Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terpampang di pintu masuk kantor pusatnya di Jenewa, Swiss. Foto: Fabrice COFFRINI / AFP

Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terpampang di pintu masuk kantor pusatnya di Jenewa, Swiss. Foto: Fabrice COFFRINI / AFP

WHO: Covid-19 Masih Belum Bisa Dianggap Endemik seperti Flu

Rabu, 12 Januari 2022 | 22:20 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

KOPENHAGEN, investor,id - Varian Omicron dari Covid-19 terus menginfeksi Eropa, diperkirakan separuh dari penduduk wilayah tersebut dapat terinfeksi. Tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pandemi ini seharusnya belum dapat dilihat sebagai penyakit endemik seperti flu.

Eropa mencatat lebih dari tujuh juta kasus baru yang dilaporkan pada minggu pertama 2022, naik lebih dari dua kali lipat selama periode dua minggu, menurut Direktur WHO Eropa Hans Kluge.

"Pada tingkat ini, Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan memperkirakan bahwa lebih dari 50% populasi di wilayah tersebut akan terinfeksi Omicron dalam 6-8 minggu ke depan," kata Kluge, merujuk pada pusat penelitian di University of Washington, Selasa (11/1).

Sebanyak lima puluh dari 53 negara di Eropa dan Asia Tengah telah mencatat kasus varian yang lebih menular, katanya.

Meski demikian, berdasarkan bukti kasus Omicron lebih mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dibandingkan paru-paru, sehingga menyebabkan gejala yang lebih ringan daripada varian sebelumnya.

Tetapi WHO telah memperingatkan lebih banyak penelitian masih diperlukan untuk membuktikan hal ini.

Pada Senin (10/1), Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan mungkin sudah waktunya untuk mengubah cara melacak evolusi Covid-19. Yakni menggunakan metode yang mirip dengan flu, hanya karena tingkat kematian akibat kasus Omicron telah menurun.

Menurutnya memperlakukan Covid-19 seperti flu berarti memperlakukan virus sebagai penyakit endemik, bukan pandemi, tanpa mencatat setiap kasus dan tanpa melakukan tes pada semua orang yang menunjukkan gejala.

Tetapi petugas darurat senior WHO untuk Eropa Catherine Smallwood mengatakan bahwa endemisitas membutuhkan transmisi yang stabil dan dapat diprediksi.

"Kita masih memiliki sejumlah besar ketidakpastian dan virus yang berkembang cukup cepat, memberikan tantangan baru. Kita, tentu saja, tidak berada di titik di mana kita dapat menyebutnya endemik," kata Smallwood pada briefing terbaru WHO.

"Ini mungkin menjadi endemik pada waktunya, tetapi menetapkannya pada 2022 agak sulit pada tahap ini," tegasnya.

Angka Kematian Stabil

Jumlah infeksi Covid-19 baru dalam seminggu terakhir melonjak sekitar 55%, meskipun jumlah kematian tetap stabil, menurut laporan pandemi terbaru WHO.

Dalam laporan mingguan, badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mengatakan ada sekitar 15 juta kasus baru Covid-19 pekan lalu dan lebih dari 43.000 kematian baru. Setiap wilayah dunia melaporkan peningkatan kasus Covid-19 kecuali Afrika, di mana para pejabat melihat penurunan 11%.

Pekan lalu WHO mencatat rekor pandemi tertinggi 9,5 juta infeksi baru dalam satu minggu, menyebutnya sebagai tsunami penyakit.

Lembaga tersebut mengatakan, varian Omicron yang sangat menular terus menjadi pandemi secara global dan sekarang mengesampingkan varian Delta yang sebelumnya dominan.

Dikatakan, Omicron yang pertama kali terdeteksi di Afrika selatan (Afsel) pada akhir November 2021 telah menyumbang hampir 59% dari semua kasus di database virus global terbesar yang tersedia untuk umum.

Menurut WHO Omicron sekarang terbukti memiliki waktu multiplikasi yang lebih pendek. Varian ini dikatakan dapat menembus pertahanan antibodi orang yang sudah menerima vaksinasi. Pihaknya juga mencatat ada banyak penelitian menyatakan kasus Omicron lebih ringan dibandingkan varian sebelumnya.

Afsel sempat mengalami peningkatan tajam jumlah kasus Omicron, setelah varian ini pertama kali terdeteksi. Namun epidemi dengan cepat turun dan para ahli percaya bahwa gelombang tersebut kini telah berlalu. WHO mengatakan minggu ini bahwa setelah peningkatan berkelanjutan, kasus Covid-19 di seluruh Afrika turun minggu ini untuk pertama kalinya. (sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN