Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Powell Pertimbangkan Percepat Jadwal Tapering

Kamis, 2 Desember 2021 | 06:01 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id) ,Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id – Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell pada Selasa (30/11) mengatakan, bahwa akan tepat bagi bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk mempertimbangkan menyelesaikan tapering atau pengurangan pembelian obligasi skala besar lebih cepat, berdasarkan kekuatan ekonomi dan tingkat inflasi yang tinggi.

The Fed dilaporkan telah memulai tapering-nya pada awal bulan ini dan mengumumkan jadwal pengurangan, yang akan diselesaikan sekitar pertengahan tahun. Tetapi diperkirkan luas mereka bakal meninjau kembali kerangka waktunya dalam pertemuan dua pekan mendatang pada Desember.

Powell juga memberikan indikasi bahwa The Fed dapat meningkatkan upaya-upayanya untuk mendongkrak perekonomian. Hal ini dilakukan guna memerangi tekanan inflasi yang meningkat.

Di hadapan Komite Senat Perbankan (Senate Banking Committee), Powell berkata sedang memikirkan cara supaya tapering supaya dapat bergerak lebih cepat dari jadwal pembelian obligasi US$ 15 miliar per bulan yang diumumkan awal bulan ini.

“Pada titik ini, ekonomi sangat kuat dan tekanan inflasi lebih tinggi. Dan oleh karena itu, menurut pandangan saya, mempertimbangkan untuk menyelesaikan tapering pembelian aset kami, yang sebenarnya kami umumkan pada pertemuan November, mungkin beberapa bulan lebih awal, adalah hal yang tepat. Saya berharap kita akan membahas itu pada pertemuan kita yang akan datang,” demikian penjelasan Powell yang dilansir AFP.

Jadwal tapering awal akan membuat pembelian obligasi selesai sekitar Juni. Apabila komite memilih untuk mempercepat, berarti terjadi penutupan lebih awal di musim semi dan memberi kelonggaran bagi Thee Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga kapan saja sesudahnya.

Di sisi lain, komentar yang dilontarkan Powell memicu kejatuhan saham dan menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah. Pernyataannya telah menambah kekhawatiran pasar, yang sudah gelisah dengan kemunculan varian baru Covid, meskipun indikasi awal varian baru ini diklaim menimbulkan gejala lebih ringan daripada versi sebelumnya.

Menurut Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC), setelah pertemuan November, kecepatan pembelian akan dikurangi sebesar US$ 15 miliar per bulan – yakni US$ 10 miliar dalam obligasi dan US$ 5 miliar dalam sekuritas yang didukung hipotek (mortgage-backed securities/MBS).

Tetapi pernyataan pasca-pertemuan tersebut mengindikasikan, hal itu akan terjadi pada November dan Desember. Tercatat bahwa pihaknya siap untuk menyesuaikan laju pembelian jika dijamin oleh perubahan dalam prospek ekonomi.

Berdasarkan risalah pertemuan FOMC, kesiapan anggota komite tidak hanya untuk memangkas pembelian aset, juga mulai menaikkan suku bunga jika inflasi terus berlanjut.

Sebagai informasi, The Fed telah membeli setidaknya US$ 120 miliar per bulan – yakni sebesar US$ 80 miliar obligasi dan US$ 40 miliar di MBS.

Ekonomi Menguat

Powell mengatakan pembelian obligasi itu telah menambahkan US$ 4,5 triliun ke dalam neraca The Fed menjadi US$ 8,73 triliun. Tambahan ini telah mendukung kegiatan ekonomi, namun kemajuan ekonomi telah menghilangkan urgensi dari program, yang sering disebut sebagai quantitative easing (QE).

“Kebutuhan untuk itu jelas berkurang karena ekonomi terus menguat, seperti yang kita lihat berlanjutnya tekanan inflasi yang signifikan. Dan itulah mengapa kami mengumumkan bahwa kami akan mengurangi, dan itulah mengapa kami sekarang mengatakan bahwa kami akan membahas sedikit lebih cepat pada pertemuan kami berikutnya,” kata Powell.

Ia memang tidak menunjukkan berapa banyak tapering akan dipercepat. Tapi para ekonom dari Citigroup mengatakan, The Fed dapat menggandakan pengurangannya menjadi US$ 30 miliar per bulan.

Powell sendiri telah menekankan, tapering tidak boleh dipandang sebagai indikasi bahwa akan segera terjadi kenaikan tingkat suku bunga.

Namun, pasar saat ini telah memprediksi setidaknya ada dua kali kenaikan seperempat poin persentase pada 2022 dan mungkin sepertiga pada Desember. Sedangkan proyeksi September dari para pejabat The Fed menunjukkan jadwal yang kurang agresif, belum lagi proyeksi ini akan diperbarui pada Desember.

Sejak pertemuan FOMC November, poin data tambahan menunjukkan inflasi melaju pada kecepatan tertinggi dalam lebih dari 30 tahun.

Dalam pertemuan dengan Komite Perbankan, Perumahan, dan Urusan Perkotaan Senat; Powell mendapat banyak pertanyaan tentang inflasi dan penyesuaian kebijakan apa yang sedang dipertimbangkan The Fed untuk menangani masalah ini.

Para pejabat The Fed sudah lama menyatakan bahwa laju inflasi saat ini bersifat “sementara”. Kata “sementara” muncul dalam pernyataan pasca-pertemuan pada bulan November, meskipun gubernur The Fed mengatakan itu mungkin tidak berguna lagi.

“Kata sementara memiliki arti yang berbeda untuk orang yang berbeda. Bagi banyak orang kondisi itu berumur pendek. Kami cenderung menggunakannya untuk mengartikan bahwa itu tidak akan meninggalkan bekas permanen dalam bentuk inflasi yang lebih tinggi. Saya pikir mungkin ini saat yang tepat untuk menghentikan kata itu, dan mencoba menjelaskan lebih jelas apa yang kami maksud,” ungkap Powell.

Dia berjanji The Fed akan waspada dalam mengendalikan inflasi. “Anda telah melihat kebijakan kami beradaptasi dan Anda akan melihatnya terus beradaptasi. Kami akan menggunakan alat kami untuk memastikan bahwa inflasi yang lebih tinggi tidak mengakar,” tambahnya. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN