Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang migran membawa anak-anaknya setelah dibantu turun dari sekoci RNLI (Royal National Lifeboat Institution), di sebuah pantai di Dungeness, pantai tenggara Inggris, pada 24 November 2021, setelah diselamatkan saat melintasi Selat Inggris (Channel). ( Foto: Ben Stansall / AFP )

Seorang migran membawa anak-anaknya setelah dibantu turun dari sekoci RNLI (Royal National Lifeboat Institution), di sebuah pantai di Dungeness, pantai tenggara Inggris, pada 24 November 2021, setelah diselamatkan saat melintasi Selat Inggris (Channel). ( Foto: Ben Stansall / AFP )

27 Migran Tewas, Prancis dan Inggris Saling Lempar Kesalahan

Jumat, 26 November 2021 | 07:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

CALAIS, investor.id – Pemerintah Prancis dan Inggris saling lempar kesalahan terkait insiden yang menyebabkan 27 orang meninggal dunia saat mencoba menyeberangi Selat Inggris (Channel) dengan perahu karet. Ini adalah kecelakaan terburuk dari sejenisnya yang pernah tercatat di jalur perairan, yang memisahkan kedua negara.

Selain hubungan kedua negara yang penuh ketegangan selama bertahun-tahun terkait Brexit dan imigrasi, sebagian besar fokus tampaknya tertuju pada siapa yang harus memikul tanggung jawab. Bahkan jika kedua belah pihak berjanji untuk bekerja sama menemukan solusi bersama.

“Ada manajemen imigrasi yang buruk (di Inggris),” ujar Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin kepada radio RTL, yang dilansir Reuters.

Dia juga menyerukan negara-negara Eropa lainnya, di mana para migran kerap menyeberang dalam perjalanan mereka ke pantai Prancis dan kemudian Inggris, supaya berbuat lebih banyak untuk membantu.

“Ini merupakan masalah internasional. Kami memberi tahu teman-teman Belgia, Jerman, dan Inggris kami bahwa mereka harus membantu kami memerangi para penyelundup (traffickers) yang bekerja di tingkat internasional. Seorang penyelundup yang ditangkap semalam telah membeli perahu di Jerman,” kata Darmanin.

Sementara itu, rekannya Menteri Negara urusan Dalam Negeri Inggris, Priti Patel mengatakan bakal melakukan pembicaraan dengan Darmanin. Hal ini disampaikan, beberapa jam setelah Perdana Menteri Boris Johnson menyalahkan Prancis, dengan mengatakan: “Kami mengalami kesulitan membujuk beberapa mitra kami, terutama Prancis, untuk melakukan sesuatu dengan cara yang kami pikir situasinya layak.”

Sedangkan para relawan penyelamat dan kelompok hak asasi mengungkapkan, bencana tenggelamnya 27 migran diperkirakan terjadi karena penyelundup dan migran mengambil lebih banyak risiko untuk menghindari kehadiran polisi yang semakin meningkat.

“Hanya menuding para penyelundup berarti menyembunyikan tanggung jawab otoritas Prancis dan Inggris,” tutur Lembawa Swadaya Masyarakat (LSM), Auberge de Migrants.

Auberge de Migrants dan LSM lain menuding minimnya rute migrasi legal dan peningkatan keamanan di jalur kereta api bawah laut, Eurotunnel, yang telah mendorong para migran untuk mencoba melakukan penyeberangan laut yang berbahaya.

Selat Inggris tersebut adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, di mana arusnya kuat, airnya dingin, dan perahu-perahu sering kelebihan muatan.

“Ini adalah tragedi yang kami takuti, yang diharapkan, kami telah membunyikan tanda bahaya. Para penyelundup semakin sembrono, kriminal, meluncurkan di laut orang-orang tak bersalah yang malang yang ingin mencapai Inggris dengan segala cara tanpa mengetahui laut,” kata Bernard Barron, kepala SNSM wilayah Calais, sebuah kelompok sukarelawan yang menyelamatkan orang-orang di laut.

Keamanan

Di sisi lain, Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengadakan pertemuan krisis pada Kamis pagi, ketika pihak berwenang mengumumkan bahwa total lima tersangka penyelundup manusia telah ditangkap sehubungan dengan bencana tersebut.

Inggris pun kembali menawarkan patroli gabungan Inggris-Prancis di lepas pantai Prancis dekat Calais – di mana Inggris dapat terlihat jelas saat hari yang cerah dan sebagian besar migran memilih turun ke perairan.

Otoritas Prancis sebelumnya menolak seruan tersebut, dan tidak diketahui secara pasti apakah akan berubah pikiran lima bulan sebelum pemilihan presiden di mana migrasi dan keamanan menjadi topik utama.

Sedangkan Inggris, di masa lalu telah mengancam akan memangkas bantuan keuangan untuk kepolisian perbatasan Prancis jika gagal membendung arus.

“Kami siap menawarkan dukungan di lapangan, kami siap menawarkan sumber daya. Kami siap menawarkan, secara harfiah, orang-orang untuk pergi ke sana dan membantu dan membantu pihak berwenang Prancis. Kami jelas: kami tidak hanya melihat ini sebagai masalah yang perlu ditangani Prancis, tetapi kami ingin bekerja sama dengan Prancis dan mitra Eropa kami yang lebih luas untuk mematahkan model bisnis geng-geng ini,” ujar Menteri Imigrasi Inggris Kevin Foster kepada BBC TV.

Mendapatkan kembali kendali atas perbatasan Inggris adalah simbol bagi para juru kampanye Brexit menjelang referendum 2016 tentang keanggotaan UE.

Wartawan Reuters sempat menyaksikan satu kelompok migran muncul dari bukit pasir dekat Calais sebelum menaiki perahu karet. Mereka terlihat mendarat beberapa jam kemudian di Dungeness, Inggris selatan.

Sebelum bencana pada Rabu (24/11), 14 orang dilaporkan tenggelam pada tahun ini dalam upaya mencapai Inggris. Lalu pada 2020, tujuh orang meninggal dunia dan dua orang hilang, sedangkan pada 2019 empat orang dinyatakan meninggal.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN