemuan ini digelar di bawah tekanan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, yang telah melepaskan cadangan minyak strategisnya dengan harapan dapat menurunkan harga minyak mentah global, juga varian baru Covid-19 Omicron yang semakin mempersulit upaya mencapai persamaan.

“Pertemuan itu akan menjadi salah satu yang paling signifikan sejak pemulihan permintaan pandemi dimulai, dan sinyal utamanya adalah berapa banyak lagi minyak yang akan ditambahkan ke pasokan untuk memulai tahun baru,” ujar Peter McNally, analis di lembaga riset (think tank) Third Bridge, yang dikutip AFP pada Selasa (30/11).

Setelah mendapat tekanan berat untuk meningkatkan produksi, pada pekan lalu AS, Tiongkok, India dan Jepang mengumumkan akan memasukkan cadangan strategis mereka guna membantu menurunkan harga minyak mentah, pasca lonjakan harga yang telah mengacaukan pemulihan ekonomi.

Sementara itu, Biden menyebutnya sebagai inisiatif utama. Para analis memperkirakan ada suntikan antara 65 dan 80 juta barel, termasuk 50 juta dari Amerika Serikat. Tetapi langkah ini tidak memiliki efek yang diinginkan, karena harga tetap naik, diikuti penurunan harga yang disebabkan oleh munculnya varian baru Covid-19 Omicron .

Deteksi varian baru pada Kamis (25/11) menyebabkan harga minyak mentah anjlok lebih dari 10%, di mana ini jadi yang pertama sejak penurunan mengerikan pada April 2020.

Carsten Fritsch dari Commerzbank mengatakan, banyak hal yang menunjukkan bahwa OPEC+ pada awalnya tidak akan meningkatkan produksi minyaknya lebih jauh dalam upaya mempertahankan harga saat ini di kisaran US$ 70 per barel.

Keputusan seperti itu sesuai dengan pendekatan hati-hati yang terlihat sejak negara-negara anggota OPEC+ perlahan-lahan mulai menaikkan pasokan.

Pada Oktober, Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman memperingatkan untuk tidak berpuas diri.

Awal bulan ini, OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) pada Desember, meskipun ada ruang untuk bermanuver 10 kali lebih besar.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN